Harga Minyak Dunia Turun, Harapan Diplomasi Oman-Iran Redam Ketegangan Selat Hormuz
Suara Kalbar – Harga minyak dunia ditutup melemah pada perdagangan Kamis (30/7/2026) waktu setempat. Penurunan dipicu meningkatnya harapan pasar terhadap upaya diplomasi antara Oman dan Iran yang dinilai dapat membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz.
Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali saling melancarkan serangan terhadap target militer masing-masing.
Harga minyak mentah Brent turun sebesar US$1,42 atau 1,56 persen menjadi US$89,32 per barel. Sebelumnya, kontrak Brent sempat menyentuh level tertinggi harian di US$93,31 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah US$1,14 atau 1,35 persen ke posisi US$83,32 per barel, setelah sempat diperdagangkan di level US$85,94 per barel.
Ekonom iklim dan komoditas Capital Economics, Hamad Hussain, mengatakan pembicaraan antara Oman dan Iran menjadi sinyal positif bagi pasar karena membuka peluang tercapainya kesepakatan terkait pengelolaan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Laporan Iranian Labour News Agency juga menyebut pembahasan mengenai pengelolaan Selat Hormuz masih terus berlangsung, sehingga memunculkan optimisme bahwa jalur distribusi energi global dapat kembali berjalan normal.
Di sisi lain, situasi keamanan di kawasan belum sepenuhnya mereda. Militer AS mengklaim telah melancarkan serangan terhadap puluhan target milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) sebagai respons atas serangan rudal balistik Iran yang diarahkan ke pasukan AS di Timur Tengah.
Ketegangan semakin meningkat setelah pemerintah Mesir menyatakan kebakaran yang menghanguskan dua kapal pengangkut gas di Pelabuhan Damietta, Laut Mediterania, disebabkan oleh serangan pesawat nirawak, bukan kecelakaan sebagaimana dugaan awal.
Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, menilai premi risiko pada harga minyak masih akan bertahan selama keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz belum benar-benar pulih.
Menurutnya, optimisme terhadap jalur diplomasi memang memberikan sentimen positif bagi pasar. Namun, investor tetap berhati-hati karena perkembangan di lapangan masih menunjukkan konflik militer yang terus berlangsung.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia. Karena itu, setiap perkembangan di kawasan tersebut memiliki dampak besar terhadap pergerakan harga energi global sejak konflik Iran kembali memanas pada 28 Februari 2026.
Sumber: Beritasatu.com






