SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Teknologi IMF Peringatkan Serangan Siber AI Bisa Picu Krisis Keuangan Global

IMF Peringatkan Serangan Siber AI Bisa Picu Krisis Keuangan Global

Ilustrasi serangan siber berbasis AI. (Unsplash/Rohan)

Suara Kalbar – Dana Moneter Internasional atau IMF memperingatkan serangan siber berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) berpotensi memicu krisis keuangan global apabila tidak dikelola dengan hati-hati.

Dalam analisis terbarunya, IMF menilai kemampuan AI yang semakin canggih kini tidak hanya membantu pertahanan siber, tetapi juga memperkuat kemampuan ofensif para pelaku serangan digital.

Menurut IMF, ancaman siber yang didorong AI dapat mengganggu stabilitas sistem keuangan global melalui gangguan pembayaran, tekanan likuiditas, hingga menurunkan kepercayaan terhadap sistem keuangan secara luas.

“Risiko siber yang didorong AI dapat mengganggu stabilitas sistem keuangan jika tidak dikelola dengan hati-hati,” tulis IMF dalam analisis resminya, yang dikutip Selasa (12/5/2026).

IMF menjelaskan sistem keuangan modern saat ini sangat bergantung pada infrastruktur digital bersama, mulai dari perangkat lunak, layanan cloud, hingga jaringan pembayaran dan pertukaran data.

Ketergantungan besar terhadap sistem yang saling terhubung tersebut membuat satu celah keamanan berpotensi menciptakan efek domino di banyak lembaga keuangan sekaligus.

Model AI Mythos Picu Kekhawatiran Global

Peringatan IMF muncul setelah diperkenalkannya model AI bernama Mythos milik Anthropic. Model AI tersebut memicu kekhawatiran global karena memiliki kemampuan luar biasa dalam mengidentifikasi dan mengeksploitasi kerentanan perangkat lunak dalam skala besar.

Menurut IMF, Mythos mampu menemukan dan mengeksploitasi celah keamanan pada berbagai sistem operasi utama dan browser web, bahkan ketika digunakan oleh orang nonahli.

Kemampuan tersebut dinilai dapat memangkas waktu dan biaya yang dibutuhkan untuk menemukan kelemahan sistem digital secara drastis. Akibatnya, serangan siber dapat dilakukan jauh lebih cepat dibanding proses perbaikan dan penutupan celah keamanan oleh pihak pertahanan.

Saat berbicara di Columbia University pada April lalu, Gubernur Bank of England Andrew Bailey, bahkan memperingatkan model AI terbaru Anthropic berpotensi membuka seluruh risiko dunia maya.

Karena tingkat risikonya dinilai sangat tinggi, Anthropic tidak merilis Mythos secara terbuka. Perusahaan tersebut memilih memberikan akses terbatas kepada sekitar 40 perusahaan teknologi dan keamanan yang dianggap penting untuk perlindungan siber, termasuk NVIDIA, Apple, Amazon Web Services, dan Microsoft.

CEO Anthropic Dario Amodei juga menyatakan pihaknya akan bekerja sama dengan Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan negara sekutu untuk menghadapi ancaman AI di masa depan.

Serangan Siber AI Dinilai Bisa Mengganggu Stabilitas Keuangan

IMF menilai ancaman terbesar dari serangan siber berbasis AI bukan lagi sekadar pencurian data, melainkan risiko kegagalan sistemik yang dapat mengguncang stabilitas keuangan global.

Dalam laporan tersebut dijelaskan model AI modern mampu mempercepat proses eksploitasi kerentanan secara otomatis dengan kecepatan mesin.

Situasi ini membuat penyerang memiliki keunggulan dibanding pihak pertahanan karena proses menemukan dan menyerang celah keamanan bisa berlangsung jauh lebih cepat dibanding proses perbaikan sistem.

