IPR Kalbar Menurun, BNPT Ajak Masyarakat Perkuat Nilai Adil Ka’ Talino dan Waspada Radikalisme di Ruang Digital
Pontianak (Suara Kalbar) – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Barat menggelar Internalisasi Hasil Survei Indeks Potensi Radikalisme (IPR) Tahun 2025 melalui forum Kajian Senin Kamis (KSK), Senin (29/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi sarana diseminasi hasil survei sekaligus memperkuat sinergi berbagai pemangku kepentingan dalam mencegah radikalisme dan ekstremisme berbasis kekerasan.
Hasil Survei IPR Tahun 2025 menunjukkan tren positif bagi Kalimantan Barat. Nilai IPR provinsi ini tercatat sebesar 10,7, turun dibandingkan tahun 2024 yang berada di angka 11,6.9
Penurunan tersebut mencerminkan semakin kuatnya daya tangkal masyarakat terhadap paham radikal serta efektivitas langkah-langkah pencegahan yang dilakukan secara kolaboratif oleh pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh agama, akademisi, organisasi masyarakat, dan FKPT Kalimantan Barat.
Dalam sambutan Direktur Pencegahan BNPT RI yang dibacakan Kepala Subdirektorat Pemberdayaan Masyarakat BNPT, Kolonel Sus Dr. Harianto, M.Pd., dijelaskan bahwa Survei IPR merupakan instrumen strategis untuk memetakan tingkat kerentanan masyarakat terhadap paham radikal.
“Survei IPR merupakan instrumen strategis yang dikembangkan BNPT untuk memahami dinamika kerentanan masyarakat terhadap paham radikal sebagai dasar penyusunan kebijakan dan program pencegahan yang lebih tepat sasaran,” ujar Harianto.
Menurutnya, hasil survei tersebut menjadi acuan penting dalam merumuskan kebijakan pencegahan yang lebih efektif sesuai karakteristik masing-masing daerah.
Salah satu faktor yang dinilai menjadi kekuatan Kalimantan Barat dalam menekan potensi radikalisme adalah karakter masyarakat yang multikultural dan terbiasa hidup berdampingan di tengah keberagaman suku, agama, budaya, dan bahasa.
Kondisi tersebut diperkuat oleh falsafah masyarakat Dayak, “Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata”, yang mengajarkan penghormatan terhadap sesama manusia, berperilaku sesuai nilai-nilai kebaikan, serta bertanggung jawab kepada Tuhan.
Peneliti FKPT Kalimantan Barat, Didi Darmadi, S.Pd.I., M.Lett., M.Pd., mengatakan pengalaman hidup dalam lingkungan yang majemuk menjadi modal sosial yang sangat penting dalam mencegah berkembangnya sikap intoleran dan eksklusif.
“Keberagaman yang hidup dan terpelihara di Kalimantan Barat merupakan modal sosial yang sangat berharga. Interaksi yang intensif antar kelompok masyarakat menciptakan ruang dialog, saling pengertian, dan penghormatan terhadap perbedaan yang menjadi benteng alami terhadap berkembangnya paham radikal,” jelas Didi yang juga merupakan dosen IAIN Pontianak.
Meski demikian, BNPT mengingatkan bahwa ancaman radikalisme kini terus bertransformasi mengikuti perkembangan teknologi informasi. Narasi intoleransi, ujaran kebencian, disinformasi, hingga propaganda ekstremisme semakin banyak beredar melalui media sosial dan berbagai platform digital yang mudah diakses masyarakat, terutama generasi muda.
Anggota Tim Review Survei IPR Tahun 2025, Lilik Purwandi, menilai kelompok yang paling rentan terhadap paparan konten radikal saat ini adalah generasi muda, perempuan, masyarakat perkotaan, serta mereka yang aktif mencari maupun menyebarkan konten keagamaan melalui internet.
“Karena itu, penguatan literasi digital, moderasi beragama, wawasan kebangsaan, dan pola asuh keluarga menjadi sangat penting untuk memperkuat daya tangkal masyarakat,” ujar Lilik.
BNPT dan FKPT Kalimantan Barat mengimbau masyarakat agar terus menjaga harmoni keberagaman yang menjadi kekuatan daerah serta meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk penyebaran paham radikal di ruang digital.
Masyarakat juga diminta tidak mudah menerima maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Pencegahan dinilai perlu diperkuat melalui peningkatan literasi digital, moderasi beragama, pendidikan karakter kebangsaan, pelestarian kearifan lokal, serta penguatan peran keluarga dalam mendampingi anak dan remaja saat beraktivitas di dunia maya.
Melalui kolaborasi yang berkelanjutan dan penguatan nilai-nilai lokal, BNPT berharap Kalimantan Barat dapat terus menjadi wilayah yang damai, toleran, inklusif, serta tangguh menghadapi ancaman radikalisme dan terorisme di era digital.
Penulis: Tim Liputan
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






