SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Daerah Sambas Putra Asli Sambas Prof. Dr. Erwin Dianugerahi Gelar Profesor atas Dedikasi pada Sejarah Pendidikan Islam

Putra Asli Sambas Prof. Dr. Erwin Dianugerahi Gelar Profesor atas Dedikasi pada Sejarah Pendidikan Islam

Prof. Dr. Erwin

Pontianak (Suara Kalbar) — Dunia akademik dan kebudayaan Kalimantan Barat patut berbangga. Akademisi sekaligus dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, Prof. Dr. Erwin, S.Ag., M.Ag., putra asli kelahiran Sambas, resmi meraih pencapaian akademik tertinggi sebagai Guru Besar (Profesor) dalam bidang Sejarah Pendidikan Islam.

Penganugerahan gelar Profesor tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan intelektual Prof. Erwin yang selama ini dikenal memiliki kepakaran pada kajian manuskrip, bahasa Melayu Sambas, adat istiadat, serta aksara Arab Melayu. Perannya yang memadukan fungsi sebagai akademisi, peneliti, sekaligus praktisi budaya, menjadikannya sosok sentral dalam upaya pelestarian kebudayaan Melayu Borneo.

Karya Monumental untuk Pelestarian Bahasa dan Adat

Sepanjang karier akademiknya, Prof. Erwin telah melahirkan sejumlah karya yang memberikan kontribusi signifikan terhadap dokumentasi dan penguatan identitas lokal. Beberapa karya penting yang menjadi rujukan antara lain:

Kamus Bahasa Melayu Sambas (2020) sebagai upaya pelestarian kosakata lokal

Karya Pusaka Maharaja Imam Sambas (2023) untuk merevitalisasi tokoh dan warisan intelektual

Tesaurus Melayu Sambas (2024) dalam memperkaya relasi makna bahasa

Jejak Adat Warisan Ilmu: Glosarium Tradisi Pernikahan Melayu Sambas (2025)

Transliterasi Kitab Mi’raj Juzu’ karya H. Ismail Mundu (2025)

Karya-karya tersebut tidak hanya memperkaya khazanah literatur daerah, tetapi juga menjadi pijakan penting dalam pengembangan studi kebudayaan Melayu di kawasan Borneo.

Konsistensi dalam Kajian Sejarah Pendidikan Islam

Sebagai Guru Besar Sejarah Pendidikan Islam, Prof. Erwin dikenal konsisten mengkaji manuskrip klasik Borneo yang sarat nilai pendidikan. Sejumlah penelitiannya menyoroti pemikiran pendidikan dalam kitab-kitab klasik, seperti Nasihat al-Zaman dan Hidayyat al-Irshad Fi Nasihat al-Walad karya Tuan Besar Raja Kubu Syarif Saleh Alaydrus (wafat 1943).

Selain itu, ia juga aktif meneliti pemikiran pembaharuan pendidikan Islam berbasis manuskrip Maharaja Imam Basiuni Imran Sambas, serta mengangkat sejarah institusi filantropi Islam melalui kajian tentang Baitul Mal Kerajaan Sambas periode 1915–1931 sebagai instrumen transformasi sosial keislaman.

Dedikasi hingga Tingkat Internasional

Tidak hanya berkiprah di dunia akademik, Prof. Erwin juga aktif melakukan pengabdian kepada masyarakat. Ia rutin menjadi narasumber dalam berbagai kegiatan literasi dan pelatihan, di antaranya:

Pelatihan baca tulis Arab Melayu (Jawi) bagi pelajar di Kabupaten Sambas dan Mempawah (2025)

Literasi budaya Sambas bagi para guru

Workshop literasi manuskrip Borneo bagi mahasiswa se-Kalimantan Barat (2026)

Di tingkat internasional, kiprahnya juga semakin diakui. Sejak 2023 hingga 2026, ia aktif sebagai presenter dan pembicara dalam berbagai forum bergengsi, termasuk Borneo Islamic International Conference yang digelar di Samarinda, Bandar Seri Begawan (Brunei Darussalam), dan Pontianak.

Pada tahun 2026, Prof. Erwin dijadwalkan menjadi pembicara tamu dalam International Seminar and Dai Capacity Building Program di Sambas yang akan dihadiri akademisi dari enam negara, yakni Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Singapura, dan Filipina.

Pencapaian gelar Guru Besar ini menjadi pengakuan formal atas dedikasi dan kepakaran Prof. Dr. Erwin, S.Ag., M.Ag. Lebih dari itu, capaian tersebut menegaskan kontribusinya dalam merawat dan menjembatani warisan sejarah pendidikan Islam klasik dengan dinamika dan kebutuhan masyarakat modern, khususnya di kawasan Borneo.

Penulis: Tim Liputan

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play