SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Daerah Sekadau Beroah, Antara Doa dan Tradisi Makan Bersama Setiap Lebaran

Beroah, Antara Doa dan Tradisi Makan Bersama Setiap Lebaran

Doa bersama sebelum menyantap makanan

Sekadau (Suara Kalbar) – Setiap lebaran baik Idul Fitri maupun Idul Adha, beroah selalu dilaksanakan oleh masyarakat Sekadau dengan tujuan berdoa meminta keselamatan untuk orang yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.

Hal ini terlihat dalam setiap doa yang dipanjatkan biasanya tahlil dan doa selamat. Beroah biasanya dilakukan mulai dari hari pertama lebaran hingga hari ketujuh pada setiap Rumah yang berbeda.
“Setiap tahun kita beroah, kalau tidak lebar puasa ya lebar haji ini kayak gini,” ujar Sandi, salah seorang warga Desa Semabi, Sekadau, Kamis (22/7/2021).

Setiap warga yang akan beroah biasanya mengundang keluarga, tetangga serta biasanya mengundang para jamaah yang baru selesai shalat fardhu di masjid atau surau ataupun jamaah yang berkolompok (jamaah yasin misalnya).

Untuk waktu pelaksanaan beroah tidak ada ketetapan pasti, bisa pagi, siang, sore bahkan malam. Sebelum para undangan datang biasa satu orang perwakilan yang punya hajat mangel (mengundang atau memanggil) orang untuk datang ke Rumahnya.

“Orang-orang dipangel lok, cuma sekarang kalau mangel khususnya keluarga sudah enak, bisa pakai hp, tapi kalau para tetangga dekat sini harus kita datangi rumah nya satu persatu,” sebutnya.

Setelah para tamu datang, maka yang punya hajat langsung ngontang (menyajikan) nasi dan lauk dengan talam (nampan) untuk dibacakan doa oleh sesepuh atau orang tua yang biasa membacakan doa. Namun dijaman sekarang, sajian makanan juga ada yang praktis menggunakan prasmanan.

Setelah doa selesai, maka orang yang punya rumah langsung menyilahkan para tamu untuk menyantap makanan yang disajikan. Nah dimomen makan bersama inilah yang selalu membuat ramai suasana. Karena saat berdoa, seluruh yang hadir hikmat seraya menadahkan tangan.

“Kadang makan itu sambil bercerita, karena kalau tidak pas acara beroah gini kan kita jarang ketemu, apalagi makan bersama. Kecuali kalau ada acara tertentu saja. Yang lucu kadang siapa yang telat selesai makan itu dikerjain, nasinya biasa ditambah,” kata Sandi sambil tersenyum.

Dan satu lagi kalau sudah doa, sebelum orang rumah menyilahkan untuk makan biasanya belum boleh makan, etikanya biasanya seperti itu.

Sandi menjelaskan, beroah sebenarnya tidak mesti harus saat lebaran, bisa juga dihari lain tergantung yang punya hajat. Pada intinya beroah adalah berdoa kepada sang pencipta untuk keselamatan bagi yang hidup maupun yang sudah meninggal serta selalu diakhiri dengan makan bersama.

 

 

Komentar
Bagikan:

Iklan