Benarkah Penderita Asam Urat Tidak Boleh Makan Tahu dan Tempe? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Suara Kalbar – Penderita asam urat kerap dihadapkan pada berbagai pantangan makanan. Salah satu yang paling sering diperdebatkan adalah tahu dan tempe. Karena berasal dari kedelai yang mengandung purin, banyak orang beranggapan kedua makanan ini dapat memicu meningkatnya kadar asam urat hingga menyebabkan serangan gout.
Namun, benarkah anggapan tersebut?
Berdasarkan berbagai penelitian medis, tahu dan tempe tidak termasuk makanan yang harus dihindari oleh penderita asam urat. Meski sama-sama mengandung purin, purin yang berasal dari tumbuhan memiliki karakteristik berbeda dibandingkan purin dari sumber hewani.
Purin Nabati Tidak Sama dengan Purin Hewani
Asam urat terbentuk dari proses pemecahan purin, yaitu senyawa alami yang terdapat di dalam tubuh maupun berbagai jenis makanan.
Meski demikian, tidak semua purin memberikan dampak yang sama terhadap peningkatan kadar asam urat dalam darah.
Purin yang berasal dari daging merah, jeroan, dan beberapa jenis makanan laut diketahui lebih berisiko memicu peningkatan kadar asam urat dibandingkan purin yang berasal dari tumbuhan, termasuk kedelai.
Temuan tersebut diperkuat oleh penelitian yang dipublikasikan dalam The New England Journal of Medicine. Studi yang dipimpin Dr. Hyon K. Choi dari Harvard Medical School melibatkan lebih dari 47.000 pria selama 12 tahun.
Hasil penelitian menunjukkan konsumsi makanan tinggi purin dari sumber nabati, termasuk tahu dan tempe, tidak berkaitan dengan meningkatnya risiko serangan asam urat. Sebaliknya, risiko lebih tinggi ditemukan pada konsumsi daging merah dan sejumlah jenis makanan laut.
Mengapa Tahu dan Tempe Aman Dikonsumsi?
Terdapat beberapa alasan mengapa tahu dan tempe tetap direkomendasikan sebagai sumber protein bagi penderita asam urat.
1. Kandungan Purin Berkurang Saat Proses Pengolahan
Dalam proses pembuatannya, kedelai mengalami perendaman, perebusan, hingga fermentasi, khususnya pada tempe.
Proses tersebut membantu mengurangi sebagian kandungan purin sehingga kadar purin pada produk akhirnya lebih rendah dibandingkan kedelai mentah.
2. Protein Kedelai Berpotensi Membantu Pembuangan Asam Urat
Sejumlah penelitian menunjukkan protein nabati dari kedelai memiliki efek urikosurik ringan, yakni membantu meningkatkan pembuangan asam urat melalui urine.
Walaupun efek tersebut tidak dapat menggantikan pengobatan, konsumsi tahu dan tempe sebagai bagian dari pola makan sehat dinilai tidak memperburuk kondisi penderita asam urat.
3. Alternatif yang Lebih Sehat Dibanding Daging Merah
Dokter umumnya menyarankan penderita asam urat membatasi konsumsi daging merah karena kandungan purinnya yang tinggi.
Sebagai pengganti, tahu dan tempe menjadi pilihan yang baik karena mengandung protein berkualitas, serat, vitamin, mineral, serta relatif rendah lemak jenuh apabila diolah dengan cara yang sehat.
Mengganti sebagian konsumsi daging merah dengan tahu atau tempe dapat membantu memenuhi kebutuhan protein tanpa meningkatkan risiko kambuhnya asam urat.
Cara Aman Mengonsumsi Tahu dan Tempe
Walaupun aman, cara pengolahan tetap perlu diperhatikan agar manfaat kesehatannya tetap optimal.
Hindari Digoreng Berlebihan
Menggoreng tahu atau tempe menggunakan minyak dalam jumlah banyak, terlebih minyak yang dipakai berulang kali, dapat meningkatkan kandungan lemak jenuh.
Kondisi tersebut berpotensi mengganggu fungsi ginjal dalam membuang asam urat dari tubuh.
Sebagai alternatif, pilih metode memasak seperti merebus, mengukus, memanggang, membacem, atau menumis dengan sedikit minyak.
Konsumsi Secukupnya
Tahu dan tempe tetap perlu dikonsumsi dalam jumlah yang seimbang sebagai bagian dari pola makan sehari-hari.
Mengonsumsinya dalam porsi wajar sebagai lauk sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan protein tanpa membebani metabolisme tubuh.
Perhatikan Bahan Pendamping
Peningkatan kadar asam urat sering kali bukan disebabkan oleh tahu atau tempe, melainkan bahan lain yang dicampurkan saat memasak.
Misalnya, tahu yang dimasak bersama jeroan, daging merah, atau makanan tinggi purin lainnya tentu memiliki risiko lebih besar memicu kenaikan kadar asam urat.
Karena itu, penting memperhatikan keseluruhan komposisi makanan, bukan hanya bahan utamanya.
Makanan yang Sebaiknya Dibatasi
Daripada menghindari tahu dan tempe, penderita asam urat lebih dianjurkan membatasi konsumsi makanan yang telah terbukti meningkatkan kadar asam urat, seperti:
- Jeroan, termasuk hati, ginjal, usus, dan limpa.
- Daging merah dalam jumlah berlebihan.
- Makanan laut tinggi purin, seperti sarden, teri, dan kerang.
- Minuman manis dengan kandungan fruktosa tinggi.
- Minuman beralkohol, terutama bir.
Selain menjaga pola makan, penderita asam urat juga disarankan memperbanyak konsumsi air putih, mempertahankan berat badan ideal, dan rutin berolahraga agar kadar asam urat tetap terkendali.
Anggapan bahwa tahu dan tempe menjadi penyebab utama kambuhnya asam urat tidak didukung oleh bukti ilmiah. Berbagai penelitian menunjukkan purin dari sumber nabati tidak memberikan efek yang sama seperti purin yang berasal dari daging merah maupun makanan laut.
Dengan pengolahan yang sehat dan konsumsi dalam jumlah yang wajar, tahu dan tempe justru dapat menjadi sumber protein yang baik bagi penderita asam urat. Sebaliknya, perhatian lebih besar sebaiknya diberikan pada pembatasan konsumsi jeroan, daging merah, makanan laut tinggi purin, minuman tinggi gula, serta alkohol.
Sumber: Beritasatu.com






