SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Nasional 6 Gunung Api Erupsi Berdekatan, Kenapa Banyak Gunung Meletus pada 2026?

6 Gunung Api Erupsi Berdekatan, Kenapa Banyak Gunung Meletus pada 2026?

Gunung Anak Krakatau. (Istimewa/Kementerian ESDM)

Jakarta (Suara Kalbar) – Sejumlah gunung api di Indonesia mengalami erupsi dalam waktu yang berdekatan pada awal September 2026. Gunung Anak Krakatau, Semeru, Ili Lewotolok, Ibu, Lewotobi Laki-laki, dan Sinabung tercatat mengalami erupsi dalam beberapa hari terakhir.

Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan, mengapa sejumlah gunung api seolah meletus hampir bersamaan? Apakah aktivitas satu gunung berkaitan dengan gunung lainnya atau ada faktor tertentu yang membuat sejumlah gunung api aktif pada periode yang sama?

Data Badan Geologi menunjukkan aktivitas erupsi memang terjadi di sejumlah gunung api sepanjang 2026. Namun, kesamaan waktu erupsi tidak serta-merta menunjukkan bahwa gunung-gunung tersebut berada dalam satu sistem vulkanis atau saling memicu.

11 Gunung Api Mengalami Erupsi pada 2026

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi mencatat terdapat 11 gunung api aktif di Indonesia yang mengalami erupsi sepanjang 2026.

Berdasarkan unggahan akun resmi Badan Geologi di X, kondisi tersebut tidak terlepas dari posisi Indonesia yang berada di jalur Cincin Api Pasifik. Jalur vulkanis tersebut membentang dari Sumatera hingga Maluku Utara dan membuat Indonesia memiliki potensi erupsi gunung api yang tinggi.

“Jalur cincin api yang terbentang dari Sumatera hingga Maluku Utara menyebabkan Indonesia menjadi salah satu negara dengan potensi bencana erupsi gunung api terbesar di dunia,” kata Badan Geologi, dikutip Kamis (10/9/2026).

Badan Geologi mencatat, sepanjang 2026 terdapat 11 gunung api aktif yang mengalami erupsi atau letusan.

“Data Badan Geologi selama tahun 2026 tercatat 11 gunung api aktif mengalami erupsi!” lanjutnya.

Dari jumlah tersebut, lima gunung berada pada status Level III atau Siaga. Status ini menunjukkan adanya peningkatan aktivitas vulkanis dan potensi bahaya yang lebih tinggi sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan serta mengikuti rekomendasi PVMBG.

Salah satunya adalah Gunung Anak Krakatau yang tercatat mengalami 243 kali erupsi atau letusan.

Sementara enam gunung api lainnya berada pada status Level II atau Waspada. Status tersebut menunjukkan adanya peningkatan aktivitas sehingga masyarakat diimbau tetap waspada dan tidak melakukan kegiatan di zona yang berpotensi membahayakan.

Gunung Ibu menjadi salah satu gunung yang berada dalam kategori tersebut dengan catatan 25.556 kali erupsi atau letusan.

Badan Geologi menyatakan pemantauan dan mitigasi terus dilakukan untuk mengurangi potensi bahaya yang ditimbulkan aktivitas vulkanis.

“Mitigasi dan monitoring terus diupayakan oleh Badan Geologi secara berkelanjutan untuk mengurangi potensi bahaya dari erupsi gunungapi di Indonesia!” jelas Badan Geologi.

Kenapa Banyak Gunung Api Meletus Berdekatan?

Erupsi beberapa gunung api dalam waktu yang berdekatan memang terlihat tidak biasa. Terlebih pada awal September 2026, sejumlah gunung di wilayah Indonesia mengalami aktivitas erupsi dalam rentang waktu yang hampir bersamaan.

Namun, kondisi tersebut tidak berarti seluruh gunung memiliki hubungan vulkanis secara langsung.

Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) Indranova Suhendro menjelaskan setiap gunung api mempunyai karakteristik dan siklus aktivitas masing-masing. Karena itu, kemunculan beberapa erupsi dalam periode yang sama lebih tepat dipahami sebagai pertemuan siklus aktivitas yang berbeda.

Menurutnya, terdapat gunung api yang memang memiliki frekuensi erupsi relatif tinggi, seperti Semeru dan Anak Krakatau. Sementara gunung lainnya dapat mengalami periode istirahat yang lebih panjang sebelum kembali aktif.

Ketika siklus aktivitas sejumlah gunung tersebut beririsan dalam satu periode, beberapa gunung api dapat terlihat aktif secara bersamaan.

“Menurut saya ini lebih ke masalah timing,” kata Indranova, dikutip dari laman resmi UGM, Kamis (10/9/2026).

