SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Lifestyle Penelitian Ungkap Asteroid Berperan Besar Membentuk Bumi Purba, Bukan Sekadar Menciptakan Kawah

Penelitian Ungkap Asteroid Berperan Besar Membentuk Bumi Purba, Bukan Sekadar Menciptakan Kawah

Ilustrasi asteroid menghantam Bumi. (ChatGPT/Beritasatu.com)

Suara Kalbar – Bumi yang dihuni manusia saat ini dikenal sebagai planet dengan benua, lautan, dan lingkungan yang mendukung kehidupan. Namun miliaran tahun silam, kondisinya jauh berbeda. Saat itu, Bumi masih berupa planet muda yang panas dan terus-menerus dihantam asteroid berukuran raksasa.

Sebuah studi terbaru yang dilakukan tim peneliti dari Curtin University dan Queensland University of Technology (QUT) mengungkap bahwa tabrakan asteroid pada masa awal pembentukan Bumi ternyata memiliki dampak jauh lebih besar daripada sekadar menciptakan kawah di permukaan.

Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science melalui makalah berjudul Impact Heating and the Hidden Hadean menunjukkan energi dari tumbukan asteroid mampu menembus hingga ke lapisan dalam planet. Kondisi itu diduga menjadi salah satu faktor utama yang membentuk evolusi geologi Bumi pada masa purba.

Peneliti menyimpulkan bahwa hujan asteroid yang terjadi berulang kali kemungkinan memperlambat terbentuknya kerak benua yang stabil karena terus memanaskan kerak dan mantel Bumi selama ratusan juta tahun.

Era Hadean, Saat Bumi Masih Sangat Dinamis

Penelitian tersebut berfokus pada periode Hadean, yakni sekitar 500 juta tahun pertama setelah Bumi terbentuk. Hingga kini, periode itu masih menjadi salah satu fase paling misterius dalam sejarah planet karena hampir tidak meninggalkan jejak batuan.

Padahal, sejumlah kristal zirkon mengindikasikan bahwa permukaan Bumi mulai terbentuk lebih dari 4,3 miliar tahun lalu. Bahkan, air diperkirakan sudah hadir sejak masa yang sangat awal.

Di sisi lain, batuan benua tertua yang berhasil ditemukan para ilmuwan baru berusia sekitar 4,03 miliar tahun. Selisih waktu tersebut menjadi teka-teki yang selama ini sulit dijelaskan.

Berdasarkan hasil studi terbaru, penyebabnya kemungkinan bukan karena kerak Bumi belum terbentuk, melainkan karena lapisan tersebut masih sangat panas, tipis, dan tidak stabil sehingga sulit bertahan hingga sekarang.

Asteroid Menjadi Sumber Panas Dominan

Untuk mengungkap kondisi Bumi purba, tim peneliti membangun model statistik yang menghitung intensitas tabrakan asteroid pada masa awal tata surya.

Mengutip Courthouse News, simulasi tersebut digunakan untuk memperkirakan besarnya energi panas yang dihasilkan setiap tumbukan serta dampaknya terhadap bagian dalam Bumi selama jutaan tahun.

Hasil pemodelan menunjukkan bahwa sepanjang sebagian besar era Hadean, energi panas akibat hantaman asteroid diperkirakan jauh lebih besar dibandingkan seluruh sumber panas internal Bumi lainnya, termasuk panas yang berasal dari peluruhan unsur radioaktif.

Temuan ini menunjukkan asteroid bukan hanya benda langit yang menyebabkan kerusakan sesaat, tetapi juga berperan penting dalam mengendalikan proses geologi Bumi pada masa awal pembentukannya.

Energi Tumbukan Menjangkau Hingga Mantel

Penulis utama penelitian, Prof. Tim Johnson dari Curtin University’s Frontier Institute for Geoscience Solutions, menjelaskan bahwa selama ini banyak orang menganggap dampak asteroid hanya terbatas pada permukaan planet.

Padahal, pada masa awal tata surya, tabrakan benda langit terjadi jauh lebih sering dibandingkan sekarang. Bukti periode pemboman besar tersebut masih dapat diamati melalui banyaknya kawah di permukaan Bulan.

Menurut Johnson, setiap asteroid besar membawa energi dalam jumlah luar biasa yang tidak berhenti di permukaan, melainkan diteruskan hingga ke lapisan mantel di bawah kerak Bumi.

Akibatnya, batuan mantel mengalami pemanasan ekstrem, mencair, kemudian menghasilkan magma dalam volume sangat besar yang bergerak naik ke permukaan. Proses tersebut terus mengubah struktur kerak Bumi selama jutaan tahun.

