SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Lifestyle Anak Suka Pilih-Pilih Makanan? Ini Cara Orang Tua Memenuhi Kebutuhan Nutrisinya

Anak Suka Pilih-Pilih Makanan? Ini Cara Orang Tua Memenuhi Kebutuhan Nutrisinya

Ilustrasi mendukung pola makan anak. (Ist/Ist)

Suara Kalbar – Memenuhi kebutuhan nutrisi anak bukan selalu perkara mudah bagi orang tua. Memasuki usia sekolah, anak biasanya mulai memiliki preferensi yang semakin kuat terhadap makanan dan minuman yang dikonsumsi.

Akibatnya, makanan yang dinilai bergizi oleh orang tua belum tentu menjadi pilihan anak. Kondisi ini membuat orang tua perlu mencari cara agar kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi tanpa menjadikan waktu makan sebagai momen penuh tekanan.

Semakin terbatas jenis makanan yang dikonsumsi anak, semakin besar pula tantangan untuk memastikan berbagai zat gizi tetap masuk ke dalam menu hariannya.

Marketing Director Coffee & Health Food PT Mayora Indah Tbk, Haruman Rustandi, mengatakan pemenuhan nutrisi anak sebaiknya tidak menjadi pengalaman yang membuat orang tua maupun anak merasa tertekan.

“Manfaat nutrisi akan terasa lebih berarti ketika hadir dalam pilihan yang juga disukai anak dan dapat mereka nikmati dengan senang hati,” ujar Haruman dalam keterangan tertulis.

Sementara itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut kebiasaan pilih-pilih makanan sebagai bagian dari food preference. Kondisi tersebut dapat muncul dalam bentuk penolakan terhadap makanan tertentu maupun keengganan anak mencoba makanan baru.

“Jangan tambah memaksa atau marah-marah,” tulis IDAI dalam edukasinya mengenai kebiasaan pilih-pilih makanan pada anak.

Menurut IDAI, salah satu bentuk food preference yang dapat muncul dalam perkembangan anak adalah neophobia, yaitu penolakan terhadap makanan baru. Kondisi tersebut masih dapat menjadi bagian dari proses perkembangan anak, tetapi perlu diperhatikan apabila penolakan berlangsung terus-menerus terhadap berbagai jenis makanan.

Preferensi rasa juga terlihat dalam sejumlah penelitian terhadap anak usia sekolah. Penelitian Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 2015 terhadap siswa SD dan SMP di Purbalingga, misalnya, menemukan adanya kecenderungan penolakan terhadap susu plain.

Penolakan tersebut tercatat pada 53 persen siswa SD dan 39,5 persen siswa SMP dalam penelitian tersebut. Sementara penelitian Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada 2016 menunjukkan rasa cokelat menjadi salah satu varian yang paling disukai siswa sekolah dasar, dengan 52,7 persen responden memilih rasa tersebut sebagai varian favorit.

Perbedaan antara makanan yang disukai anak dan kebutuhan tubuh inilah yang menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Anak mungkin lebih mudah menerima makanan dengan rasa tertentu, sementara orang tua tetap perlu memastikan menu sehari-hari beragam dan mengandung zat gizi yang dibutuhkan selama masa pertumbuhan.

Persoalan tersebut menjadi semakin penting ketika anak memiliki pilihan makanan yang sangat terbatas. Studi yang dipublikasikan dalam British Journal of Nutrition pada 2016 mencatat delapan dari 10 anak Indonesia berusia 4-12 tahun memiliki asupan EPA dan DHA di bawah standar minimum yang digunakan dalam penelitian tersebut.

DHA dan EPA merupakan asam lemak omega-3 yang memiliki berbagai fungsi dalam tubuh. DHA juga banyak terdapat pada jaringan otak dan retina sehingga kecukupan asupannya menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pola makan anak.

Meski demikian, pemenuhan nutrisi bukan berarti orang tua harus selalu mengikuti semua keinginan anak. Anak tetap perlu diperkenalkan secara bertahap pada makanan yang beragam agar terbiasa dengan berbagai rasa, tekstur, dan jenis makanan.

IDAI menyarankan orang tua tetap menyajikan menu yang berimbang, memberikan makanan dalam porsi kecil, serta terus memperkenalkan makanan baru meskipun anak sempat menolaknya.

“Orang tua juga dianjurkan memberikan contoh pola makan yang baik karena kebiasaan makan orang tua dapat memengaruhi perilaku makan anak,” tulis IDAI.

Dengan pendekatan tersebut, persoalan anak yang pilih-pilih makanan tidak hanya diukur dari seberapa banyak makanan yang berhasil dihabiskan dalam satu waktu makan.

Yang tidak kalah penting adalah melihat pola makan anak secara keseluruhan. Keragaman menu perlu dijaga agar kebutuhan energi, protein, vitamin, mineral, serta berbagai zat gizi lainnya tetap dapat terpenuhi selama masa pertumbuhan.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play