Ekspedisi SIDAQ Tebar Kebaikan di Perbatasan Sanggau, 1.000 Mushaf Al-Qur’an Dibagikan
Sanggau (Suara Kalbar)- Semangat kemerdekaan tidak hanya terasa di pusat kota. Di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia, semangat itu hadir melalui aksi kemanusiaan yang menyapa warga dari satu titik ke titik lainnya.
Hal tersebut diwujudkan melalui Ekspedisi SIDAQ Pedalaman di Batas Negeri yang berlangsung pada 18–20 Agustus 2026. Selama tiga hari, lembaga kemanusiaan SIDAQ bersama sejumlah mitra menyusuri kawasan perbatasan Entikong hingga Balai Karangan, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.
Ekspedisi tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan kebahagiaan sekaligus memperkuat kepedulian sosial di kawasan yang menjadi beranda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Perjalanan tim tidak berlangsung mudah. Mereka harus melewati sekitar 30 titik singgah dengan kondisi alam yang cukup menantang di tengah musim kemarau.
Keterbatasan bahan bakar bahkan sempat menjadi kendala dalam perjalanan. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan langkah para relawan untuk menyelesaikan seluruh rangkaian misi kemanusiaan.
Setibanya di Entikong, rombongan mendapat sambutan hangat dari para santri, jajaran Kantor Urusan Agama (KUA) Entikong, guru ngaji, serta masyarakat setempat.
Pertemuan antara relawan dan warga perbatasan tersebut berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Bagi tim ekspedisi, sambutan masyarakat menjadi energi tersendiri setelah menempuh perjalanan panjang.
Ketua Panitia Ekspedisi SIDAQ, Rati, mengatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu cara untuk memaknai kemerdekaan melalui kepedulian terhadap masyarakat yang tinggal di wilayah perbatasan.
“Kemerdekaan sejati adalah ketika saudara-saudara kita di kawasan perbatasan juga dapat merasakan denyut kebahagiaan dan arti kemerdekaan yang utuh,” ujar Rati.
Menurut dia, tantangan medan dan cuaca selama perjalanan justru semakin memperkuat semangat tim untuk menuntaskan berbagai agenda yang telah direncanakan.
“Melalui program Ekspedisi SIDAQ Pedalaman di Batas Negeri ini, di tengah tantangan cuaca dan medan kemarau, semangat tim dan sambutan hangat warga Entikong hingga Balai Karangan menjadi energi luar biasa bagi kami,” katanya.
Menyusuri 30 Titik Perbatasan
Selama tiga hari perjalanan, SIDAQ bersama para mitra kolaborator menyalurkan sejumlah bantuan yang menyasar kebutuhan masyarakat di sepanjang kawasan perbatasan.
Sebanyak 1.000 mushaf Al-Qur’an didistribusikan ke 30 titik singgah. Bantuan tersebut menyasar berbagai tempat dan komunitas yang membutuhkan, termasuk lembaga pendidikan keagamaan serta masyarakat setempat.
Selain itu, SIDAQ memberikan santunan dan apresiasi kepada 20 guru ngaji yang selama ini menjadi bagian penting dalam pendidikan keagamaan masyarakat di kawasan perbatasan.
Para guru ngaji tersebut dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga keberlangsungan pendidikan Al-Qur’an sekaligus menjadi garda terdepan dalam membangun kehidupan keagamaan di tengah masyarakat.
Program ekspedisi juga mencakup pembangunan dua titik wakaf sumur bor untuk mendukung ketersediaan air bersih bagi masyarakat.
Kehadiran fasilitas air bersih tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi warga dan menjadi bagian dari upaya memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di kawasan perbatasan.
150 Santri Rayakan Kemerdekaan
Puncak kegiatan berlangsung di Pondok Pesantren Miftahul Hidayah, Balai Karangan.
Sebanyak 150 santri mengikuti program Berbagi Bersama Santri (BBS) yang dikemas dengan suasana perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kegiatan tersebut menghadirkan nuansa 17-an di lingkungan pesantren. Para santri mengikuti berbagai rangkaian kegiatan yang dirancang untuk menghadirkan kegembiraan sekaligus menanamkan semangat kebangsaan.
Bagi SIDAQ, perayaan kemerdekaan di wilayah perbatasan memiliki makna tersendiri. Kebahagiaan tidak semestinya hanya dirasakan masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan, tetapi juga mereka yang berada jauh di beranda terdepan Indonesia.
Melalui ekspedisi tersebut, SIDAQ ingin menunjukkan bahwa kepedulian sosial dapat menembus jarak dan kondisi geografis.
Kegiatan ini diinisiasi SIDAQ (Surgakan Indonesia dengan Al-Qur’an) bersama Baitulmaal Pondok Digital. Program tersebut juga mendapat dukungan dari sejumlah lembaga, di antaranya Paskas, Laju Peduli, Ashar Humanity, Hijrah Peduli, Dapur Peduli, serta Karang Taruna Sanggau.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan berbagai bantuan dapat menjangkau masyarakat di sepanjang jalur perbatasan.
Ekspedisi SIDAQ Pedalaman di Batas Negeri pada akhirnya tidak sekadar menjadi perjalanan tiga hari. Di tengah hamparan perbatasan dan tantangan perjalanan, kegiatan tersebut membawa pesan bahwa kemerdekaan juga dapat dirayakan melalui berbagi, kepedulian, dan memastikan masyarakat di beranda negeri tidak merasa berjalan sendirian.
Sebab, di titik paling depan negeri ini, kemerdekaan bukan hanya tentang bendera yang berkibar, tetapi juga tentang hadirnya kepedulian untuk mereka yang tinggal dan menjaga Indonesia dari garis batas.
Penulis: Diko Eno






