Wagub Kalbar: Nilai Ekspor Kalbar di Februari 2021 Meningkat, Capai 17,68 Persen
![]() |
| Wakil Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan saat Webinar Internasional “Menggali Potensi Ekonomi Tiongkok-Kalimantan Barat Pasca Pandemi” diruang Data Analytic Room Kantor Gubernur Kalbar. SUARAKALBAR.CO.ID/Pri |
Pontianak (Suara Kalbar) – Nilai ekspor dari Kalimantan Barat pada Februari 2021 mengalami peningkatan dibanding Januari 2021 sebesar 17,68%. Namun nilai ekspor Kalimantan Barat ke Tiongkok sejak Januari-Februari 2021 yaitu 95,19 juta USD menurun dari nilai ekspor pada periode yang sama di tahun 2020 sebesar 97,91 juta USD atau menurun sekitar 2,78%.
Wakil Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan menyampaikan hal tersebut saat Webinar Internasional “Menggali Potensi Ekonomi Tiongkok-Kalimantan Barat Pasca Pandemi” diruang Data Analytic Room Kantor Gubernur Kalbar.
Dijelaskannya 10 besar Jenis Ekspor Kalbar ke Tiongkok yaitu Bijih kerak dan abu logam (bauksit), lemak dan minyak nabati (CPO), Karet dan barang dari karet (SIR 20), Bahan Kimia dan produk terkait (CGA/SGA);Buah-buahan (kelapa bulat), sisa industri makanan (palm kernel), Ikan, Makanan bentuk lainnya, Kayu dan produk kayu (plywood) dan Rempah (lada).
Beberapa kebijakan ekonomi diterapkan Kalimantan Barat yaitu pada bidang pertanian, UMKM, industri, Perdagangan dan pariwisata. Pada bidang pariwisata, Kalimantan Barat membangun desa wisata di 19 desa yang terdiri dari Desa Temajuk, Pisak, Lemukutan, Pentek, Pasir, Saham, Angan Tembawang, Sungai Kupah, Jeruju Besar, Subah, Penyeladi, Pantok, Nanga Pari, Belaban Ella, Sepandan, Laman Satong, Kendawangan Kiri, Gunung Sembilan dan Padang.
Selanjutnya pada bidang pertanian, Kalimantan Barat meningkatkan produksi dan produktivitas hasil perkebunan dan perikanan. Potensi lahan akuakultur laut yang dimiliki seluas 130.468 ha dan baru dimanfaatkan seluas 1 ha, peluang pengembangannya masih sebesar 130.467 ha. Kemudian pada sistem akuakultur tambak, potensi lahan yang dimiliki Kalimantan Barat seluas 74.300 ha dan telah dimanfaatkan seluas 7.723,2 ha.
“Untuk sistem perairan umum, potensi lahan yang ada sekitar 20.048 ha dan hanya dimanfaatkan seluas 19.980,44 ha. Kemudian pada sistem kolam, memiliki potensi seluas 34.864 ha dan baru dimanfaatkan seluas 7.698,16 ha,” tuturnya.
Sesuai dengan Peraturan Gubernur Nomor 28 Tahun 2020 tentang Rencana Umum Pembangunan Perkebunan, jenis komoditi karet memiliki target luas lahan 731.324 ha, kelapa seluas 131.351 ha, kelapa sawit seluas 3.871.085 ha, kakao seluas 32.668 ha, lada seluas 35.953 ha, kopi 29.323 ha dan pengembangan perkebunan lainnya seluas 53.044,81 ha.
Penulis: Pri






