Festival Naik Dango 2026 Hadirkan Lomba Meraut Pabayo, Upaya Lestarikan Budaya Dayak
Pontianak (Suara Kalbar) – Festival Naik Dango Tahun 2026 yang di adakan di Rumah Radank Pontianak tidak hanya menghadirkan berbagai hiburan budaya tapi juga beragam perlombaan yang menarik. Salah satunya adalah lomba meraut Pabayo.
Menurut keterangan Sajem, salah satu juri lomba meraut pabayo. Pabayo adalah alat ritual dari suku Dayak yang berasal dari bambu dan diraut dengan sangat tipis sehingga membentu rumbaian, rumbaian itu bisa terdiri dari 2 tinggkat hingga 7 tingkat tergantung sebenar apa suatu acara. Jika acara tersebut semakin besar maka semakin tinggi pula tingkat Pabayonya.
“Pabayo itu alat ritual dari suku Dayak yang saat ini generasi muda dalam membuatnya itu sudah berkurang, sementara pabayo ini selalu dipakai, selalu digunakan pada saat-saat acara ritual. Nah, dari setiap ritual pabayo itu berbeda-beda, ada seperti misalnya saat berobat atau berdukun, saat berhuma (berladang), saat gawai, atau dengan ritual lain, itu semua berbeda,” katanya.
Sajem mengatakan bahwa dengan adanya lomba ini diharapkan generasi muda dapat belajar dan mengenal apa itu Pabayo sebagai bentuk melestarikan adar budaya suku Dayak.
“Panitia Naik Dango untuk tahun ini memperlombakan meraut pabayo, supaya harapannya bahwa generasi muda semakin berminat untuk membuatnya, karena membuatnya itu cukup unik, bahannya dari bambu, cara merautnya mesti baik, tidak putus, harus bergelombang, menghasilkan keindahan, dan ada seninya,” ujarnya.
Lomba meraut Pabayo ini diikuti oleh 3 orang peserta, salah satunya Felix yang mengatakan bahwa lomba ini tidak semudah yang terlihat.
“Meraut Pabayo ini kelihatannya saja yang mudah, tapi ketika kita yang merautnya itu susah, perlu fokus agar bambu yang diraut tidak putus, selain itu pisau yang digunakan juga harus tajam,” katanya.
Felix menambahkan sejak kecil dirinya sudah akrab melihat orang meraut Pabayo, barulah ketika dewasa dirinya juga belajar membuat alat khas suku dayak ini.
“Saya sudah berapa tahun belajar meraut Pabayo ini, sampai sekarang juga belum sempurna, tidak semudah kelihatannya ketika membuatnya, jadi bisa tergantung dari bambunya juga, dari pisaunya juga,” jelasnya.
Menurut Felix, tradisi untuk membuat Pabayo ini haruslah di lestarikan kepada generasi muda agar kebudayaan ini tidak hilang ditelan kemajuan zaman.
Penulis: Meriyanti





