Sarapan dengan Gorengan, Apakah Lebih Berbahaya? Ini Kata Penelitian
Suara Kalbar – Gorengan seperti tempe, tahu, bakwan, risol hingga pisang goreng kerap menjadi pilihan sarapan karena mudah ditemukan dan praktis dikonsumsi sebelum beraktivitas.
Namun, kebiasaan menjadikan makanan yang digoreng sebagai menu sarapan perlu dilihat dalam konteks pola makan secara keseluruhan, bukan semata-mata dari waktu konsumsinya.
Sejauh ini, belum ada bukti ilmiah yang cukup untuk menyatakan makanan digoreng otomatis lebih berbahaya jika dikonsumsi saat sarapan dibandingkan pada waktu makan lainnya.
Penelitian yang tersedia justru lebih banyak mengamati hubungan antara frekuensi konsumsi makanan digoreng dengan risiko penyakit kardiovaskular dan berbagai masalah kesehatan dalam jangka panjang.
Sarapan dengan Gorengan Tidak Otomatis Berbahaya
Belum ada dasar ilmiah yang cukup untuk menyimpulkan bahwa mengonsumsi gorengan pada pagi hari secara khusus lebih berbahaya dibandingkan mengonsumsinya pada siang atau malam hari.
Penelitian mengenai makanan digoreng umumnya tidak dirancang untuk membandingkan dampak berdasarkan waktu makan. Fokus penelitian lebih banyak pada seberapa sering seseorang mengonsumsi gorengan dan bagaimana kebiasaan tersebut berkaitan dengan kondisi kesehatan.
Dengan demikian, persoalan utamanya bukan semata-mata apakah gorengan dikonsumsi saat sarapan, melainkan bagaimana pola konsumsi secara keseluruhan.
Gorengan yang sesekali dikonsumsi juga perlu dibedakan dari kebiasaan menjadikannya sebagai menu utama setiap hari.
Studi Menemukan Hubungan dengan Risiko Kardiovaskular
Salah satu bukti yang cukup besar berasal dari meta-analisis berjudul Fried-food consumption and risk of cardiovascular disease and all-cause mortality: a meta-analysis of observational studies yang dilakukan Pei Qin dan sejumlah peneliti.
Studi tersebut dipublikasikan dalam jurnal Heart pada 2021 dan menganalisis sejumlah penelitian observasional untuk melihat hubungan konsumsi makanan digoreng dengan penyakit kardiovaskular serta kematian dari berbagai penyebab.
Ketika kelompok dengan konsumsi gorengan paling tinggi dibandingkan dengan kelompok dengan konsumsi paling rendah, analisis menunjukkan risiko kejadian kardiovaskular mayor sekitar 28 persen lebih tinggi.
Risiko penyakit jantung koroner sekitar 22 persen lebih tinggi, sedangkan risiko gagal jantung sekitar 37 persen lebih tinggi.
Untuk stroke, estimasi juga menunjukkan kecenderungan peningkatan risiko, tetapi hasilnya tidak mencapai tingkat kepastian statistik yang sama.
Sementara itu, meta-analisis tersebut tidak menemukan hubungan yang jelas antara konsumsi gorengan dengan kematian akibat penyakit kardiovaskular maupun kematian dari semua penyebab.
Para peneliti menyimpulkan bahwa konsumsi makanan digoreng mungkin berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan menunjukkan pola dose-response, yakni risiko yang cenderung meningkat seiring bertambahnya konsumsi.
Namun, penelitian tersebut juga mencatat adanya perbedaan yang cukup besar antarstudi serta kemungkinan bias dalam mengingat dan mengelompokkan konsumsi makanan goreng.
Karena itu, angka-angka tersebut tidak dapat diartikan bahwa setiap orang yang makan gorengan otomatis mengalami peningkatan risiko penyakit sebesar persentase tersebut.
Frekuensi Konsumsi Lebih Penting Diperhatikan
Bukti lain berasal dari tinjauan berjudul Fried Food Consumption and Cardiovascular Health: A Review of Current Evidence yang ditulis Taraka V. Gadiraju, Yash Patel, J. Michael Gaziano, dan Luc Djoussé.
Tinjauan tersebut diterbitkan dalam jurnal Nutrients pada 6 Oktober 2015. Peneliti menelaah berbagai bukti mengenai hubungan konsumsi makanan digoreng dengan penyakit kardiovaskular, diabetes, hipertensi, dan obesitas.
Hasil penelitian yang ditinjau tidak selalu konsisten. Sejumlah studi menemukan hubungan antara konsumsi gorengan dan penyakit kronis, sementara penelitian lainnya tidak menemukan hubungan yang sama.
Meski demikian, tinjauan tersebut menyebut adanya bukti mengenai risiko penyakit kronis yang lebih tinggi ketika makanan digoreng dikonsumsi lebih sering, khususnya empat kali atau lebih dalam seminggu.
Peneliti juga menekankan perlunya penelitian lebih lanjut. Sebab, sejumlah studi belum memiliki informasi rinci mengenai jenis minyak yang digunakan, suhu penggorengan, durasi memasak, metode penggorengan, maupun seberapa sering minyak digunakan kembali.
Hal tersebut penting karena karakteristik proses penggorengan dapat memengaruhi kandungan gizi dan senyawa yang terbentuk dalam makanan.
Jadi, Bolehkah Sarapan dengan Gorengan?
Sarapan dengan gorengan tidak otomatis berarti buruk atau berbahaya. Yang perlu diperhatikan adalah seberapa sering gorengan dikonsumsi dan bagaimana komposisi makanan dalam pola makan sehari-hari.
Jika sesekali mengonsumsi tahu, tempe, bakwan atau pisang goreng, hal tersebut perlu dilihat bersama dengan asupan makanan lainnya.
Sebaliknya, jika gorengan hampir selalu menjadi menu sarapan dan dikonsumsi dalam jumlah banyak atau sangat sering, kebiasaan tersebut layak dievaluasi.
Sarapan yang lebih beragam dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi, misalnya dengan mengombinasikan sumber karbohidrat, protein, sayuran atau buah sesuai kebutuhan masing-masing.
Dengan demikian, bukan jam makan yang menjadi persoalan utama. Frekuensi konsumsi, jumlah, cara pengolahan, serta keseluruhan pola makan jauh lebih penting untuk diperhatikan.
Sumber: Beritasatu.com





