SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Teknologi Astronom Temukan Planet Paling Redup yang Pernah Dipotret Langsung dari Bumi

Astronom Temukan Planet Paling Redup yang Pernah Dipotret Langsung dari Bumi

Bintang muda Beta Pictoris. (AP/ESO/Digitized Sky Survey 2)

Suara Kalbar – Penemuan sebuah planet baru kembali memperluas pemahaman ilmuwan mengenai proses pembentukan tata surya di luar lingkungan Matahari. Kali ini, para astronom berhasil mengidentifikasi sebuah planet raksasa gas yang selama lebih dari satu dekade tersembunyi di sekitar bintang muda Beta Pictoris.

Temuan tersebut menjadi pencapaian penting karena planet itu tercatat sebagai planet paling redup yang pernah berhasil dicitrakan secara langsung dari Bumi. Selama bertahun-tahun, keberadaannya tidak terdeteksi lantaran cahaya planet tertutup sinar terang bintang induknya serta dua planet lain yang telah lebih dahulu diketahui mengorbit sistem tersebut.

Hasil penelitian ini dipublikasikan pada Rabu (15/7/2026) dalam jurnal ilmiah Astrophysical Journal Letters.

Ditemukan Dua Tim Secara Terpisah

Mengutip ABC News, penemuan ini terbilang unik karena dilakukan oleh dua kelompok astronom yang bekerja secara independen tanpa saling mengetahui hasil penelitian masing-masing.

Tim pertama dipimpin peneliti dari Skotlandia dan Jerman menggunakan Very Large Telescope (VLT) milik European Southern Observatory (ESO) di Chile. Setelah mendeteksi kandidat planet, mereka menelusuri kembali arsip pengamatan selama bertahun-tahun untuk memastikan lintasan orbit objek tersebut.

Sementara itu, tim kedua yang dipimpin ilmuwan dari Universitas California San Diego menemukan objek yang sama menggunakan Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) milik NASA.

Meski menggunakan instrumen berbeda, kedua tim akhirnya mencapai kesimpulan serupa dan memublikasikan hasil penelitian mereka dalam jurnal ilmiah yang sama.

Bersembunyi Selama 11 Tahun

Planet tersebut sebenarnya telah terekam dalam berbagai data observasi selama lebih dari 11 tahun. Namun, posisinya yang sangat dekat dengan cahaya terang Beta Pictoris membuat para astronom kesulitan membedakannya dari objek lain di sekitarnya.

Keberadaannya juga tersamarkan oleh dua planet yang telah lebih dahulu diketahui mengorbit sistem tersebut.

Salah satu pemimpin penelitian dari ESO, Markus Bonse, menggambarkan proses pencarian planet itu layaknya permainan petak umpet.

“Itu sangat banyak bermain petak umpet selama 11 tahun,” ujarnya.

Baru setelah teknologi pencitraan berkembang dan data lama dianalisis kembali, para peneliti berhasil memastikan keberadaan planet beserta jalur orbitnya.

Awalnya Ditemukan Secara Tidak Sengaja

Menariknya, penemuan tersebut bukan tujuan utama penelitian.

Saat itu, kedua tim tengah mengamati salah satu planet yang telah diketahui berada di sistem Beta Pictoris. Namun, mereka justru menemukan objek lain dengan massa lebih kecil dan tingkat kecerahan sekitar 100 kali lebih redup dibandingkan planet yang sedang diamati.

Temuan ini menunjukkan masih banyak objek langit yang kemungkinan telah lama terekam dalam arsip observasi, tetapi belum berhasil dikenali.

Sedikit Lebih Besar dari Jupiter

Hasil analisis menunjukkan planet baru tersebut merupakan planet raksasa gas yang ukurannya sedikit lebih besar dibandingkan Jupiter, planet terbesar di Tata Surya.

Planet ini membutuhkan waktu sekitar 91 tahun untuk menyelesaikan satu kali orbit mengelilingi bintang induknya. Sebagai perbandingan, Uranus memerlukan sekitar 84 tahun untuk mengorbit Matahari.

Karena berada cukup jauh dari bintang induknya, suhu planet diperkirakan relatif rendah sehingga digolongkan sebagai raksasa gas dingin.

Sistem Planet yang Masih Sangat Muda

Penemuan ini dinilai sangat penting karena Beta Pictoris merupakan sistem bintang yang masih sangat muda.

Para astronom memperkirakan usianya baru sekitar 20 juta tahun, jauh lebih muda dibandingkan Tata Surya yang diperkirakan telah berusia sekitar 4,5 miliar tahun.

Ketua tim penelitian dari Universitas California San Diego, Aidan Gibbs, mengatakan kondisi tersebut menjadikan Beta Pictoris sebagai laboratorium alami untuk mempelajari proses pembentukan planet.

Menurutnya, planet-planet raksasa kemungkinan telah terbentuk sepenuhnya, sementara planet berbatu seperti Bumi masih berpotensi mengalami perkembangan.

Ia menilai sistem ini sedang memasuki fase stabilisasi, ketika asteroid dan komet masih aktif bergerak sehingga tabrakan antarbenda langit masih sering terjadi.

Salah Satu Sistem Planet yang Paling Banyak Diteliti

Beta Pictoris telah lama menjadi perhatian para astronom karena memiliki piringan debu yang besar, yang menjadi indikasi masih berlangsungnya proses pembentukan sistem planet.

Bintang tersebut berada di konstelasi Pictor, sekitar 63 tahun cahaya dari Bumi. Artinya, cahaya yang dipancarkan Beta Pictoris membutuhkan waktu sekitar 63 tahun untuk mencapai planet kita.

Sejak pertama kali dipelajari pada dekade 1980-an, sistem ini menjadi salah satu target utama observatorium dunia untuk memahami bagaimana Tata Surya terbentuk miliaran tahun lalu.

Pencitraan Langsung Masih Sangat Langka

Menurut data NASA, hingga kini lebih dari 6.000 exoplanet telah ditemukan mengorbit bintang selain Matahari.

Namun, kurang dari 100 exoplanet yang berhasil dideteksi melalui metode pencitraan langsung seperti pada penemuan ini.

Sebagian besar exoplanet ditemukan menggunakan metode transit, yakni ketika sebuah planet melintas di depan bintang induknya sehingga menyebabkan cahaya bintang tampak sedikit meredup dari sudut pandang pengamat di Bumi.

Sebaliknya, pencitraan langsung jauh lebih sulit dilakukan karena astronom harus memisahkan cahaya planet yang sangat redup dari cahaya bintang yang jutaan kali lebih terang.

Keberhasilan tersebut menjadi salah satu pencapaian penting dalam perkembangan teknologi observasi astronomi modern.

Para peneliti berharap citra langsung planet baru ini dapat membuka jalan bagi penelitian lanjutan mengenai atmosfer, komposisi, suhu, hingga proses pembentukan planet raksasa di sistem bintang muda.

Peneliti Universitas Edinburgh, Ben Sutlieff, mengatakan keberhasilan memperoleh citra langsung memungkinkan para ilmuwan mengungkap karakteristik fisik planet tersebut secara lebih rinci pada masa mendatang.

Dengan kemampuan observasi James Webb Space Telescope (JWST) dan Very Large Telescope (VLT), para astronom optimistis masih banyak planet redup lain yang selama ini tersembunyi di balik cahaya bintang induknya dan menunggu untuk ditemukan.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play