Albanese Dorong AS-China Buat Kesepakatan AI untuk Cegah Perang Teknologi
Suara Kalbar – Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mendorong Amerika Serikat (AS) dan China membuat kesepakatan mengenai kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk mengantisipasi risiko persaingan teknologi yang semakin tajam.
Albanese menyampaikan seruan tersebut saat mengunjungi kantor pusat Apple di Cupertino, California, dalam perjalanan menuju New York untuk menghadiri Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pekan depan.
Menurut Albanese, Washington dan Beijing sebagai dua kekuatan utama dalam perkembangan AI perlu membangun kerja sama untuk menciptakan kerangka global dalam mengatur perkembangan teknologi tersebut.
Ia mengusulkan kesepakatan mengenai AI dapat mengambil pelajaran dari Traktat Non-Proliferasi Nuklir yang ditandatangani pada 1970 untuk membatasi penyebaran senjata nuklir.
“Faktanya, mereka adalah dua raksasa utama di sini sehingga kami ingin melihat adanya kerja sama,” ujar Albanese, dilansir dari Anadolu, Minggu (20/9/2026).
Albanese mengatakan dirinya akan berdiskusi dengan sejumlah pemimpin negara yang memiliki pandangan serupa dalam Sidang Majelis Umum PBB. Salah satu pembahasan yang akan didorong adalah pembentukan aturan global untuk mengatur perkembangan AI yang berlangsung sangat cepat.
Ia menilai AI telah menjadi fenomena global sehingga negara-negara tidak dapat hanya menjadi penonton terhadap perkembangan teknologi tersebut.
“Perlu ada pembahasan mengenai kerangka global untuk penerapan AI karena perkembangannya sangat cepat. Kami perlu memastikan manusia tetap memegang kendali,” ujarnya.
Perbedaan Sikap soal Kecepatan Pengembangan AI
Seruan Albanese muncul ketika perdebatan mengenai pengembangan dan pengaturan AI semakin menguat di Amerika Serikat.
CEO Anthropic Dario Amodei sebelumnya menyerukan perlunya perlambatan pengembangan AI secara terkoordinasi. Seruan tersebut mendapat dukungan dari CEO OpenAI Sam Altman dan Elon Musk.
Namun, Presiden AS Donald Trump mengambil posisi berbeda. Trump menolak gagasan memperlambat perkembangan AI karena menilai langkah tersebut dapat memberikan keuntungan kepada China yang menjadi pesaing utama AS dalam pengembangan teknologi tersebut.
Menjelang pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping di Gedung Putih, Trump juga mengumumkan rencana membentuk “AI Force”. Ia menyatakan akan membentuk struktur tersebut untuk menangani ancaman terhadap perkembangan teknologi AI.
Trump belum menjelaskan secara rinci struktur, kewenangan, maupun mekanisme pelaksanaan inisiatif tersebut.
Sementara itu, persaingan AI menjadi salah satu isu yang turut dibahas dalam rangkaian pertemuan AS dan China menjelang pertemuan Trump dan Xi.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng telah melakukan pembicaraan yang mencakup keamanan AI, perdagangan, serta sejumlah persoalan ekonomi lainnya.
Pembahasan tersebut berlangsung di tengah perbedaan pendekatan Washington dan Beijing mengenai tata kelola AI. Kedua negara juga bersaing dalam pengembangan teknologi, akses terhadap cip canggih, serta pemanfaatan AI untuk kepentingan ekonomi dan keamanan.
Sejumlah pakar dari AS dan China sebelumnya juga mendorong pengamanan AI yang memiliki kemiripan dengan mekanisme pengendalian senjata nuklir, terutama untuk mencegah penggunaan AI dalam sistem militer tanpa pengawasan manusia. Namun, berbagai usulan tersebut belum menjadi kesepakatan resmi kedua pemerintah.
Albanese menilai kerja sama antara AS dan China diperlukan karena keduanya memiliki posisi penting dalam perkembangan AI global. Australia, menurutnya, juga akan mendorong pembentukan aturan internasional agar perkembangan teknologi tersebut tetap berada dalam kendali manusia.
Sumber:Beritasatu.com