Jika serangan terjadi pada perangkat lunak atau layanan cloud yang digunakan banyak lembaga keuangan secara bersamaan, dampaknya bisa sangat luas. IMF memperingatkan gangguan tersebut dapat memicu gangguan sistem pembayaran, tekanan likuiditas, krisis kepercayaan terhadap lembaga keuangan, hingga potensi kepanikan pasar.

Risiko ini juga diperburuk oleh tingginya ketergantungan sektor keuangan terhadap sejumlah kecil penyedia teknologi global. Jika satu platform besar mengalami gangguan akibat serangan AI, dampaknya dapat menyebar ke berbagai institusi sekaligus.

Ancaman Tidak Hanya Mengincar Sektor Keuangan

IMF menegaskan ancaman serangan siber AI tidak hanya menyasar lembaga keuangan. Sektor keuangan disebut berbagi fondasi digital yang sama dengan sektor energi, telekomunikasi, dan layanan publik.

Artinya, satu kerentanan yang berhasil dieksploitasi dapat memicu gangguan lintas sektor secara bersamaan. Kondisi tersebut meningkatkan risiko terjadinya efek sistemik dalam skala nasional maupun global.

IMF bahkan menyebut ancaman siber kini telah berkembang menjadi potensi guncangan makroekonomi yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi dunia.

AI Juga Bisa Menjadi Senjata Pertahanan Siber

Meski memperingatkan risikonya, IMF menilai AI juga dapat menjadi bagian penting dalam sistem pertahanan siber modern. Lembaga keuangan kini semakin banyak menggunakan teknologi AI untuk mendeteksi ancaman siber, mencegah penipuan digital, mengidentifikasi kerentanan sistem, hingga merespons insiden keamanan secara otomatis.

AI juga dinilai mampu membantu menemukan kelemahan perangkat lunak sejak tahap pengembangan sehingga celah keamanan dapat ditutup sebelum dimanfaatkan penyerang.

Namun IMF menekankan penggunaan AI dalam pertahanan siber harus tetap dibarengi tata kelola yang kuat, pengawasan manusia, serta sistem pemulihan bencana yang matang.

Selain itu, lembaga keuangan juga diminta memperkuat program jaminan keamanan siber, kelangsungan bisnis, pengawasan internal, serta praktik kebersihan siber yang baik.

IMF Minta Pengawasan dan Regulasi Lebih Kuat

IMF menilai ancaman serangan siber berbasis AI harus diperlakukan sebagai isu utama stabilitas keuangan global, bukan sekadar masalah teknis. Oleh karena itu, lembaga tersebut mendorong pemerintah dan regulator untuk memperkuat pengawasan, standar ketahanan siber, serta koordinasi lintas sektor.

Menurut IMF, fokus kebijakan tidak boleh hanya pada pencegahan serangan, tetapi juga kemampuan merespons dan memulihkan sistem ketika serangan berhasil terjadi.

Pengujian stres siber, analisis skenario serangan, hingga pengawasan risiko siber di tingkat direksi dinilai kini menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas sistem keuangan.

IMF juga menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah dan sektor swasta dalam berbagi intelijen ancaman serta penanganan insiden keamanan siber.

Risiko Siber AI Bersifat Lintas Negara

IMF memperingatkan risiko serangan siber tidak mengenal batas negara. Ketika kemampuan AI menyebar ke berbagai wilayah, lemahnya pengawasan di satu negara dapat memengaruhi sistem global yang saling terhubung.

Negara berkembang disebut berpotensi menjadi korban paling rentan karena umumnya memiliki sumber daya pertahanan siber yang lebih terbatas.

Oleh karena itu, IMF menyerukan kerja sama internasional yang lebih kuat, peningkatan kapasitas keamanan siber, serta pertukaran informasi global untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dunia.

Lembaga tersebut menilai pertanyaan terpenting saat ini bukan lagi apakah serangan siber berbasis AI akan terjadi, melainkan apakah sistem keuangan global cukup kuat untuk tetap berfungsi ketika menghadapi tekanan besar akibat serangan tersebut.

Sumber: Beritasatu.com

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play