Studi Ungkap Waktu Makan Berkaitan dengan Risiko Kematian, Sarapan Terlalu Siang Jadi Sorotan
Suara Kalbar – Pola makan selama ini lebih sering dikaitkan dengan jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi. Namun, sebuah penelitian menemukan bahwa waktu makan juga memiliki kaitan dengan risiko kematian dan harapan hidup.
Penelitian berskala besar terhadap puluhan ribu orang dewasa di Amerika Serikat tersebut melihat waktu ketika seseorang pertama kali dan terakhir mengonsumsi makanan atau minuman berkalori dalam sehari.
Dikutip dari Science Alert, Selasa (25/8/2026), penelitian yang dipublikasikan dalam European Journal of Clinical Nutrition itu menganalisis data 31.044 orang dewasa berusia 40 tahun ke atas.
Para peneliti mengamati pola makan peserta selama 24 jam, termasuk mencatat waktu makanan atau minuman berkalori dikonsumsi. Data tersebut kemudian dikaitkan dengan kondisi kesehatan peserta selama periode pemantauan bertahun-tahun.
Hasil analisis menunjukkan adanya pola tertentu antara waktu makan dan risiko kematian.
Sarapan Terlalu Siang Dikaitkan dengan Risiko Lebih Tinggi
Salah satu temuan yang menjadi perhatian adalah waktu seseorang mengonsumsi makanan pertama dalam sehari.
Dibandingkan dengan peserta yang mengonsumsi makanan pertama antara pukul 07.00 hingga 08.00, mereka yang baru makan antara pukul 08.00 hingga 10.00 memiliki risiko kematian 10 persen lebih tinggi.
Risikonya menjadi lebih besar pada kematian akibat penyakit kardiovaskular. Peserta yang baru mengonsumsi makanan pertama setelah tengah hari tercatat memiliki risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular 46 persen lebih tinggi.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa waktu sarapan atau makanan pertama dalam sehari mungkin memiliki kaitan dengan kondisi kesehatan jangka panjang.
Namun, para peneliti tidak menyarankan masyarakat untuk menjadikan angka tersebut sebagai aturan mutlak.
Makan Malam Terlalu Larut Juga Jadi Perhatian
Pola berbeda ditemukan ketika peneliti melihat waktu makan terakhir pada malam hari.
Dibandingkan dengan peserta yang menyelesaikan makan malam antara pukul 19.00 hingga 20.00, mereka yang berhenti makan sebelum pukul 19.00 justru memiliki risiko kematian 13 persen lebih tinggi.
Sementara itu, peserta yang masih mengonsumsi makanan setelah tengah malam memiliki risiko kematian 27 persen lebih tinggi.
Dalam penelitian tersebut, risiko paling rendah ditemukan pada rentang waktu makan malam sekitar pukul 20.00.
Meski demikian, peneliti menegaskan temuan tersebut tidak berarti pukul 19.00 hingga 20.00 merupakan waktu makan malam yang paling ideal bagi semua orang.
“Ini tidak berarti bahwa pukul 7 hingga 8 malam adalah waktu makan malam paling optimal secara universal bagi semua orang,” kata Zhilei Shan, peneliti senior dari Huazhong University of Science and Technology.
Berkaitan dengan Jam Biologis Tubuh
Shan menjelaskan, makan terlalu larut dapat memengaruhi ritme sirkadian atau jam biologis tubuh. Ritme tersebut berperan dalam mengatur berbagai fungsi tubuh, termasuk metabolisme.
Sebaliknya, kebiasaan makan terlalu awal pada sore hari juga tidak selalu menunjukkan pola hidup yang lebih sehat. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan jadwal kerja yang tidak teratur, penyakit tertentu, atau asupan energi yang tidak mencukupi.
Menurut Shan, waktu makan dapat berfungsi sebagai salah satu penanda penting bagi ritme biologis organ tubuh.
Ketika waktu makan tidak selaras dengan ritme tubuh, proses metabolisme glukosa dan lemak berpotensi ikut terganggu.
“Waktu makan yang terlambat atau kebiasaan makan larut malam dapat berkontribusi pada ketidaksesuaian sirkadian dan gangguan metabolik,” ujar Shan.
Bukan Bukti Sebab-Akibat
Meski menemukan hubungan antara waktu makan dan risiko kematian, para peneliti mengingatkan bahwa penelitian tersebut merupakan studi observasional.
Artinya, hasil penelitian belum dapat membuktikan bahwa waktu makan tertentu secara langsung menyebabkan peningkatan atau penurunan risiko kematian.
Karena itu, Shan menyarankan masyarakat tidak melakukan perubahan pola makan secara ekstrem hanya berdasarkan hasil satu penelitian.
Temuan tersebut lebih tepat dipandang sebagai salah satu pertimbangan mengenai pentingnya menjaga pola makan yang teratur dan selaras dengan ritme biologis tubuh.
Pada akhirnya, bukan hanya apa yang dimakan, tetapi juga kapan makanan dikonsumsi menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam menjaga pola hidup dan kesehatan jangka panjang.
Sumber: Beritasatu.com






