Sambut Misi Kemanusiaan Jepang, Perkuat Penanganan Karhutla di Kalbar
Pontianak (Suara Kalbar) – Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menyambut kedatangan kapal kenegaraan Jepang, JS Kunisaki, yang membawa personel dan peralatan pendukung untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat.
Kapal tersebut membawa misi Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR) sebagai bagian dari kerja sama Indonesia dan Jepang dalam penanggulangan bencana dan misi kemanusiaan.
JS Kunisaki juga membawa tiga unit helikopter berat CH-47 Chinook yang akan mendukung operasi pemadaman udara (water bombing) serta pengangkutan logistik ke lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Kedatangan kapal tersebut disambut langsung Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan, didampingi Komandan Komando Daerah TNI Angkatan Laut (Kodaeral) XII/Lantamal XII, Laksda TNI Sawa, S.E., M.M., CIQaR.
Krisantus menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Jepang atas dukungan yang diberikan untuk memperkuat penanganan karhutla di Kalimantan Barat.
“Yang pertama tentu saya mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Jepang yang sudah mengirimkan kapal, personel dan peralatan untuk membantu Indonesia, secara khusus Kalimantan Barat, dalam mengatasi kebakaran hutan dan lahan,” ucapnya.
Menurut Krisantus, bantuan tersebut menjadi bentuk kepedulian dan kerja sama kemanusiaan yang sangat berarti bagi Kalimantan Barat. Terlebih, JS Kunisaki membutuhkan waktu sekitar 11 hari untuk menempuh perjalanan hingga tiba di wilayah Kalbar.
“Ini suatu pengorbanan dan bantuan yang sungguh luar biasa. Mereka berlayar selama 11 hari sampai ke sini. Tadi saya juga sudah menyampaikan kepada Komandan Kapal bahwa Indonesia, khususnya Kalbar, memiliki karakteristik lahan yang unik,” jelasnya.
Tantangan Lahan Gambut
Krisantus mengatakan karakteristik lahan gambut menjadi salah satu tantangan utama dalam penanganan karhutla di Kalimantan Barat.
Api di lahan gambut, kata dia, tidak hanya membakar permukaan tanah, tetapi dapat merambat di bawah permukaan sehingga sulit dideteksi dan dipadamkan.
“Untuk memadamkan api, kondisi lahan di sini sangat berbeda dengan Jepang. Api tidak mudah padam karena banyak lahan gambut. Api bisa menjalar dari bawah dan sulit dipandang dengan mata,” katanya.
Karena itu, penanganan karhutla membutuhkan ketangguhan, ketelitian, serta dukungan peralatan yang memadai. Kehadiran helikopter CH-47 Chinook diharapkan mampu memperkuat operasi pemadaman, khususnya di wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
“Diperlukan kegigihan dan ketangguhan untuk bisa memadamkan api yang merayap di bawah lahan gambut. Ini bukan pekerjaan yang mudah,” ungkapnya.
Selain kondisi gambut, keterbatasan sumber air juga menjadi persoalan. Surutnya sejumlah sungai menyebabkan air laut masuk ke aliran sungai sehingga memengaruhi ketersediaan air untuk pemadaman.
“Selain itu, air untuk memadamkan api juga kita kekurangan sehingga harus mengambil air dari tempat yang cukup jauh. Kondisi sekarang juga menjadi tantangan karena air sungai sudah asin akibat air sungai surut dan air laut masuk ke sungai,” terangnya.
Lokasi Pemadaman Dikoordinasikan
Krisantus mengatakan penentuan lokasi operasi pemadaman akan dikoordinasikan bersama TNI, Polri dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dengan mengacu pada titik-titik api yang telah terdeteksi.
“Nanti koordinasi dengan TNI, Polri, kemudian BNPB. Sudah ada titik-titik api yang terdeteksi dan itu yang akan kita tangani bersama,” ujarnya.
Ia menegaskan Pemprov Kalbar terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat dalam penanganan karhutla. Perhatian pemerintah pusat terhadap kondisi Kalbar, menurutnya, juga ditunjukkan melalui rapat koordinasi bersama Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) di Jakarta.
“Hari Senin yang lalu saya rapat dengan Menko Polkam di Jakarta. Pemerintah pusat juga sangat konsen untuk segera menyelesaikan dan mengatasi Karhutla di Kalimantan Barat,” tuturnya.
Perusahaan Pemegang HGU Diminta Bergerak
Di tengah upaya penanganan karhutla, Krisantus juga meminta dunia usaha, terutama perusahaan pemegang Hak Guna Usaha (HGU), ikut bertanggung jawab mencegah dan menangani kebakaran di wilayah yang menjadi tanggung jawabnya.
“Kita juga mengharapkan para pelaku usaha, pemilik-pemilik HGU untuk ikut membantu. Kemarin sudah jelas perintahnya dari Menko Polkam. Enam gubernur dikumpulkan, termasuk Kalbar, dan perusahaan juga kita minta untuk membantu,” tegasnya.
Ia menilai penanganan karhutla tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Seluruh pihak harus bergerak bersama untuk mencegah api meluas.
“Jangan hanya menonton. Saya lihat selama ini ada yang hanya menonton. Kita ingin semua ikut bergerak membantu pemerintah menangani Karhutla,” pungkasnya.
Krisantus juga menyampaikan pemerintah pusat akan mengevaluasi kepatuhan perusahaan pemegang HGU dalam menjalankan tanggung jawab menjaga wilayah konsesinya.
“Akan dievaluasi, akan ditinjau, bahkan sampai kepada pencabutan HGU yang bersangkutan,” lugasnya.
Pemprov Kalbar menyambut baik dukungan Pemerintah Jepang melalui misi HADR tersebut. Sinergi antara pemerintah, TNI-Polri, BNPB, pemerintah kabupaten/kota hingga dunia usaha dinilai menjadi kunci untuk mempercepat penanganan karhutla.
“Ini tugas kita bersama. Kita harus bekerja sama dan bergerak cepat supaya api yang masih ada dapat segera dipadamkan dan tidak semakin meluas,” tutupnya.
Penulis: Tim Liputan
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS





