Rintik Sedu Bawa Musim yang Tak Sempat Kita Miliki ke Pontianak, Kisah tentang Kenangan yang Belum Selesai
Pontianak (Suara Kalbar) – Penulis Rintik Sedu menyapa para pembacanya dalam acara Meet & Greet sekaligus peluncuran novel terbarunya, Musim yang Tak Sempat Kita Miliki, di Gramedia GAIA Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) pada Sabtu (1/8/2026).
Melalui novel tersebut, Rintik Sedu mengajak pembaca menyelami kisah tentang kenangan, kehilangan, dan keberanian menyelesaikan cerita yang belum sempat dituntaskan.
Novel Musim yang Tak Sempat Kita Miliki mengangkat kisah Rani, seorang editor di sebuah penerbit yang menikmati kehidupan tenang di penghujung usia 20-an. Kesempatan menerbitkan buku pertamanya datang ketika kantornya mendapat proyek dari sebuah perusahaan parfum lokal. Namun, proses penyusunan naskah justru membawanya kembali bertemu seseorang dari masa lalu, sosok yang menjadi alasan pertama Rani jatuh cinta pada dunia menulis.
Novel ini mengajak pembaca mengikuti perjalanan Rani dalam menghadapi kenangan yang belum selesai sekaligus mempertanyakan apakah ia mampu merampungkan naskah impiannya atau justru kembali terjebak pada masa lalu.
Dalam sesi diskusi, Rintik Sedu mengungkapkan bahwa kini proses menulisnya tidak lagi hanya berangkat dari pengalaman pribadi. Ia lebih banyak mengamati keresahan yang sedang dirasakan masyarakat, terutama melalui media sosial.
“Sekarang semua orang berbagi keresahannya lewat media sosial. Buat penulis, itu sangat memudahkan. Kita jadi tahu apa yang sedang terjadi, pembaca lagi merasakan apa. Menurut aku, sensitif terhadap isu yang dekat itu sangat penting buat menulis buku,” ujarnya.
Ia mengatakan, salah satu inspirasi novel terbarunya lahir dari fenomena backburner yang sempat ramai diperbincangkan di media sosial.
“Di buku yang ini, itu karena tren backburner waktu itu. Aku kira paling enam atau tujuh bulan berlalu, ternyata ramai sekali sampai sekarang. Menurut aku, sensitif terhadap isu yang dekat itu sangat penting buat menulis buku,” katanya.
Selain membahas novel terbarunya, Rintik Sedu juga berbagi cerita mengenai awal perjalanannya sebagai penulis. Ia mengaku sejak awal menggunakan nama pena agar pembaca lebih fokus pada isi tulisan dibanding sosok penulisnya.
“Aku mau orang fokus dengan apa yang ditulis, bukan siapa orang di baliknya. Aku pengen membuat ruang baru tanpa orang melihat dan tahu siapa yang menulis,” ujarnya.
Menurutnya, menulis menjadi ruang yang selalu membuatnya kembali mengenal diri sendiri.
“Aku menemukan perasaan lengkap itu dengan menulis. Sampai sekarang pun susah aku jelaskan. Dan aku juga enggak menyangka kalau menulis akan menjadi kegiatan yang awet sama aku,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Rintik Sedu juga membagikan pesan kepada peserta yang ingin mulai berkarya. Ia menilai banyak orang terlalu lama menunggu tulisannya menjadi sempurna sebelum berani menunjukkannya kepada pembaca.
“Tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai, disampaikan, dan ditunjukkan ke orang. Selama tulisan itu cuma ada di laptop atau di buku, tulisan itu enggak hidup,” ujarnya.
Ia menambahkan, kritik dari pembaca merupakan bagian penting dalam proses berkarya.
“Kalau kita menulis atau berkarya, harus ada yang enggak suka, harus ada yang kritik. Dari situ kita belajar juga,” katanya.
Acara berlangsung hangat dengan sesi tanya jawab dan penandatanganan buku. Sejumlah pembaca mengaku senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan penulis yang selama ini mereka ikuti melalui karya-karyanya.
Salah satunya El, yang mengaku telah mengikuti karya Rintik Sedu sejak era Geez & Ann.
“Sana sudah nemenin aku dari masa galau sampai sekarang. Aku enggak nyangka banget akhirnya bisa ketemu langsung. Kalau ketemu waktu Geez & Ann, mungkin aku datang dengan air mata. Tapi sekarang, di Musim yang Tak Sempat Kita Miliki, aku bisa kasih senyuman yang paling bahagia,” ujarnya.
Pembaca lainnya, Sekar, juga mengaku bahagia dapat bertemu langsung dengan penulis favoritnya.
“Beliau adalah penulis pertama yang aku temuin. Jadi benar-benar happy banget. Terima kasih juga Kak Sana, baik banget tadi. Semoga bisa ketemu lagi,” ujarnya.
Penulis: Maria






