Dokter Ungkap Orang Kurus Juga Bisa Kena Kolesterol Tinggi, Ini Penyebabnya
Suara Kalbar – Memiliki tubuh kurus atau berat badan ideal ternyata tidak menjamin seseorang terbebas dari risiko kolesterol tinggi maupun penyakit jantung dan pembuluh darah. Anggapan bahwa penyakit jantung hanya menyerang orang dengan tubuh gemuk dinilai keliru karena faktor risikonya jauh lebih kompleks.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki), dr. Susetyo Atmojo, mengatakan seseorang yang bertubuh kurus tetap dapat memiliki kadar kolesterol low-density lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat yang tinggi.
Menurut dr. Susetyo, berat badan normal tidak selalu mencerminkan kondisi kesehatan jantung maupun pembuluh darah seseorang. Penilaian kesehatan kardiovaskular tidak cukup hanya melihat bentuk tubuh atau angka pada timbangan.
Ia menjelaskan, kadar kolesterol LDL yang tinggi justru menjadi salah satu faktor utama yang menentukan risiko seseorang mengalami penyakit jantung.
“Jadi kurus itu bukan berarti aman, karena yang lebih menentukan adalah bagaimana profil faktor risiko seseorang, terutama kadar kolesterol LDL di dalam darah,” kata dr. Susetyo, dikutip dari Antara, Sabtu (25/7/2026).
Ia menambahkan, berbagai penelitian menunjukkan bahwa orang dengan tubuh kurus juga dapat memiliki faktor risiko penyakit jantung yang cukup tinggi. Bahkan, berdasarkan hasil studi populasi, hampir satu dari empat orang bertubuh kurus memiliki kumpulan faktor risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa bentuk tubuh bukan satu-satunya indikator untuk menilai kesehatan seseorang.
Menurut dr. Susetyo, orang bertubuh kurus yang memiliki kadar kolesterol LDL tinggi berisiko dua hingga tiga kali lebih besar mengalami penyakit jantung dan pembuluh darah dibandingkan mereka yang kadar LDL-nya berada dalam batas normal.
Karena itu, pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh jauh lebih penting dibandingkan hanya mengandalkan penampilan fisik.
Ia menjelaskan, tingginya kadar kolesterol pada orang bertubuh kurus dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Di antaranya kelainan genetik seperti familial hypercholesterolemia, pola makan tinggi lemak jenuh atau makanan yang digoreng, kurang aktivitas fisik, hingga penumpukan lemak viseral di dalam rongga perut.
Lemak viseral inilah yang dapat menyebabkan obesitas sentral meskipun berat badan seseorang masih tergolong normal.
Menurutnya, evaluasi risiko penyakit jantung sebaiknya tidak hanya berpatokan pada indeks massa tubuh (IMT). Lingkar perut, kadar kolesterol LDL, tekanan darah, kadar gula darah, hingga riwayat penyakit dalam keluarga juga perlu menjadi perhatian.
Pendekatan tersebut dinilai lebih akurat untuk mengetahui risiko penyakit kardiovaskular sejak dini.
Dr. Susetyo menuturkan, obesitas sentral dapat terjadi pada seseorang dengan IMT normal. Kondisi ini ditandai dengan lingkar pinggang lebih dari 90 sentimeter pada pria Asia dan lebih dari 80 sentimeter pada perempuan Asia.
Penumpukan lemak di area perut tersebut diketahui berkaitan erat dengan meningkatnya risiko penyakit jantung, diabetes, serta gangguan metabolik lainnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kolesterol tinggi umumnya tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Akibatnya, banyak orang baru mengetahui dirinya memiliki risiko penyakit jantung setelah menjalani pemeriksaan kesehatan atau ketika telah muncul komplikasi.
Oleh sebab itu, pemeriksaan kadar kolesterol secara berkala tetap dianjurkan, termasuk bagi mereka yang memiliki berat badan ideal maupun bertubuh kurus.
“Tak hanya angka di timbangan yang menentukan risiko penyakit jantung. Namun, lingkar perut, kadar kolesterol LDL, dan faktor risiko lainnya juga harus diperhatikan,” tutup dr. Susetyo.
Sumber: Beritasatu.com






