SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Teknologi Snapchat Batasi Konten AI Slop, Spotlight Kini Utamakan Kreativitas Manusia

Snapchat Batasi Konten AI Slop, Spotlight Kini Utamakan Kreativitas Manusia

Ilustrasi Snapchat. (Dok Snapchat)

Suara Kalbar – Snapchat mengambil langkah baru untuk membatasi penyebaran artificial intelligence (AI) slop dengan memperbarui sistem rekomendasi Spotlight agar lebih mengutamakan kreativitas orisinal hasil karya manusia. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya perusahaan menjaga kualitas konten sekaligus memastikan pengalaman pengguna tetap dipenuhi karya autentik.

AI slop merupakan istilah yang merujuk pada konten berbasis kecerdasan buatan yang diproduksi secara massal, berulang, dan umumnya dinilai memiliki kualitas rendah. Melalui pembaruan yang diumumkan pada Jumat (31/7/2026), Snapchat memastikan video yang sepenuhnya dibuat oleh AI tidak lagi memenuhi syarat untuk direkomendasikan di Spotlight.

Spotlight sendiri merupakan fitur yang menampilkan video populer dari para kreator kepada pengguna. Dengan perubahan algoritma tersebut, Snapchat ingin memastikan ruang rekomendasinya tidak dipenuhi video sintetis yang dihasilkan secara otomatis oleh mesin.

Perusahaan menilai maraknya konten AI berkualitas rendah berpotensi mengurangi pengalaman pengguna saat menjelajahi Spotlight. Karena itu, distribusi rekomendasi kini akan lebih memprioritaskan karya yang berasal dari kreativitas manusia.

“Kami ingin Spotlight tetap menjadi tempat bagi orang-orang untuk menemukan kreativitas autentik dari manusia nyata. Kami percaya perspektif asli, cerita personal, dan momen yang dipilih seseorang untuk dibagikan memiliki nilai yang tidak tergantikan,” tulis Snapchat dalam pengumuman resminya, dikutip dari Social Media Today, Minggu (2/8/2026).

Meski memperketat aturan terhadap AI slop, Snapchat menegaskan perusahaan tidak menolak penggunaan teknologi AI secara keseluruhan. Kreator tetap diperbolehkan memanfaatkan berbagai fitur AI milik Snapchat sebagai alat bantu dalam proses kreatif.

Penggunaan AI untuk menyunting video, memperbaiki visual, atau menambahkan efek kreatif masih diperbolehkan selama materi utama tetap berasal dari karya manusia. Konten seperti itu tetap berpeluang direkomendasikan di Spotlight.

Snapchat juga memastikan akan tetap memberikan label transparansi pada konten yang memanfaatkan teknologi AI. Dengan demikian, pengguna dapat mengetahui apabila sebuah video dibuat menggunakan bantuan kecerdasan buatan.

Sebaliknya, video yang seluruh proses pembuatannya dilakukan oleh AI tanpa kontribusi kreatif manusia tidak lagi memperoleh distribusi rekomendasi sebagaimana sebelumnya. Kebijakan tersebut diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara inovasi teknologi dan kreativitas orisinal.

Meski demikian, Snapchat belum menjelaskan secara rinci bagaimana sistemnya membedakan video yang sepenuhnya dihasilkan AI dengan video yang hanya memanfaatkan AI sebagai alat bantu. Perusahaan mengakui proses identifikasi tersebut masih menjadi tantangan.

“Tidak ada sistem deteksi yang sempurna,” tulis Snapchat.

Karena itu, mekanisme pendeteksian AI slop diperkirakan masih akan terus disempurnakan seiring berkembangnya teknologi kecerdasan buatan. Namun, arah kebijakan perusahaan sudah menunjukkan komitmen untuk mempertahankan dominasi karya manusia di ruang rekomendasi.

Snapchat juga mengakui internet kini semakin dipenuhi konten AI yang diproduksi secara massal dengan kualitas yang sering kali rendah dan berulang. Fenomena tersebut mendorong perusahaan mengambil langkah agar algoritma tidak secara otomatis mempromosikan video sintetis dalam jumlah besar.

Perusahaan menilai hubungan antarmanusia tetap menjadi nilai utama dalam pengalaman menggunakan media sosial. Karena itu, Spotlight diharapkan tetap menjadi tempat bagi kreator asli untuk membangun komunitas sekaligus menjangkau audiens baru.

Bagi kreator, perubahan algoritma ini dinilai penting karena rekomendasi Spotlight merupakan salah satu jalur utama agar konten mereka ditemukan oleh pengguna yang belum mengikuti akun mereka. Dengan membatasi distribusi AI slop, Snapchat ingin memastikan peluang tersebut tetap berpihak kepada pembuat konten manusia.

Langkah Snapchat ini berbeda dengan strategi yang ditempuh Meta. Pada Februari lalu, Meta memperkenalkan aplikasi video pendek Vibes yang menghadirkan umpan berisi konten yang sebagian besar dihasilkan AI sebagai bentuk baru ekspresi kreatif.

Perbedaan pendekatan tersebut menunjukkan setiap platform media sosial memiliki pandangan berbeda mengenai masa depan konten AI. Snapchat memilih menempatkan AI sebagai alat pendukung kreativitas, sedangkan Meta justru mendorong pemanfaatan AI sebagai sumber utama pembuatan konten.

Tidak hanya Snapchat, sejumlah platform media sosial lain juga mulai mengambil langkah untuk membatasi penyebaran AI slop. Berbagai kebijakan diterapkan dengan tujuan yang sama, yakni menjaga kualitas konten yang muncul di hadapan pengguna.

LinkedIn, misalnya, memperluas fitur pelaporan terhadap unggahan yang diduga merupakan AI slop serta mengembangkan sistem klasifikasi untuk mengurangi kemunculan konten AI berkualitas rendah dalam rekomendasi. Platform tersebut juga mengganti fitur penulisan “enhance your post” dengan alat penyuntingan yang dinilai lebih mendorong keaslian tulisan.

Sementara itu, Substack menghadirkan fitur pendeteksi AI opsional yang dikembangkan bersama Pangram. Fitur tersebut memungkinkan pembaca memperkirakan seberapa besar sebuah artikel dibuat oleh manusia atau dengan bantuan AI.

YouTube juga telah lebih dahulu menerapkan kebijakan terhadap konten yang dianggap tidak autentik. Platform milik Google itu tidak lagi memberikan akses monetisasi kepada video yang diproduksi secara massal atau berulang menggunakan sistem otomatis.

Adapun TikTok memilih pendekatan berbeda dengan memberikan kendali kepada pengguna melalui pengaturan jumlah konten AI yang ingin mereka lihat di halaman For You.

Snapchat mengungkapkan jumlah kreator unik yang berkontribusi di Spotlight meningkat lebih dari 120 persen secara global dalam setahun terakhir. Melalui kebijakan baru ini, perusahaan berharap ruang rekomendasinya tetap menjadi tempat bagi kreativitas manusia untuk berkembang, bukan didominasi oleh ribuan konten sintetis yang dihasilkan mesin.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play