Berdasarkan simulasi penelitian, sebagian besar kerak Bumi pada era Hadean diperkirakan berada dalam kondisi setengah cair hingga kedalaman sekitar dua sampai tiga kilometer dari permukaan. Angka tersebut jauh lebih dangkal dibandingkan perkiraan para ilmuwan sebelumnya.

Kerak Bumi Terus Mengalami Daur Ulang

Pemanasan akibat tabrakan asteroid ternyata tidak hanya berlangsung sesaat. Dampaknya dapat bertahan selama puluhan bahkan ratusan juta tahun setelah tumbukan terjadi.

Profesor Craig O’Neill dari Queensland University of Technology mengatakan setiap hantaman asteroid berukuran besar mampu mengubah dinamika bagian dalam Bumi dalam jangka waktu yang sangat panjang.

Ia menjelaskan bahwa kerak Bumi pada masa Hadean kemungkinan belum menyerupai sistem lempeng tektonik modern yang kokoh dan stabil. Sebaliknya, lapisan tersebut masih tipis, rapuh, dan terus bergerak akibat suhu yang sangat tinggi.

Kondisi itu menyebabkan kerak lama terus mencair, pecah, dan terbentuk kembali sehingga hanya sedikit batuan dari masa tersebut yang mampu bertahan hingga sekarang.

Asteroid Diduga Membantu Lahirnya Benua Pertama

Di balik dampak destruktifnya, penelitian ini juga menemukan sisi lain dari tabrakan asteroid. Hantaman benda langit tersebut diduga turut berperan dalam pembentukan cikal bakal benua pertama di Bumi.

Saat asteroid menghantam permukaan, kerak Bumi yang masih muda akan retak sehingga memungkinkan air masuk ke dalam batuan dan bersirkulasi dalam waktu yang sangat lama.

Sementara itu, magma basaltik yang berasal dari mantel terus naik ke permukaan dan mengubah komposisi batuan secara bertahap hingga menjadi lebih kaya kandungan silika.

Jenis batuan kaya silika inilah yang kemudian menjadi ciri utama kerak benua modern. Karena itu, para peneliti menduga tumbukan asteroid justru ikut menciptakan kondisi yang memungkinkan terbentuknya benua.

Gambaran Bumi Purba Sangat Berbeda

Temuan terbaru ini memperlihatkan bahwa Bumi pada masa awal merupakan planet yang jauh lebih ekstrem dibandingkan sekarang.

Jika sebelumnya sebagian ilmuwan memperkirakan kerak dan lempeng tektonik telah berkembang sejak dini, penelitian ini justru menunjukkan kerak Bumi saat itu masih tipis, panas, dan sebagian besar berada dalam kondisi setengah cair.

Permukaan planet terus berubah akibat kombinasi hantaman asteroid, aktivitas vulkanik, pencairan mantel, dan proses daur ulang kerak yang berlangsung tanpa henti.

Saat Hujan Asteroid Mulai Mereda

Penelitian juga memberikan petunjuk mengenai kapan kondisi ekstrem tersebut mulai berakhir.

Berdasarkan bukti geologi dari Bulan, intensitas tabrakan asteroid di tata surya bagian dalam mulai menurun sekitar 3,9 miliar tahun lalu.

Menariknya, periode tersebut hampir bersamaan dengan kemunculan bukti pertama kerak benua yang mampu bertahan hingga sekarang.

Para ilmuwan menilai hubungan waktu tersebut bukan sekadar kebetulan. Ketika frekuensi tumbukan mulai berkurang, kerak Bumi memiliki kesempatan untuk mendingin, menebal, dan menjadi lebih stabil sehingga benua dapat terbentuk dan bertahan selama miliaran tahun.

Asteroid Membantu Menentukan Wajah Bumi Modern

Penelitian ini memperkuat dugaan bahwa asteroid memainkan peran yang sangat besar dalam sejarah awal Bumi.

Hantaman benda langit tersebut tidak hanya meninggalkan kawah, tetapi juga memengaruhi suhu internal planet, aktivitas vulkanik, pembentukan kerak benua, hingga kemampuan Bumi menyimpan rekam jejak geologi.

Para peneliti menyimpulkan bahwa pemboman asteroid yang berlangsung selama ratusan juta tahun menjadi salah satu faktor penting yang menentukan evolusi Bumi hingga akhirnya berkembang menjadi planet yang stabil dan layak dihuni seperti saat ini.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play