Ibu Hamil Sering Buang Air Kecil hingga Sulit Menahan Kencing, Dokter Ungkap Penyebabnya
Suara Kalbar – Frekuensi buang air kecil yang meningkat merupakan salah satu keluhan yang kerap dialami wanita selama masa kehamilan. Bahkan, sebagian ibu hamil mengalami kesulitan menahan keinginan berkemih hingga mengompol. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh perubahan fisik dan hormonal yang terjadi selama kehamilan.
Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Perempuan, Fungsional, dan Neurologi, Prof. Harrina Erlianti, menjelaskan bahwa pertumbuhan janin di dalam rahim membuat tekanan pada area perut meningkat. Tekanan tersebut kemudian memengaruhi kandung kemih sehingga ibu hamil menjadi lebih sering ingin buang air kecil.
“Adanya bayi di dalam rahim menyebabkan tekanan di dalam rongga perut bertambah. Kandung kemih ikut tertekan sehingga sensitivitasnya meningkat dan dapat menyebabkan ibu hamil sulit menahan kencing atau bahkan mengompol,” ujar Prof. Rina dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (30/6/2026).
Selain tekanan dari janin, perubahan hormon selama masa kehamilan juga meningkatkan risiko terjadinya infeksi saluran kemih (ISK). Menurut Prof. Rina, keluhan tersebut termasuk masalah kesehatan yang cukup sering dialami oleh ibu hamil.
Karena itu, ia mengingatkan agar ibu hamil tidak mengabaikan gangguan berkemih, terutama jika mulai kesulitan menahan buang air kecil atau mengalami kebocoran urine yang cukup mengganggu aktivitas sehari-hari.
“Pemeriksaan ke dokter penting dilakukan agar penyebabnya dapat diketahui lebih awal dan tidak berkembang menjadi infeksi saluran kemih selama kehamilan,” katanya.
Prof. Rina menambahkan, masih banyak pasien yang menganggap gangguan berkemih maupun gangguan dasar panggul sebagai kondisi yang normal sehingga memilih tidak memeriksakan diri ke tenaga medis.
Padahal, gangguan tersebut dapat dikenali melalui sejumlah gejala, seperti anyang-anyangan, sulit menahan keinginan buang air kecil, hingga frekuensi berkemih yang sangat sering, bahkan setiap 30 menit sampai satu jam.
Menurutnya, anggapan bahwa keluhan tersebut merupakan konsekuensi alami dari pertambahan usia atau efek setelah melahirkan membuat banyak pasien terlambat mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Oleh sebab itu, diagnosis yang akurat menjadi langkah penting untuk menentukan terapi yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasien. Dengan penanganan sejak dini, risiko komplikasi, termasuk infeksi saluran kemih selama kehamilan, dapat diminimalkan.
Sumber: Beritasatu.com