Dengan demikian, erupsi yang terjadi dalam waktu berdekatan tidak otomatis menunjukkan adanya satu penyebab tunggal yang membuat seluruh gunung api tersebut aktif.

Apakah Gunung Api di Indonesia Saling Terhubung?

Indranova menjelaskan kesamaan jalur subduksi di Indonesia tidak otomatis berarti terdapat hubungan langsung antarsistem magma.

Setiap gunung api mempunyai sistem magma yang bekerja secara lokal. Karena itu, erupsi pada satu gunung tidak secara otomatis memicu erupsi pada gunung lainnya.

Kemungkinan adanya keterkaitan dapat lebih terbuka pada gunung yang lokasinya berdekatan. Namun, kondisi pada awal September 2026 berbeda karena gunung-gunung yang mengalami erupsi tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Sumatera, Jawa, Selat Sunda, Nusa Tenggara hingga Maluku.

“Saat ini gunung-gunung yang mengalami erupsi berada pada posisi yang sangat jauh antar yang satu dengan yang lain, sehingga untuk membangkitkan satu sama lain itu nyaris tidak mungkin,” jelasnya.

Penjelasan serupa disampaikan Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM Rita Susilawati. Menurut Rita, Indonesia memiliki sedikitnya 127 gunung api aktif yang memungkinkan terjadinya erupsi pada hari yang sama tanpa harus memiliki keterkaitan sistemik.

“Kalau bahasa sederhananya dapurnya itu masing-masing, dapurnya itu sendiri-sendiri, begitu ya, dan proses menuju erupsi antara satu gunung dengan gunung yang lainnya itu juga berbeda-beda. Kami tidak menemukan bukti adanya satu proses geologi yang memicu seluruh erupsi tersebut secara bersamaan,” ujar Rita, dikutip dari Antara, Kamis (10/9/2026).

Artinya, dua atau lebih gunung api dapat mengalami erupsi pada hari yang sama tanpa aktivitas salah satunya menjadi penyebab aktivitas gunung lainnya.

Apakah Gempa Bisa Memengaruhi Aktivitas Gunung Api?

Meski setiap gunung mempunyai proses internal masing-masing, Indranova menjelaskan faktor eksternal seperti aktivitas kegempaan tetap dapat berperan dalam kondisi tertentu.

Ia mencontohkan aktivitas kegempaan vulkanis di Gunung Lewotolok dan Lewotobi Laki-laki yang meningkat setelah gempa Flores. Peningkatan tersebut kemudian diikuti aktivitas erupsi.

Kemungkinan hubungan tersebut dikaitkan dengan pengaruh guncangan gempa terhadap gas yang terlarut dalam magma. Namun, Indranova menegaskan mekanisme tersebut belum dapat dipastikan berlaku pada seluruh gunung api.

“Bukti bahwa gejala aktivitas kegempaan vulkanis pada Gunung Lewotolok dan Lewotobi Laki-laki meningkat drastis pascagempa menjadi penanda kuat bahwa mereka dibangunkan oleh aktivitas kegempaan Flores,” ungkapnya.

Karena itu, contoh tersebut tidak dapat langsung digunakan untuk menjelaskan seluruh erupsi gunung api yang terjadi dalam waktu berdekatan pada awal September 2026.

Jadi, Kenapa Banyak Gunung Api Meletus pada 2026?

Data dan penjelasan para ahli menunjukkan belum ada satu penyebab tunggal yang dapat digunakan untuk menjelaskan seluruh erupsi gunung api yang terjadi sepanjang 2026.

Banyaknya gunung api aktif di Indonesia serta posisi geografisnya di kawasan Cincin Api Pasifik membuat erupsi pada sejumlah gunung dapat terjadi dalam periode yang sama.

Setiap gunung juga memiliki karakteristik, sistem magma, mekanisme, dan siklus aktivitas yang berbeda. Karena itu, beberapa gunung yang mengalami erupsi hampir bersamaan tidak berarti seluruhnya berada dalam satu sistem vulkanis.

Jarak antargunung yang mengalami erupsi pada awal September 2026 juga membuat kemungkinan satu gunung memicu gunung lainnya dinilai sangat kecil.

Dalam kondisi tertentu, faktor eksternal seperti gempa memang dapat memengaruhi aktivitas gunung api tertentu. Namun, mekanisme tersebut tidak dapat digeneralisasi sebagai penyebab seluruh erupsi yang terjadi.

Dengan demikian, fenomena banyak gunung api meletus pada 2026 lebih tepat dipahami sebagai kombinasi aktivitas vulkanis masing-masing gunung dengan kondisi geologi Indonesia yang memang memiliki banyak gunung api aktif di kawasan Cincin Api Pasifik.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play