SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Lifestyle Jangan Tertukar, Ini Perbedaan Campak dan Rubela

Jangan Tertukar, Ini Perbedaan Campak dan Rubela

Serupa tetapi tak sama, gejala campak dan rubela memiliki perbedaan yang cukup jelas. (Freepik.com/Freepik)

Suara Kalbar – Campak dan rubela kerap dianggap sebagai penyakit yang sama karena keduanya sama-sama menimbulkan ruam merah pada kulit. Padahal, kedua penyakit infeksi virus ini memiliki gejala, tingkat keparahan, serta risiko kesehatan yang berbeda.

Kesalahan dalam mengenali perbedaan campak dan rubela dapat menyebabkan keterlambatan penanganan, terutama pada anak-anak dan kelompok rentan. Oleh karena itu, memahami karakteristik masing-masing penyakit menjadi langkah penting untuk mencegah komplikasi serta penularan yang lebih luas.

Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menjelaskan,  campak merupakan penyakit yang sangat menular dan berpotensi menyebabkan komplikasi serius. Sementara itu, rubela umumnya bersifat lebih ringan, tetapi dapat menimbulkan risiko serius jika terjadi pada ibu hamil karena dapat berdampak pada perkembangan janin.

Meski sekilas tampak serupa, perbedaan antara campak dan rubela sebenarnya dapat dikenali sejak fase awal infeksi melalui pola gejala, tingkat demam, hingga tanda khas yang muncul sebelum ruam berkembang. Mengutip laman resmi Centers for Disease Control and Prevention, Rabu (1/4/2026) ini penjelasan perbedaan gejala campak dan rubela.

Gejala Campak Lebih Berat dan Muncul Bertahap

Campak atau measles merupakan infeksi virus yang menyerang saluran pernapasan sebelum menyebar ke seluruh tubuh. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (AS) gejala campak biasanya muncul sekitar 7 hingga 14 hari setelah seseorang terpapar virus.

Pada tahap awal, penderita umumnya mengalami demam tinggi yang disertai batuk, pilek, dan mata merah. Gejala ini kemudian berkembang secara bertahap sebelum muncul ruam khas yang biasanya muncul sekitar tiga hingga lima hari setelah gejala awal.

Ruam campak biasanya dimulai dari wajah, kemudian menyebar ke leher, badan, hingga seluruh tubuh. Selain itu, terdapat tanda khas berupa bintik putih kecil di dalam mulut yang disebut Koplik spots, yang sering muncul sebelum ruam berkembang.

Beberapa gejala campak yang umum terjadi meliputi:

  • Demam tinggi yang dapat mencapai lebih dari 40 derajat celsius.
  • Batuk kering yang berlangsung terus-menerus .
  • Pilek dan sakit tenggorokan.
  • Mata merah serta sensitif terhadap cahaya.
  • Bintik putih di dalam mulut (Koplik spots).
  • Ruam merah yang muncul dari wajah lalu menyebar ke seluruh tubuh.

Ruam campak biasanya bertahan sekitar 5 hingga 7 hari. Pola gejala yang berkembang secara bertahap dan cenderung semakin berat menjadi ciri khas utama penyakit ini.

Gejala Rubela Lebih Ringan dan Cepat Hilang

Rubela atau yang sering disebut campak Jerman memiliki karakteristik gejala yang jauh lebih ringan dibandingkan campak. Menurut World Health Organization, rubela umumnya merupakan infeksi ringan yang ditandai dengan demam rendah dan ruam yang tidak berlangsung lama.

Gejala rubela biasanya muncul sekitar dua hingga tiga minggu setelah paparan virus. Dalam banyak kasus, penderita bahkan tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi karena gejala yang muncul relatif ringan.

Salah satu tanda khas rubela adalah pembengkakan kelenjar getah bening di area belakang telinga dan leher. Pada remaja dan wanita dewasa, kondisi ini juga dapat disertai nyeri sendi.

Beberapa gejala rubela yang dapat muncul antara lain:

  • Demam ringan, biasanya di bawah 38 derajat celsius.
  • Ruam merah muda yang muncul dari wajah lalu cepat menyebar ke tubuh.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di belakang telinga dan leher.
  • Nyeri sendi, terutama pada remaja dan wanita dewasa.
  • Sakit kepala ringan dan rasa lelah.

Ruam akibat rubela umumnya hanya berlangsung sekitar 1 hingga 3 hari, sehingga sering kali tidak disadari oleh penderitanya.

Perbedaan Gejala Campak dan Rubela Paling Terlihat

Meskipun sama-sama menyebabkan ruam pada kulit, campak dan rubela memiliki beberapa perbedaan yang cukup jelas.

1. Tingkat keparahan gejala
Campak menimbulkan gejala yang lebih berat dan berkembang secara bertahap. Sebaliknya, rubela biasanya lebih ringan dan tidak terlalu mengganggu aktivitas sehari-hari.

2. Pola demam
Campak ditandai dengan demam tinggi yang berlangsung cukup lama, sedangkan rubela umumnya hanya menyebabkan demam ringan.

3. Tanda khas penyakit
Campak memiliki Koplik spots di dalam mulut sebelum ruam muncul. Sementara itu, rubela lebih sering ditandai dengan pembengkakan kelenjar getah bening di belakang telinga dan leher.

4. Waktu munculnya ruam
Pada campak, ruam biasanya muncul setelah beberapa hari gejala awal. Pada rubela, ruam dapat muncul lebih cepat dan sering menjadi tanda pertama yang terlihat.

5. Durasi ruam
Ruam campak biasanya bertahan sekitar 5 hingga 7 hari, sedangkan ruam rubela hanya berlangsung sekitar 1 hingga 3 hari.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa campak berpotensi menimbulkan komplikasi kesehatan yang lebih serius, sedangkan rubela menjadi ancaman utama bagi ibu hamil karena dapat menyebabkan gangguan perkembangan pada janin.

Pentingnya Deteksi Dini dan Pencegahan

Campak dan rubela sama-sama dapat menular melalui percikan air liur saat penderita batuk atau bersin. Penularan dapat terjadi dengan cepat, terutama di lingkungan dengan kepadatan tinggi seperti rumah dan sekolah.

Dalam banyak kasus, penyakit baru terdeteksi setelah ruam muncul, padahal penularan sebenarnya sudah terjadi sebelumnya tanpa disadari. Situasi ini membuat penyebaran penyakit dapat berlangsung diam-diam.

Oleh karena itu, mengenali gejala sejak dini menjadi langkah penting untuk mencegah penularan yang lebih luas. Diagnosis yang tepat juga membantu menentukan penanganan yang sesuai.

Upaya pencegahan paling efektif terhadap campak dan rubela tetap melalui imunisasi. Dengan cakupan vaksinasi yang tinggi, risiko penyebaran kedua penyakit ini dapat ditekan secara signifikan.

Respons cepat terhadap gejala awal menjadi kunci penting untuk memutus rantai penularan campak dan rubela, sekaligus melindungi kelompok yang paling rentan terhadap dampak penyakit tersebut.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play