Produsen Mobil China Mulai Incar Pabrik Otomotif Eropa yang Menganggur
Suara Kalbar – Pabrikan otomotif asal China semakin agresif memperluas bisnis di Eropa dengan membidik pabrik mobil milik produsen Eropa yang mulai kelebihan kapasitas produksi.
Fenomena tersebut mencerminkan perubahan besar dalam industri otomotif global ketika produsen mobil Eropa mulai tertekan, sementara industri otomotif China terus berkembang pesat.
Managing Director Xpeng untuk Eropa Timur Laut, Elvis Cheng, mengatakan perusahaannya tengah mencari lokasi pabrik di Eropa. Namun, menurut dia, sejumlah fasilitas manufaktur lama di kawasan tersebut dinilai sudah kurang kompetitif.
“Ada beberapa lokasi yang menurut saya sudah cukup tua,” ujar Cheng dalam konferensi Financial Times.
Komentar tersebut dinilai menggambarkan pergeseran kekuatan industri otomotif global, termasuk tekanan yang kini dihadapi produsen besar Eropa seperti Volkswagen.
Penjualan mobil China di Eropa terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data analis otomotif Matthias Schmidt, pangsa pasar mobil China di Eropa Barat mencapai 8,6% pada kuartal I 2026, hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sejumlah produsen China seperti BYD, Changan, Chery, Dongfeng, dan Geely kini mulai mempertimbangkan produksi langsung di Eropa.
Sebagian memilih membangun pabrik baru, tetapi sebagian lain membuka peluang menggunakan fasilitas manufaktur milik produsen Eropa yang tidak lagi terpakai secara optimal.
Nissan dilaporkan tengah berdiskusi dengan Chery untuk menggunakan sebagian fasilitas pabriknya di Sunderland, Inggris. Sebelumnya, Nissan juga telah menjual salah satu pabriknya di Barcelona kepada Chery.
Ford disebut sepakat menjual sebagian fasilitasnya di Valencia, Spanyol, kepada Geely. Sementara Stellantis pekan lalu mengumumkan dua pabriknya di Spanyol akan memproduksi mobil untuk Leapmotor asal China.
Bagi produsen Eropa, masuknya investasi China dinilai dapat membantu mengurangi tekanan akibat penurunan penjualan mobil dan kapasitas pabrik berlebih.
Penjualan mobil di Eropa turun dari 15,3 juta unit pada 2019 menjadi kurang dari 13 juta unit pada 2025. Kondisi tersebut diperburuk tarif Amerika Serikat yang menekan ekspor mobil Eropa.
Namun, di sisi lain, sejumlah produsen Eropa juga khawatir kerja sama tersebut justru memperkuat pesaing yang saat ini mulai merebut pangsa pasar mereka.
Seorang eksekutif industri otomotif Eropa menyebut produsen mobil China kini menjadi ancaman serius, mulai dari segmen kendaraan massal hingga mobil mewah.
Meski demikian, CEO Stellantis Antonio Filosa menilai kemitraan dengan perusahaan China tetap dapat memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.
Sumber: Beritasatu.com
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS





