Harisson Ajak Kader HMI Bangun Kepemimpinan Jujur dan Peduli Sosial
Pontianak (Suara Kalbar) – Semangat membangun kepemimpinan yang berintegritas dan mampu menjawab tantangan zaman menjadi salah satu fokus dalam agenda Intermediate Training (LK-II) HMI Cabang Kubu Raya yang digelar di Ruang Meranti Kantor BPSDM Provinsi Kalimantan Barat, Selasa (28/4/2026).
Sebagai narasumber, Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat, Harisson, memberikan materi bertemakan “Kepemimpinan dan Tata Kelola Pemerintahan, Kepemimpinan Berbasis Nilai sebagai Fondasi Membangun Kepercayaan Publik”.
Dalam paparannya, Harisson menyampaikan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal jabatan atau kekuasaan, melainkan kemampuan untuk mempengaruhi, mengarahkan, dan menginspirasi orang lain menuju tujuan yang telah ditetapkan.
“Pemimpin tidak cukup hanya memiliki posisi, kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi dan menggerakkan orang lain agar bersama-sama mencapai tujuan. Dalam organisasi, seorang pemimpin harus mampu menjadi inspirasi dan pembimbing bagi anggotanya,” ucap Harisson yang juga Ketua Umum KAHMI Kalbar ini.
Ia menjelaskan bahwa dalam konteks kaderisasi organisasi seperti HMI, kepemimpinan harus dibangun dari nilai-nilai yang kuat. Seorang pemimpin dituntut mampu mengambil keputusan secara tepat berdasarkan analisis yang matang serta terbuka terhadap masukan dari anggota.
“Keputusan yang baik lahir dari proses yang baik, pemimpin harus mendengar, berdiskusi, dan mempertimbangkan banyak aspek sebelum menentukan langkah. Di sinilah pentingnya kebijaksanaan dalam memimpin,” katanya.
Dirinya menyoroti pentingnya fungsi pemimpin dalam mengembangkan kader, pemimpin tidak hanya bertugas mengarahkan organisasi, tetapi juga menciptakan ruang pembelajaran agar anggota tumbuh menjadi pribadi yang berkualitas dan siap menghadapi tantangan.
“Pemimpin harus mampu mencetak pemimpin berikutnya, organisasi akan kuat apabila kaderisasi berjalan baik, karena keberlanjutan lahir dari proses pembinaan yang konsisten,” ungkapnya.
Selain itu, kemampuan mengelola konflik juga menjadi bagian penting dalam kepemimpinan. Ia menilai setiap organisasi pasti menghadapi perbedaan pandangan, sehingga pemimpin harus memiliki kecakapan menjadi penengah dan pencari solusi.
“Konflik itu hal biasa dalam organisasi, yang terpenting adalah bagaimana pemimpin mampu menyelesaikannya dengan adil dan menjaga kebersamaan. Pemimpin harus hadir sebagai penyejuk, bukan memperbesar persoalan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pemimpin juga harus mampu menyusun strategi yang realistis dan terukur. Perencanaan yang baik menjadi pondasi dalam menjalankan visi organisasi agar tujuan dapat tercapai secara bertahap.
“Visi tidak akan berjalan tanpa strategi. Pemimpin harus memiliki arah yang jelas, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Perencanaan adalah bagian penting dari tata kelola yang baik,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, dirinya juga menyampaikan bahwa kualitas utama seorang pemimpin terletak pada integritas, kemampuan komunikasi, dan kepedulian sosial.
“Kepercayaan publik tidak dibangun dari pencitraan, tetapi dari kejujuran dan konsistensi. Ketika pemimpin memiliki integritas, masyarakat akan percaya terhadap kebijakan dan arah yang dibangun,” terangnya.
Ia juga menilai kemampuan komunikasi menjadi faktor penting dalam membangun hubungan yang sehat di dalam organisasi.
“Pemimpin harus bisa berkomunikasi dengan baik. Komunikasi bukan hanya berbicara, tetapi juga mendengar, memahami, dan merangkul anggota agar tercipta kesamaan visi,” tuturnya.
Tak kalah penting, mantan kadis kesehatan ini mengingatkan kepemimpinan harus memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial. Kader HMI perlu menjadi bagian dari solusi di tengah masyarakat melalui kontribusi nyata.
“Organisasi mahasiswa harus hadir menjawab persoalan masyarakat, kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang peduli dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya,” pesan Harisson.
Melalui kegiatan LK-II tersebut, Sekda berharap para kader HMI dapat memperkuat karakter kepemimpinan yang berlandaskan nilai, integritas, dan semangat pengabdian. Generasi muda memiliki peran penting dalam pembangunan bangsa, sehingga proses kaderisasi harus dimanfaatkan sebagai ruang belajar dan pembentukan karakter.
“Kader muda harus berani mengambil peran, bangas ini membutuhkan pemimpin yang bukan hanya cerdas, tetapi juga jujur, peduli, dan mampu bekerja untuk kepentingan masyarakat,” tutupnya.
Penulis: Tim Liputan
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS





