Kian Hari, Nelayan Tradisional di Singkawang Terjepit
Singkawang (Suara Kalbar)- Sejumlah nelayan di Kuala Kecamatan Singkawang Barat mengeluhkan kondisi hasil melaut yang saat ini hasilnya jauh berkurang diantaranya masalah cuaca seperti terjadinya hujan dan angin yang sangat kencang.
“Selama empat bulan ini kita terkendala cuaca seperti hujan dan angin yang kencang dan berpengaruh terhadap hasil laut, bahkan kita pun tak berani pergi melaut,” ujar Hamdi (49), satu diantaran nelayan Kuala.
Hamdi mengatakan meskipun cuaca kadangkala tidak menentu, namun ada pula nelayan yang masih pergi melaut karena untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
Bagi nelayan yang tidak melaut, jelas Hamdi, biasanya mereka pindah profesi sementara menjadi buruh harian lepas, namun ketika kondisi laut sudah mulai dirasakan aman, barulah mereka akhirnya pergi melaut.
Lantaran penghasilan menjadi nelayan tradisional saat ini tidak menentu, papar Hamdi, ada juga nelayan yang memang secara tetap pindah profesi bekerja di darat.
Bagi Hamdi, menjadi nelayan adalah mata pencaharian yang tak bisa dilepaskan begitu saja karena sudah sekitar 25 tahun dirinya menjadi seorang nelayan.
Bapak tiga anak dan satu cucu ini mengaku dan bahkan dirasakan semua nelayan tradisional saat ini penghasilan dari pergi melaut yang jauh dirasakan berkurang dibandingkan dulu.
Dia menceritakan keberadaan pukat trawl saat ini juga diduga berperan mengurangi hasil laut karena ikan dan hewan laut lainnya tidak sempat berkembang biak menjadi besar.
“Pukat mereka kan segala jenis ikan baik besar maupun kecil habis terjaring, jadi ikan tak sempat besar, kita nelayan tradisional yang merasakannya,” katanya.
Menurutnya meskipun ada perjanjian batas jarak pukat trawl dengan nelayan tradisional, kadangkala juga masih dilanggar dan nelayan pukat trawl memasuki wilayah nelayan tradisional. “Meskipun ada perjanjian, tapi kan kelemahannya tidak ada penjagaan atau pengawasan,” ungkapnya.






