Air Sungai Sekadau Tercemar, Warga Keluhkan Keramba Ikan Tak Bisa Beroperasi Lagi
Sekadau (Suara Kalbar) – Aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang diduga masih terjadi di wilayah hulu Sungai Sekadau dikeluhkan warga karena dinilai telah berdampak pada kualitas air sungai dan mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada sektor perikanan.
Zulkifli (51), salah seorang warga Penanjung, Desa Mungguk, Kecamatan Sekadau Hilir, mengaku kondisi Sungai Sekadau saat ini sudah jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Menurutnya, air sungai yang dulunya relatif jernih kini keruh sehingga tidak lagi mendukung usaha budidaya ikan keramba yang selama ini menjadi sumber penghasilan sebagian warga.
“Sekarang sudah tidak pelihara ikan keramba lagi. Air keruh. Ikan mati semua, tidak hidup,” ujar Zulkifli, Kamis (25/6/2026).
Ia mengatakan, sebelum kondisi sungai berubah, masyarakat di kawasan Penanjung banyak memanfaatkan aliran Sungai Sekadau untuk membudidayakan berbagai jenis ikan air tawar menggunakan keramba. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, usaha tersebut perlahan ditinggalkan karena tingkat kematian ikan semakin tinggi.
Menurut Zulkifli, kerusakan kualitas air sungai tidak hanya berdampak pada pelaku usaha keramba, tetapi juga berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat yang memanfaatkan sungai untuk berbagai kebutuhan sehari-hari.
Ia berharap pemerintah bersama seluruh pihak terkait dapat lebih serius memperhatikan kondisi Sungai Sekadau yang selama ini menjadi salah satu ikon dan sumber kehidupan masyarakat Kabupaten Sekadau.
“Harapan kami pemerintah dan semua pihak peduli dengan kondisi Sungai Sekadau. Dulu sungai ini menjadi kebanggaan masyarakat, sekarang kondisinya memprihatinkan,” katanya.
Zulkifli juga menilai alasan ekonomi yang sering dikemukakan untuk membenarkan aktivitas pertambangan tidak dapat mengabaikan dampak yang ditimbulkan terhadap masyarakat luas.
“Kalau alasan kerja tambang urusan perut dan makan, dulu sebelum kerja tambang juga makan. Tetapi sekarang dampaknya dirasakan masyarakat luas,” tegasnya.
Keluhan warga tersebut menambah daftar kekhawatiran masyarakat terhadap keberlanjutan lingkungan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Sekadau. Warga berharap adanya langkah konkret dari pemerintah, aparat penegak hukum, dan seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga kelestarian sungai serta menindak aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan.
Penulis: Tim Liputan
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






