SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Kalbar Krisantus Terima Perwira Siswa Seskoal, Tekankan Pentingnya Memahami Isu Strategis Perbatasan

Krisantus Terima Perwira Siswa Seskoal, Tekankan Pentingnya Memahami Isu Strategis Perbatasan

Wagub Kalbar Krisantus Kurniawan saat menerima kunjungan Perwira Siswa Seskoal dalam rangka Kuliah Kerja Dalam Negeri (KKDN) di Ruang Rapat Arwana, Kantor Gubernur Kalimantan Barat, Rabu (2/9/2026). SUARAKALBAR.CO.ID/HO-Adpim

Pontianak (Suara Kalbar)  – Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan menekankan pentingnya pemahaman terhadap isu strategis, khususnya kawasan perbatasan, bagi para Perwira Siswa Pendidikan Reguler (Dikreg) Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal) Angkatan ke-66 Tahun Anggaran 2026.

Hal tersebut disampaikan Krisantus saat menerima kunjungan Perwira Siswa Seskoal dalam rangka Kuliah Kerja Dalam Negeri (KKDN) di Ruang Rapat Arwana, Kantor Gubernur Kalimantan Barat, Rabu (2/9/2026).

Kegiatan KKDN merupakan bagian dari proses pendidikan yang bertujuan memberikan gambaran secara langsung kepada para Perwira Siswa mengenai kondisi wilayah, persoalan strategis, serta berbagai tantangan yang dihadapi pemerintah daerah.

Menurut Krisantus, kunjungan tersebut tidak sekadar menjadi bagian dari kegiatan akademik, tetapi juga momentum bagi para calon pemimpin TNI untuk memahami karakteristik wilayah, terutama Kalimantan Barat yang memiliki kawasan perbatasan darat dengan Malaysia.

“Adik-adik datang ke sini untuk memperoleh masukan yang konstruktif dalam menunjang kegiatan pendidikan. Nantinya pengetahuan yang diperoleh dapat diaplikasikan ketika selesai pendidikan, terutama dalam memahami isu-isu daerah dan isu teritorial,” kata Krisantus.

Ia menilai seorang calon komandan dituntut memiliki wawasan luas mengenai wilayah yang menjadi tanggung jawabnya. Pemahaman tersebut tidak hanya mencakup aspek geografis, tetapi juga kondisi sosial, ekonomi, sumber daya alam, keamanan hingga dinamika masyarakat.

“Sebagai komandan, mesti paham bukan hanya Kalbar, tetapi juga memahami seluruh wilayah Republik Indonesia. Apalagi kalau nantinya ditugaskan di daerah perbatasan, tentu isu-isu yang ada di perbatasan harus dipahami,” ujarnya.

Krisantus menegaskan posisi Kalimantan Barat memiliki nilai strategis karena berbatasan langsung dengan Malaysia. Menurutnya, hubungan baik antara masyarakat kedua negara tetap harus diiringi kewaspadaan dari perspektif pertahanan dan keamanan.

“Kalbar ini provinsi yang strategis karena kita berkongsi pulau dengan negara lain. Dari sisi masyarakat sipil kita bisa bersahabat dan bekerja sama. Tetapi dari perspektif pertahanan, kita tetap harus melakukan analisis dan kewaspadaan,” jelasnya.

Ia mengatakan hubungan baik antarbangsa tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan untuk melakukan analisis strategis dalam konteks pertahanan negara.

“Saya tahu di dalam TNI tidak ada konsep negara sahabat dalam sistem pertahanan. Setiap negara tetap melakukan analisis. Karena itu, kewaspadaan tetap harus berjalan,” katanya.

Soroti Potensi Sumber Daya Alam

Dalam pertemuan tersebut, Krisantus juga menyoroti besarnya potensi sumber daya alam yang dimiliki Kalimantan Barat. Sejumlah komoditas strategis yang disebut antara lain emas, batu bara, bauksit, pasir silika hingga tanah jarang.

Menurutnya, kekayaan sumber daya alam tersebut harus menjadi perhatian dalam melihat posisi strategis suatu wilayah.

“Potensi sumber daya alam ini harus menjadi perhatian. Ketika sebuah wilayah memiliki sumber daya yang besar, maka kepentingan terhadap wilayah tersebut juga semakin besar. Ini harus dikelola dengan baik dan dijaga untuk kepentingan masyarakat dan negara,” tegasnya.

Ia menilai pengelolaan sumber daya alam tidak hanya berkaitan dengan kepentingan ekonomi, tetapi juga menyangkut aspek ketahanan dan kepentingan strategis negara.

Karhutla Perlu Penanganan dari Hulu

Selain isu perbatasan dan sumber daya alam, Krisantus turut membahas persoalan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang masih menjadi tantangan Kalimantan Barat.

Menurutnya, penanganan Karhutla membutuhkan sinergi seluruh unsur, termasuk TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah dan masyarakat.

Ia menilai pendekatan penanganan Karhutla tidak cukup hanya berorientasi pada pemadaman ketika kebakaran telah terjadi. Penyebab kebakaran juga harus dianalisis secara mendalam agar kejadian serupa dapat dicegah.

“Perlu ada analisis yang lebih mendalam. Kenapa kebakaran bisa terjadi terus-menerus dan berpindah-pindah lokasi. Penanganannya bukan hanya memadamkan api, tetapi juga mencari dan mencegah penyebabnya,” pungkasnya.

Penulis: Layli/r

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play