SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Otomotif Krisis Energi Global Dorong Lonjakan Kendaraan Listrik di Nepal

Krisis Energi Global Dorong Lonjakan Kendaraan Listrik di Nepal

Ilustrasi mobil listrik. (Freepik/Frimufilms)

Suara Kalbar – Lonjakan harga energi global akibat konflik di Timur Tengah memicu perubahan signifikan pada pola transportasi di Nepal.

Masyarakat kini semakin beralih ke kendaraan listrik atau electric vehicle (EV), dengan permintaan yang melonjak hingga membebani kapasitas dealer.

Berdasarkan data pemerintah, impor EV menembus lebih dari 13.500 unit sepanjang pertengahan 2024 hingga pertengahan 2025. Angka ini mencapai dua kali lipat dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin, serta melonjak tajam dari hanya tujuh unit sekitar satu dekade lalu.

Di ibu kota Kathmandu, kendaraan listrik buatan China semakin mendominasi jalanan. Bahkan, sekitar 60% mikrobus yang masuk ke kota dari jalur utama kini telah menggunakan tenaga listrik.

Juru bicara bea cukai Kishor Bartaula menyebut tren peningkatan ini masih akan berlanjut, dengan ratusan unit kendaraan listrik saat ini masih menunggu proses masuk di pelabuhan.

Sejalan dengan kebijakan energi bersih, pemerintah juga berencana mengganti sekitar 10.000 kendaraan yang rusak akibat aksi protes antikorupsi tahun lalu dengan kendaraan listrik.

Ketidakpastian pasokan bahan bakar global turut mengubah preferensi masyarakat. Salah satu warga, Shraban Bhattari (49), memilih beralih ke mobil listrik produksi China, BYD Atto 2, untuk menekan biaya operasional harian. “Saya tidak perlu lagi pergi ke pom bensin,” ujarnya dilansir dari MalayMail.

Pada April 2026, pemerintah Nepal juga meresmikan kerangka hukum yang memungkinkan konversi kendaraan berbahan bakar fosil menjadi listrik atau retrofitting.

Namun, lonjakan permintaan tersebut menimbulkan tantangan baru bagi pelaku usaha. Dealer kendaraan listrik mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan pasar yang terus meningkat.

Petugas hubungan pelanggan Ritima Pandey mengungkapkan kenaikan harga diesel mendorong banyak masyarakat menukar kendaraan lama mereka dengan EV. “Semakin sulit memenuhi permintaan,” ujarnya.

Selain konsumen individu, lembaga pendidikan seperti sekolah dan perguruan tinggi juga mulai mempertimbangkan penggunaan armada kendaraan listrik, menandai pergeseran yang lebih luas dalam sektor transportasi.

Pakar energi Govind Raj Pokharel menilai momentum ini perlu dimanfaatkan pemerintah untuk mendorong pengembangan industri manufaktur dan perakitan EV dalam negeri. “Ini akan menjadi solusi jangka panjang bagi Nepal,” katanya.

Sumber: Beritasatu.com

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play