Pameran Warisan Budaya Tak Benda Digelar di Museum Kapuas Raya Sintang
Sintang (Suara Kalbar) – Wakil Bupati Sintang, Florensius Ronny, membuka Pameran Temporer Warisan Budaya Tak Benda di Museum Kapuas Raya, Jalan Sintang–Putussibau Kilometer 14, Kabupaten Sintang, Senin (12/10/2026).
Pameran yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang tersebut berlangsung selama lima hari, mulai 12 hingga 16 Oktober 2026.
Pembukaan pameran dihadiri tokoh masyarakat Sintang Milton Crosby, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat Juliadi, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang Herkulanus Roni, Ketua AMIDA Kalbar Siti Musrikah, Sekretaris Daerah Kabupaten Sintang Kartiyus, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), kepala organisasi perangkat daerah (OPD), serta tamu undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Florensius Ronny mengatakan kebudayaan merupakan jati diri sekaligus kekayaan yang sangat berharga bagi suatu daerah. Menurutnya, kebudayaan tidak hanya berupa benda-benda yang dapat dilihat dan disimpan di museum, tetapi juga mencakup pengetahuan, tradisi, bahasa, seni, upacara adat, makanan, permainan, keterampilan, serta berbagai praktik budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
“Karena itu, saya sangat mendukung Pameran Temporer Museum Kapuas Raya tahun 2026 yang mengangkat tema Warisan Budaya Tak Benda. Pameran ini menjadi ruang yang penting untuk memperkenalkan, mendokumentasikan, mengedukasi, sekaligus menumbuhkan rasa bangga masyarakat terhadap warisan budaya yang dimiliki Kabupaten Sintang,” kata Florensius Ronny.
Sebanyak 11 Warisan Budaya Tak Benda Sintang Diakui Negara
Florensius menjelaskan, Kabupaten Sintang memiliki kekayaan budaya yang beragam. Sejumlah tradisi dan produk budaya daerah tersebut telah mendapatkan pengakuan melalui penetapan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Pada 2021, tiga warisan budaya Sintang ditetapkan, yakni kain tenun ikat, kledik, dan bekana. Selanjutnya, pada 2022, bedudu ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.
Pada 2023, pengakuan diberikan kepada upacara dalo’, kain tating, dan gawai matah bunga. Kemudian pada 2025, empat warisan budaya lainnya ditetapkan, yaitu ngemai mandi anak ke sungai, betangkan beakuk, gawai ngamik semangat padi, dan tuak pekejang.
“Dengan demikian, Kabupaten Sintang telah memiliki 11 warisan budaya tak benda yang telah ditetapkan dan menjadi bagian penting dari identitas serta kekayaan budaya daerah,” ujarnya.
Ia menegaskan, pengakuan negara terhadap warisan budaya tersebut patut disyukuri dan dibanggakan. Namun, penetapan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia bukanlah akhir dari upaya pelestarian, melainkan awal dari tanggung jawab bersama untuk melindungi, mengembangkan, memanfaatkan, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.
Florensius mengingatkan agar generasi muda tidak hanya mengenal kebudayaan daerah melalui buku atau media sosial, tetapi juga memahami praktik, nilai, dan makna budaya yang masih hidup di tengah masyarakat.
“Jangan sampai generasi muda kita mengenal budaya daerahnya hanya melalui buku atau media sosial, tetapi tidak lagi mengetahui bagaimana budaya tersebut dipraktikkan dan dimaknai oleh masyarakat,” tegasnya.
Ajak Generasi Muda Lestarikan Budaya Daerah
Melalui pameran tersebut, Florensius mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Sintang, terutama generasi muda, untuk terlibat aktif dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya daerah.
Ia berharap masyarakat semakin mengenal dan mencintai kebudayaan lokal serta bangga menjadi bagian dari identitas budaya Kabupaten Sintang.
“Karena itu, saya mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Sintang, khususnya generasi muda, untuk menjadi bagian dari upaya pelestarian kebudayaan. Kenali budayanya, cintai budayanya, pelajari budayanya, dan banggalah menjadi bagian dari budaya Kabupaten Sintang,” katanya.
Ia juga mengapresiasi penyelenggaraan pameran yang tidak hanya menghadirkan materi pameran, tetapi turut dirangkaikan dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi sarana edukasi dan ruang interaksi bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat kekayaan budaya Sintang, sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Penulis: Tim Liputan
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






