SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Lifestyle Ilmuwan Temukan 31 Spesies Misterius Mirip Alien di Laut Dalam Brasil

Ilmuwan Temukan 31 Spesies Misterius Mirip Alien di Laut Dalam Brasil

Hewan laut siphonophore yang merupakan organisme kolonial berkerabat dengan ubur-ubur dan karang. (Dok Schmidt Ocean Institute/ROV SuBastian)

Suara Kalbar – Sebuah ekspedisi ilmiah selama dua pekan di perairan internasional lepas pantai Brasil berhasil membawa kabar mengejutkan. Para ilmuwan dunia sukses mengungkap 31 spesies hewan laut baru yang selama ini belum pernah tercatat dalam sejarah sains.

Temuan ini bukan sekadar angka. Organisme yang ditemukan memiliki bentuk unik yang sekilas menyerupai ilustrasi makhluk alien. Mulai dari cacing gossamer yang bergerak super cepat, ikan laut dalam berwajah aneh, ubur-ubur langka, hingga organisme bersel tunggal berukuran raksasa yang bisa dilihat langsung dengan mata telanjang.

Menariknya, ini disebut-sebut sebagai salah satu proses identifikasi spesies baru tercepat di dunia. Keberhasilan ini terwujud berkat sokongan teknologi mutakhir yang memungkinkan para peneliti menganalisis sampel makhluk hidup langsung di atas kapal.

Menembus Zona Misterius Bumi

Riset skala besar ini melibatkan dua lusin ilmuwan lintas negara, mulai dari Amerika Serikat, Australia, Brasil, hingga Jepang. Menggunakan kapal riset R/V Falkor milik Schmidt Ocean Institute, tim ahli yang didukung University of Western Australia ini sengaja menyasar zona tengah laut (midwater).

Zona ini merupakan wilayah remang-remang yang menjembatani permukaan laut yang terang dan dasar samudra yang gelap gulita, tepatnya di kedalaman 600 hingga 3.300 kaki (sekitar 180-1.000 meter).

Secara volume, kawasan ini adalah habitat terbesar di Bumi karena mencakup 90 persen ruang hidup di planet kita. Meski begitu, zona ini justru yang paling jarang dijamah manusia karena tekanan airnya yang ekstrem.

“Habitat terbesar di Bumi ini dipenuhi oleh hewan-hewan luar biasa yang baru mulai kita pahami,” ujar Dr. Karen Osborn, kepala ilmuwan ekspedisi dari Smithsonian National Museum of Natural History, seperti dikutip dari Popular Science, Selasa (7/7/2026).

Osborn takjub melihat bagaimana setiap spesies punya cara unik untuk bertahan hidup di lingkungan yang gelap dan bertekanan tinggi. Karena area ini belum pernah dieksplorasi, peluang menemukan makhluk baru memang terbuka sangat lebar. “Ini bisa jadi rekor penemuan hewan baru dalam waktu yang sangat singkat,” tambahnya.

Daftar Makhluk Unik yang Ditemukan

Dari 31 spesies baru yang diidentifikasi, ragamnya sangat mencengangkan. Tim ilmuwan menemukan amphipoda (krustasea kerabat kepiting), sembilan jenis ubur-ubur, serta tujuh siphonophore (organisme kolonial mirip karang).

Ditemukan juga tujuh ctenophore atau ubur-ubur sisir yang punya rambut getar berkilau untuk berenang, serta empat larvacea—organisme mirip berudu yang hidup di dalam rumah lendir. Secara garis evolusi, larvacea ini justru lebih dekat dengan manusia dibanding hewan tidak bertulang belakang lainnya.

Tak kalah menarik, ada dua spesies rhizaria raksasa. Organisme bersel satu ini berukuran sangat besar hingga bisa langsung diamati tanpa mikroskop. Lengkap dengan cumi-cumi kaca bertubuh transparan dan deretan ikan laut dalam yang wajahnya tampak asing bagi manusia.

Kecanggihan Teknologi di Atas Kapal

Lompatan besar dalam ekspedisi ini bertumpu pada robot bawah laut bernama SuBastian yang bertugas menyelami kegelapan laut dalam. Di atas kapal, para ilmuwan juga didukung ruang realitas virtual (VR), analisis genetik kilat, dan mesin gravitasi untuk mikroorganisme.

Namun, bintang utamanya adalah mikroskop laser bersistem roda berputar yang dijuluki ‘Squid’. Alat ini sukses mematahkan prosedur lama. Ilmuwan kini bisa melihat struktur sel tiga dimensi dari makhluk yang baru ditangkap secara langsung dan real-time, tanpa perlu membawa sampel pulang ke laboratorium darat.

“Kita bisa melihat sel saling berinteraksi dan membangun struktur tubuh langsung di atas kapal. Biasanya proses ini memakan waktu berminggu-minggu,” kata Osborn.

Manu Prakash, bioengineer dari Stanford University, menilai teknologi ini membuka fajar baru bagi ilmu fisiologi. Sementara itu, Direktur Eksekutif Schmidt Ocean Institute, Jyotika Virmani, optimistis bahwa kolaborasi teknologi dan VR ini adalah cetak biru masa depan penelitian kelautan dunia.

Menjaga Keseimbangan Iklim Dunia

Melansir laporan The Guardian, ekspedisi ini juga mengungkap fakta menarik terkait distribusi global. Banyak dari organisme ini ternyata hidup di kedalaman yang sama di belahan bumi lain, seperti di perairan Jepang dan California. Artinya, ada pola kehidupan yang konsisten di seluruh samudra.

Ilmuwan juga merekam adanya migrasi vertikal massal setiap harinya. Saat malam tiba, jutaan makhluk laut dalam akan bergerak naik ke permukaan untuk mencari makan. Pergerakan raksasa yang sunyi ini punya peran vital: membantu lautan menyerap dan menyimpan karbon bumi, yang krusial untuk menjaga keseimbangan iklim global.

Menariknya, ekspedisi sukses ini terjadi di tengah gejolak politik sains di AS. Pemerintahan Presiden Donald Trump sempat berencana membongkar Ocean Observatories Initiative—sistem pemantauan laut dalam senilai US$ 368 juta. Untungnya, rencana tersebut dibatalkan setelah diprotes keras oleh komunitas ilmiah global.

Bagi Osborn, temuan di perairan Brasil ini adalah alarm bahwa kolaborasi internasional tidak boleh berhenti.

“Apa yang kita temukan sejauh ini barulah puncak dari gunung es. Masih banyak kehidupan di luar sana yang bertahan dengan cara luar biasa. Bayangkan seberapa banyak yang bisa kita pelajari saat kita memahaminya nanti,” pungkas Osborn.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play