SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Opini Tantangan Domestik Indonesia dan Singapura Menguji Efektivitas Pemerintahan

Tantangan Domestik Indonesia dan Singapura Menguji Efektivitas Pemerintahan

Firdaus

Oleh: Firdaus, S.IP., M.Sos

Pemerintahan tidak cukup dinilai dari pertumbuhan ekonomi, besarnya anggaran, atau banyaknya program yang diumumkan kepada masyarakat. Ukuran yang lebih mendasar adalah kemampuan negara menjawab persoalan rakyat, menghadirkan kebijakan yang tepat, dan memastikan pembangunan memberikan manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Indonesia dan Singapura memperlihatkan dua wajah tantangan domestik yang berbeda. Indonesia masih berhadapan dengan persoalan kualitas lapangan kerja, pemerataan kesejahteraan, dan kemiskinan. Sementara itu, Singapura menghadapi tantangan penuaan penduduk, rendahnya angka kelahiran, serta kebutuhan menjaga keberlanjutan ekonomi dan sistem sosialnya.

Perbedaan tersebut menghadirkan pertanyaan penting bagi kajian politik: sejauh mana pemerintah mampu mengubah kebijakan menjadi penyelesaian masalah publik?

Indonesia: Pertumbuhan Harus Dirasakan Masyarakat

Indonesia memiliki potensi ekonomi yang besar. Namun, potensi tersebut perlu diterjemahkan menjadi kesempatan kerja yang layak, pendapatan yang memadai, dan akses terhadap pelayanan publik yang berkualitas.

Badan Pusat Statistik mencatat bahwa tingkat kemiskinan Indonesia pada Maret 2025 sebesar 8,47 persen, atau sekitar 23,85 juta orang. Angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan periode sebelumnya, tetapi jumlah penduduk yang masih hidup di bawah garis kemiskinan tetap menjadi pekerjaan penting bagi pemerintah.

Persoalannya bukan hanya berapa banyak orang yang berhasil keluar dari kemiskinan, melainkan juga seberapa kuat mereka mempertahankan kesejahteraan setelah memperoleh penghasilan. Ketika pekerjaan tidak stabil, pendapatan terbatas, dan perlindungan sosial belum menjangkau semua kelompok secara memadai, masyarakat tetap rentan terhadap perubahan harga dan tekanan ekonomi.

Karena itu, keberhasilan pembangunan tidak seharusnya hanya dibaca melalui angka pertumbuhan ekonomi. Pemerintah perlu menunjukkan bagaimana pertumbuhan tersebut membuka lapangan kerja berkualitas, meningkatkan daya beli, memperluas kesempatan ekonomi, dan mengurangi kesenjangan antarkelompok maupun antarwilayah.

Di sinilah efektivitas pemerintahan Indonesia diuji. Kebijakan yang baik harus memiliki sasaran yang jelas, pelaksanaan yang konsisten, dan hasil yang dapat diukur. Program kesejahteraan juga perlu dievaluasi secara terbuka agar anggaran negara benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

Tantangan lainnya adalah akuntabilitas kekuasaan. Kepercayaan publik tidak dapat dibangun hanya melalui komunikasi politik. Kepercayaan membutuhkan transparansi, pengawasan yang berjalan, serta kesediaan pemerintah menjelaskan hasil dan kekurangan kebijakannya. Pemerintahan yang terbuka terhadap evaluasi memiliki ruang lebih besar untuk memperbaiki kesalahan sebelum persoalan berkembang menjadi masalah yang lebih luas.

Singapura: Tantangan Demografi dan Masa Depan Negara

Singapura menghadapi persoalan yang berbeda. Sebagai negara dengan ekonomi maju dan wilayah yang relatif kecil, Singapura harus mengelola perubahan struktur penduduk yang berpengaruh terhadap tenaga kerja, pelayanan kesehatan, perawatan lansia, dan keberlanjutan sistem sosial.

Data resmi pemerintah Singapura menunjukkan bahwa proporsi penduduk berusia 65 tahun ke atas meningkat dari 17,3 persen pada 2023 menjadi 18,8 persen pada 2025. Angka fertilitas total penduduk residen juga turun menjadi 0,87 pada 2025.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa pembangunan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dengan kesiapan menghadapi perubahan masyarakat dalam jangka panjang.

Penuaan penduduk dapat meningkatkan kebutuhan terhadap layanan kesehatan dan perawatan lansia. Pada saat yang sama, angka kelahiran yang rendah menimbulkan tantangan bagi ketersediaan tenaga kerja dan keseimbangan antargenerasi. Pemerintah perlu memastikan bahwa sistem ekonomi dan sosial mampu beradaptasi tanpa membebani kelompok masyarakat tertentu secara berlebihan.

Namun, rendahnya angka kelahiran tidak dapat dijelaskan hanya melalui satu faktor. Keputusan untuk menikah dan memiliki anak berkaitan dengan kondisi ekonomi, perumahan, pekerjaan, pengasuhan, serta pilihan hidup setiap individu. Karena itu, kebijakan yang mendukung keluarga perlu memperhatikan kebutuhan nyata masyarakat tanpa mengabaikan kebebasan pribadi.

