Demo Mahasiswa UNU Kalbar Dinilai Jadi Sinyal Krisis Kepemimpinan, Integritas Rektor Dipertanyakan
Kubu Raya (Suara Kalbar) – Aksi demonstrasi mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat (UNU Kalbar) pada Rabu (4/11/2026) dinilai menjadi sinyal serius adanya persoalan dalam tata kelola dan kepemimpinan kampus.
Dewan Pendiri UNU Kalbar, Jasmin Haris, menyebut aksi mahasiswa tersebut bukan sekadar luapan kekecewaan, melainkan bentuk kegelisahan terhadap kondisi internal universitas yang perlu mendapat perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan.
Menurut Jasmin, sejumlah persoalan yang disuarakan mahasiswa, mulai dari pemberhentian dosen, minimnya koordinasi akademik, hingga ketidakjelasan perencanaan pengembangan Tri Dharma Perguruan Tinggi, harus dijawab secara terbuka dan bertanggung jawab oleh pihak rektorat.
Ia menegaskan, sebuah perguruan tinggi tidak cukup hanya dipimpin dengan mengandalkan kewenangan jabatan. Kepemimpinan universitas membutuhkan integritas, visi yang jelas, tanggung jawab, serta kemampuan membangun kepercayaan di lingkungan sivitas akademika.
“Ketika kepercayaan mulai terkikis, seorang rektor seharusnya melakukan introspeksi dan evaluasi diri. Jabatan rektor bukan kekuasaan tanpa batas, melainkan amanah yang dibatasi statuta, aturan, etika, dan tanggung jawab moral,” tegas Jasmin saat menghubungi Suarakalbar.co.id pada Rabu malam.
Ia juga menilai, apabila seorang rektor tidak lagi mampu membangun kepercayaan serta menjalankan kepemimpinan sesuai prinsip tata kelola perguruan tinggi yang baik, maka perlu mempertimbangkan langkah mundur secara terhormat.
Menurutnya, pengunduran diri dapat menjadi pilihan yang lebih bermartabat daripada harus menunggu proses pemberhentian atau pelengseran akibat persoalan kepemimpinan yang tidak terselesaikan.
Jasmin menegaskan, UNU Kalbar bukan milik pribadi ataupun panggung kepentingan kelompok tertentu. Universitas tersebut lahir dari perjuangan para pendiri, Nahdlatul Ulama, serta harapan besar masyarakat Kalimantan Barat terhadap kemajuan pendidikan tinggi.
Karena itu, ia mengingatkan agar kepentingan mempertahankan jabatan tidak sampai mengorbankan masa depan institusi yang telah dibangun melalui perjuangan panjang.
“Jangan korbankan masa depan institusi demi mempertahankan jabatan. Jabatan dapat dipertahankan dengan kekuasaan, tetapi kehormatan hanya dapat dijaga dengan integritas,” ujarnya.
Jasmin menyampaikan pandangannya sebagai bagian dari panggilan moral dan tanggung jawabnya sebagai salah seorang pendiri UNU Kalbar. Ia berharap persoalan yang muncul dapat menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola dan arah kepemimpinan universitas.
Ia pun mengajak seluruh pihak untuk mengutamakan kepentingan institusi, menjaga marwah perguruan tinggi, serta mengembalikan kepercayaan mahasiswa, dosen, dan seluruh sivitas akademika.
“Selamatkan UNU Kalbar, sebelum kepercayaan dan marwah institusi semakin terkikis,” pungkasnya.
Sementara itu, Rektor UNU Kalbar, Prof. Dr. Sukino, M.Ag dikonfirmasi Suarakalbar.co.id melalui pesan WhatsApp pada Rabu malam pukul 21.43 Wib tidak ada respon.
Penulis: Tim Liputan
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






