Pendiri Tegaskan Kritik Bukan untuk Menghancurkan UNU Kalbar, tetapi Menjaga Marwah dan Masa Depannya
Kubu Raya (Suara Kalbar) – Pendiri Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat (UNU Kalbar), Jasmin Haris, menegaskan, kritik dan sikap yang disampaikan para pendiri terhadap kondisi internal kampus bukan bertujuan menghancurkan institusi pendidikan tersebut. Sebaliknya, langkah itu merupakan bentuk kepedulian dan tanggung jawab moral untuk menjaga marwah, integritas, serta masa depan universitas.
Penegasan tersebut disampaikan Jasmin Haris dalam pernyataan sikap pendiri UNU Kalbar. Ia menilai, tidak tepat apabila kritik dan kepedulian pendiri terhadap berbagai persoalan kampus justru ditafsirkan sebagai upaya merusak atau melemahkan institusi.
Menurutnya, UNU Kalbar memiliki sejarah panjang yang tidak boleh dilupakan. Perguruan tinggi tersebut lahir dari gagasan, perjuangan, dan komitmen para pendiri yang ingin menghadirkan lembaga pendidikan tinggi bagi masyarakat Kalimantan Barat.
Karena itu, para pendiri memiliki tanggung jawab moral dan historis untuk memastikan universitas tetap berjalan sesuai dengan cita-cita awal pendiriannya.
“Jangan balikkan fakta. Pendiri bukan sedang menghancurkan Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat. Justru pendiri sedang berupaya menjaga apa yang dahulu diperjuangkan, dibangun, dan diwariskan dengan penuh pengorbanan,” tegas Jasmin dalam pernyataan sikapnya yang disampaikan di redaksi Suarakalbar.co.id, Jumat (6/11/2026).
Ia menjelaskan, ketika muncul berbagai persoalan internal, keresahan mahasiswa, keluhan dosen, hingga pertanyaan mengenai tata kelola dan integritas kepemimpinan, penyampaian kritik seharusnya dipandang sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan kampus.
Menurut Jasmin, persoalan tersebut perlu disikapi melalui evaluasi secara objektif dan transparan dengan berpedoman pada statuta universitas serta ketentuan peraturan yang berlaku. Bukan justru menyudutkan pihak-pihak yang menyampaikan aspirasi.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah perguruan tinggi tidak cukup hanya diukur dari keberadaan gedung megah maupun besarnya nama institusi. Lebih dari itu, universitas harus mampu menjaga integritas, marwah akademik, profesionalisme, dan kepercayaan masyarakat.
“Kami tidak ingin UNU Kalbar hanya memiliki gedung megah dan nama besar, tetapi kehilangan integritas, marwah akademik, profesionalisme, serta kepercayaan masyarakat,” ujarnya.
Jasmin menekankan, kepemimpinan perguruan tinggi harus dibangun berdasarkan tanggung jawab, keterbukaan, komunikasi akademik, serta komitmen dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Ia menegaskan, perjuangan para pendiri saat ini bukan untuk memperebutkan kepentingan maupun jabatan tertentu, melainkan memastikan UNU Kalbar tetap berada pada jalur perjuangan dan tujuan awal pembentukannya.
Menurutnya, menjaga keberlangsungan dan kehormatan universitas merupakan tanggung jawab bersama seluruh unsur yang berada di dalam maupun di luar lingkungan kampus.
“Jika ada yang keliru, perbaiki. Jika ada yang menyimpang, evaluasi. Sebab, masa depan UNU Kalbar jauh lebih besar daripada kepentingan dan jabatan siapa pun,” tegasnya.
Melalui pernyataan tersebut, Jasmin berharap seluruh pihak dapat melihat kritik yang disampaikan para pendiri secara proporsional sebagai bagian dari upaya perbaikan kelembagaan. Ia menegaskan, menjaga UNU Kalbar berarti menjaga cita-cita, perjuangan, dan amanah yang telah dibangun sejak awal berdirinya universitas.
Penulis: Tim Liputan






