SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Daerah Sambas Harga Gabah Naik, Petani Sambas Tetap Terkendala Irigasi

Harga Gabah Naik, Petani Sambas Tetap Terkendala Irigasi

Bangsal Pascapanen Kelompok Tani Dare Nandung, Desa Semparuk, Kecamatan Semparuk, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. SUARAKALBAR.CO.ID/Serawati

Sambas (Suara Kalbar) – Harga gabah di Kabupaten Sambas, mulai merangkak naik dalam beberapa pekan terakhir, membawa angin segar bagi petani. Namun di balik tren positif tersebut, Kelompok Tani Dare Nandung, Desa Semparuk, Kecamatan Semparuk, Kabupaten Sambas justru menyoroti persoalan klasik yang belum terselesaikan, yakni keterbatasan saluran irigasi yang dinilai masih menjadi penghambat utama peningkatan produksi pangan.

Ketua Kelompok Tani Dare Nandung, Sukiman, yang juga pemilik pabrik penggilingan padi terbesar di Kabupaten Sambas dan satu-satunya yang bekerjasama dengan Bulog, menyampaikan bahwa saat ini harga gabah mengalami kenaikan dibandingkan sebelumnya.

“Untuk harga gabah kering panen di lapangan saat ini sekitar Rp6.800 per kilogram, dan ketika sampai di gudang bisa mencapai Rp7.000 per kilogram,” ujar Sukiman, Kamis (23/4/2026).

Ia menjelaskan, tren kenaikan harga tersebut mulai terjadi sejak 9 April, setelah sebelumnya harga gabah berada di kisaran Rp6.500 per kilogram di tingkat petani.

Menurutnya, kondisi ini menjadi perhatian sekaligus keluhan bagi petani, khususnya di Kecamatan Semparuk, meskipun mereka tetap mendukung program kedaulatan pangan nasional.

“Petani sangat mendukung program tersebut, namun kendala utama yang dihadapi saat ini adalah saluran irigasi, terutama saluran sekunder,” ungkapnya.

Sukiman menilai, kenaikan harga gabah memang memberikan dampak positif terhadap ekonomi petani, meski peningkatannya belum terlalu signifikan.

Ia menyebutkan, sebagian petani mulai merasakan perbaikan kesejahteraan, bahkan ada yang sudah mampu menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi.

Namun, peningkatan produksi belum optimal karena pola tanam yang masih semi mekanis serta belum maksimalnya pemanfaatan alat dan mesin pertanian.

“Program Brigade Pangan sebenarnya sudah membantu melalui alsintan, tetapi belum berjalan optimal karena kendala irigasi,” katanya.

Ia menambahkan, sekitar setengah wilayah pertanian di Kabupaten Sambas masih bergantung pada kondisi cuaca, sehingga rawan terdampak saat musim kemarau.

Menurut Sukiman, potensi sumber air sebenarnya cukup besar karena wilayah ini memiliki banyak sungai, namun belum dimanfaatkan secara maksimal akibat keterbatasan saluran sekunder.

Ia pun berharap pemerintah pusat dapat memberikan dukungan anggaran untuk pembangunan irigasi, mengingat keterbatasan dana di tingkat daerah.

“Jika saluran sekunder dapat dibangun, indeks pertanaman bisa meningkat dari 200 menjadi 300, dan produksi bisa naik hingga 6 sampai 8 ton per hektare,” jelasnya.

Penulis: Serawati

Komentar
Bagikan:

Iklan