Dalam konteks ini, efektivitas pemerintahan Singapura dapat dilihat dari kemampuannya merencanakan kebijakan jangka panjang, mengantisipasi perubahan demografi, dan menjaga keberlanjutan pelayanan publik.

Dua Negara, Satu Persoalan Mendasar

Indonesia dan Singapura memiliki kondisi yang berbeda, sehingga keduanya tidak tepat dibandingkan hanya berdasarkan satu indikator keberhasilan. Indonesia menghadapi tantangan pemerataan kesejahteraan dalam masyarakat yang besar dan beragam. Singapura menghadapi tantangan demografi dalam struktur ekonomi dan sosial yang berbeda.

Meskipun demikian, keduanya menghadapi persoalan mendasar yang sama: bagaimana memastikan kebijakan publik benar-benar menyelesaikan masalah masyarakat.

Dalam perspektif manajemen politik domestik, pemerintah harus mampu menghubungkan perencanaan, anggaran, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi dalam satu proses yang konsisten. Kebijakan tidak boleh berhenti sebagai dokumen atau pengumuman politik. Kebijakan harus menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan dan diukur.

Indonesia membutuhkan penguatan kebijakan yang menghubungkan pertumbuhan ekonomi dengan pekerjaan berkualitas dan pemerataan kesempatan. Sementara itu, Singapura membutuhkan kesinambungan kebijakan yang mengintegrasikan kebutuhan keluarga, tenaga kerja, perawatan lansia, dan produktivitas ekonomi.

Pelajaran penting dari perbandingan ini bukanlah menyalin kebijakan satu negara ke negara lain. Kebijakan yang berhasil dalam satu konteks belum tentu memberikan hasil serupa ketika diterapkan di tempat berbeda. Perbedaan kapasitas kelembagaan, struktur penduduk, kondisi sosial, dan kemampuan fiskal harus menjadi pertimbangan utama.

Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana pemerintah menentukan prioritas, menggunakan sumber daya secara bertanggung jawab, serta memperbaiki kebijakan berdasarkan data dan pengalaman masyarakat.

Efektivitas Pemerintahan Tidak Boleh Berhenti pada Angka

Dalam politik, keberhasilan pemerintah sering kali dikaitkan dengan pencapaian target dan penyampaian program. Padahal, angka dan program hanyalah bagian dari proses pembangunan. Ukuran yang lebih penting adalah hubungan antara keputusan politik dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.

Ketika angka kemiskinan menurun, pemerintah perlu memastikan bahwa penurunan tersebut disertai perbaikan kualitas hidup yang berkelanjutan. Ketika pertumbuhan ekonomi meningkat, pemerintah perlu menunjukkan bagaimana masyarakat memperoleh kesempatan yang lebih luas. Demikian pula ketika menghadapi penuaan penduduk, pemerintah harus menyiapkan kebijakan yang mampu menjaga kualitas hidup generasi tua sekaligus memperhatikan kebutuhan generasi muda.

Efektivitas pemerintahan juga memerlukan akuntabilitas. Setiap kebijakan menggunakan kewenangan dan sumber daya publik, sehingga pelaksanaannya perlu terbuka terhadap pengawasan. Kritik masyarakat seharusnya menjadi bagian dari evaluasi demokratis, selama disampaikan melalui cara yang bertanggung jawab dan berbasis informasi.

Pemerintah yang efektif bukan berarti pemerintah yang tidak pernah menghadapi masalah. Efektivitas justru terlihat dari kemampuan mengenali masalah, mengambil keputusan berdasarkan bukti, mengoordinasikan lembaga, dan memperbaiki kebijakan ketika hasilnya tidak sesuai dengan tujuan.

Pada akhirnya, tantangan Indonesia dan Singapura menegaskan bahwa kualitas pemerintahan tidak dapat dipisahkan dari kemampuan mengelola perubahan. Indonesia perlu memastikan bahwa pembangunan semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat, sedangkan Singapura perlu menjaga agar perubahan demografi tidak mengganggu keberlanjutan sosial dan ekonomi.

Bagi Indonesia, agenda tersebut membutuhkan konsistensi kebijakan, pemerataan kesempatan, dan penguatan akuntabilitas. Bagi Singapura, agenda tersebut membutuhkan perencanaan jangka panjang dan penyesuaian kebijakan sosial terhadap perubahan struktur penduduk.

Pemerintahan pada akhirnya tidak hanya diuji oleh apa yang dijanjikan, tetapi oleh apa yang berhasil diwujudkan. Ketika kebijakan mampu menjawab kebutuhan masyarakat, kekuasaan memperoleh makna sebagai instrumen pelayanan publik. Sebaliknya, ketika program tidak menyentuh persoalan mendasar, keberhasilan administratif belum tentu berarti keberhasilan dalam memenuhi kepentingan masyarakat.

Di situlah efektivitas pemerintahan menemukan ukuran sesungguhnya: bukan sekadar kemampuan menjalankan kekuasaan, melainkan kemampuan mempertanggungjawabkan kekuasaan melalui hasil yang nyata, adil, dan berkelanjutan.

*Penulis adalah Dosen Ilmu Politik FISIP Universitas Tanjungpura (UNTAN)/Pengamat Politik — Kajian Manajemen Politik Domestik

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play