SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Otomotif Mobil Listrik China Disorot di Australia, Kekhawatiran Keamanan Data Mengemuka

Mobil Listrik China Disorot di Australia, Kekhawatiran Keamanan Data Mengemuka

Kekhawatiran peretasan dan pelanggaran privasi pada mobil pintar memicu desakan regulasi ketat untuk melindungi data konsumen otomotif di Australia. (Google)

Suara Kalbar – Kekhawatiran terhadap kendaraan listrik dan mobil pintar asal China mulai mencuat di Australia. Sorotan tersebut bukan hanya menyangkut teknologi dan performa kendaraan, tetapi juga keamanan data pengguna yang dikumpulkan melalui sistem kendaraan terhubung (connected vehicles).

Dilansir dari CarExpert, Kamis (24/9/2026), Asosiasi Dealer Otomotif Australia (AADA) mendesak produsen kendaraan dan pemerintah segera memberikan penjelasan yang lebih transparan mengenai cara mobil modern mengumpulkan, menggunakan, dan menyimpan data konsumen.

Kekhawatiran itu muncul seiring meningkatnya pertanyaan calon pembeli mengenai sejauh mana kendaraan dapat memantau aktivitas penggunanya. Sistem kendaraan modern kini dilengkapi berbagai sensor dan perangkat yang mampu mengumpulkan data terkait lokasi, perjalanan hingga aktivitas pengemudi.

CEO AADA James Voortman mengatakan, konsumen berhak mengetahui secara jelas teknologi yang digunakan pada kendaraan yang mereka beli, termasuk bagaimana data pribadi mereka dikelola.

“Konsumen mobil di Australia mengajukan pertanyaan yang sangat wajar terkait teknologi kendaraan terhubung, dan mereka berhak mendapatkan jawaban yang jelas,” ujar Voortman.

Menurutnya, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan privasi. Keamanan sistem dari potensi peretasan juga perlu menjadi perhatian karena dapat berkaitan dengan keselamatan pengguna kendaraan.

Sorotan terhadap keamanan kendaraan terhubung mengemuka setelah program Four Corners di jaringan ABC melakukan investigasi terhadap sistem keamanan sejumlah kendaraan modern, termasuk beberapa merek asal China seperti BYD, Xpeng, dan Leapmotor.

Dalam investigasi tersebut, seorang pakar keamanan siber disebut berhasil mengakses sistem kendaraan BYD Shark 6. Akses tersebut dilaporkan memungkinkan pelacakan lokasi kendaraan secara langsung, mendengarkan percakapan melalui sistem telepon, hingga mematikan lampu depan kendaraan.

Temuan tersebut kemudian memicu kekhawatiran mengenai potensi penyalahgunaan data dan sistem kendaraan apabila terjadi akses tanpa izin.

Menteri Bayangan Pertahanan Australia James Paterson juga menyampaikan kekhawatirannya mengenai kendaraan listrik terhubung buatan China. Ia mengaitkan kekhawatiran tersebut dengan regulasi keamanan nasional China yang menurutnya dapat mewajibkan perusahaan bekerja sama dengan lembaga intelijen.

Namun, tudingan tersebut telah dibantah oleh sejumlah produsen. Xpeng dan BYD menyatakan data konsumen Australia disimpan secara lokal serta tidak diserahkan kepada pihak asing.

Direktur Utama BYD Asia Pasifik Liu Xueliang mengatakan perusahaan berkomitmen mematuhi seluruh aturan mengenai penyimpanan data dan privasi yang berlaku di negara tempat mereka beroperasi.

“Kami selalu percaya bahwa dalam hal penyimpanan data dan server, kami hanya menggunakan fasilitas lokal. Sebagai entitas bisnis, kami berkomitmen penuh untuk mematuhi regulasi setempat,” kata Liu.

Persoalan keamanan data juga tidak hanya menyasar produsen kendaraan asal China. Kantor Komisioner Informasi Australia (OAIC) mengonfirmasi tengah menyelidiki sejumlah produsen otomotif global, termasuk Toyota dan Hyundai, terkait cara mereka mengumpulkan, menggunakan, serta meminta persetujuan konsumen atas penggunaan data pribadi.

Pemerintah Australia juga tengah menyiapkan rancangan pembaruan Undang-Undang Privasi untuk mengantisipasi perkembangan teknologi kendaraan modern.

Sementara itu, perhatian juga tertuju pada perangkat keras yang digunakan kendaraan. Leapmotor, misalnya, sempat disorot karena menggunakan teknologi kamera dari Dahua, perusahaan yang sebelumnya mendapat pembatasan penggunaan pada sejumlah fasilitas pemerintah di Australia, Amerika Serikat, dan Inggris terkait kekhawatiran keamanan.

Kendaraan terhubung pada dasarnya mampu mengumpulkan beragam informasi, mulai dari posisi kendaraan, kecepatan, rute perjalanan hingga sejumlah data terkait aktivitas pengemudi. Perkembangan teknologi tersebut membuat persoalan perlindungan data semakin relevan bagi konsumen.

Isu keamanan data kendaraan sendiri bukan hanya terjadi di Australia. Di Amerika Serikat, General Motors sebelumnya juga menghadapi sanksi terkait praktik pembagian data lokasi dan gaya berkendara pengemudi kepada pihak ketiga tanpa persetujuan.

Dengan semakin banyaknya kendaraan yang terhubung dengan internet dan berbagai layanan digital, transparansi mengenai pengumpulan serta penggunaan data menjadi salah satu persoalan yang dihadapi industri otomotif.

Bagi konsumen, perkembangan tersebut membuat informasi mengenai jenis data yang dikumpulkan kendaraan, lokasi penyimpanannya, pihak yang dapat mengaksesnya, serta mekanisme perlindungannya menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan sebelum membeli kendaraan pintar.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play