VinFast Lanjutkan Proyek Pabrik di AS Meski Pasar EV Melambat
Suara Kalbar – Kondisi pasar kendaraan listrik (EV) di Amerika Serikat boleh saja dikabarkan sedang mengalami perlambatan, namun hal tersebut tidak menyurutkan ambisi besar VinFast. Produsen otomotif asal Vietnam ini justru menunjukkan sinyal kebangkitan dengan memutuskan untuk melanjutkan proyek pembangunan pabrik produksi mereka di North Carolina. Langkah ini diambil setelah pengerjaan fasilitas tersebut sempat ditangguhkan selama lebih dari 18 bulan akibat berbagai tantangan operasional.
Perjalanan VinFast di tanah Amerika memang tidak semulus yang dibayangkan. Rencana awal yang diumumkan pada Maret 2022 menargetkan produksi bisa dimulai pada pertengahan 2024. Namun, target tersebut terus bergeser ke tahun 2025 hingga akhirnya sempat terhenti total. Kini, dalam laporan keuangan terbarunya, perusahaan menegaskan komitmen untuk mulai mengoperasikan pabrik tersebut pada tahun 2028 mendatang.
Keputusan untuk tetap bertahan di pasar Amerika Utara ini tergolong berani, mengingat angka registrasi kendaraan mereka di sana masih berada di bawah angka 1.500 unit pada tahun lalu. Banyak pengamat otomotif sempat memprediksi bahwa VinFast akan menarik diri sepenuhnya dari persaingan di Amerika Serikat.
“Namun, data terbaru menunjukkan bahwa perusahaan ini justru sedang menyiapkan strategi jangka panjang yang jauh lebih luas,” tulis Carscoops, Kamis (19/3/2026).
Menariknya, di saat pasar Amerika masih penuh tantangan, performa VinFast di wilayah lain justru melonjak tajam. Pada kuartal keempat tahun 2025, mereka berhasil menjual lebih dari 86 ribu unit kendaraan secara global. Angka ini mencerminkan lonjakan sebesar 127 persen dibandingkan kuartal sebelumnya, sekaligus membuktikan bahwa produk mereka mulai mendapatkan tempat di hati konsumen internasional.
Secara keseluruhan, tahun lalu menjadi momentum pertumbuhan yang signifikan bagi perusahaan di bawah naungan Vingroup ini. Dengan total penjualan mencapai 196.919 kendaraan, VinFast berhasil melipatgandakan pencapaian mereka dibandingkan tahun 2024. Keberhasilan ini memperkuat posisi mereka untuk terus berekspansi ke negara-negara berkembang, termasuk rencana strategis membuka pabrik di India dan Indonesia.
Dari sisi finansial, lonjakan penjualan ini tentu berdampak positif pada pendapatan perusahaan yang naik drastis hingga 138,9 persen pada kuartal terakhir. Meski demikian, VinFast masih harus berhadapan dengan realita kerugian bersih yang membengkak. Hal ini menunjukkan bahwa investasi besar-besaran untuk membangun infrastruktur global memerlukan napas panjang dan manajemen modal yang sangat kuat.
Selain urusan dapur pacu finansial, tantangan teknis juga menjadi pekerjaan rumah yang serius bagi mereka. Beberapa pemilik model VF 8 di Amerika Serikat baru-baru ini melayangkan tuntutan hukum terkait kecepatan pengisian daya yang dianggap tidak sesuai dengan promosi. Keluhan mengenai durasi pengisian baterai yang memakan waktu terlalu lama menjadi catatan penting bagi tim riset dan pengembangan mereka di masa depan.
Ke depannya, kunci sukses VinFast akan sangat bergantung pada kemampuan mereka dalam menghadirkan kendaraan yang lebih kompetitif dan andal. Dengan dukungan ekosistem Vingroup yang sangat besar, mereka terus mengevaluasi peluang di Eropa, Asia, hingga Timur Tengah. Langkah ini menjadi bukti bahwa meski jalannya terjal, ambisi Vietnam untuk menjadi pemain kunci dalam revolusi kendaraan listrik dunia belum padam.
Sumber: Beritasatu.com






