Maag Kambuh Saat Ramadan? Ini Cara Mencegahnya
Suara Kalbar – Puasa Ramadan menjadi dilema bagi sebagian penderita mag atau maag atau gangguan lambung karena perubahan pola makan selama puasa Ramadan dapat memicu kekambuhan apabila tidak diatur dengan benar.
Karena itu, pengaturan pola makan yang tepat menjadi kunci agar ibadah puasa tetap berjalan lancar tanpa mengganggu kesehatan lambung.
Secara medis, maag atau gastritis merupakan peradangan pada lapisan lambung yang ditandai dengan nyeri ulu hati, sensasi terbakar di dada (heartburn), mual, muntah, kembung, hingga gangguan pencernaan. Kondisi ini dapat dipicu oleh infeksi bakteri, konsumsi obat antiinflamasi jangka panjang, stres, pola makan tidak sehat, hingga konsumsi alkohol.
Selama Ramadan, jeda makan kurang lebih hingga 14 jam menyebabkan perubahan pada produksi asam lambung dan ritme biologis tubuh. Kondisi ini perlu diantisipasi, terutama bagi penderita gangguan lambung.
Dampak Puasa terhadap Sistem Pencernaan
Puasa Ramadan termasuk bentuk prolonged intermittent fasting yang dijalankan sekitar 1,9 miliar muslim di dunia. Selama periode ini, terjadi perubahan pola makan, ritme sirkadian, serta regulasi hormon seperti ghrelin, leptin, melatonin, dan hormon pertumbuhan yang memengaruhi metabolisme dan nafsu makan.
Pada individu sehat, puasa terbukti memberikan sejumlah manfaat, antara lain:
- Menurunkan kolesterol total, kolesterol jahat, dan trigliserida.
- Mengurangi tekanan darah dan berat badan.
- Memperbaiki parameter metabolik.
- Menurunkan penanda inflamasi.
- Meningkatkan kadar kolesterol baik.
- Memperbaiki keseimbangan mikrobiota usus.
Namun, pada penderita gangguan gastrointestinal seperti tukak lambung, gerd, atau penyakit radang usus, perubahan pola makan ekstrem dapat memperburuk gejala. Oleh karena itu, diperlukan strategi khusus agar puasa tetap aman dan nyaman dijalani.
Prinsip Dasar Pola Makan Penderita Maag Saat Puasa
Pengaturan makan selama Ramadan bertujuan untuk mengurangi produksi asam lambung berlebih, melindungi lapisan mukosa lambung dan mencegah refluks asam. Berikut panduan pola makan yang dapat diterapkan.
1. Hindari tidak sahur
Sahur merupakan waktu makan paling penting bagi penderita maag. Melewatkan sahur membuat lambung kosong lebih lama sehingga meningkatkan risiko iritasi.
Pilih makanan yang dicerna perlahan seperti nasi merah atau karbohidrat kompleks, protein rendah lemak (ayam, telur), atau kacang almon atau kurma.
Jika nafsu makan rendah, konsumsi makanan ringan bernutrisi tetap dianjurkan. Pastikan juga minum dua hingga tiga gelas air sebelum imsak.
2. Berbuka secara bertahap
Hindari langsung makan dalam porsi besar saat berbuka. Mulailah dengan meminum air mineral dan menyantap kurma serta sup hangat dalam porsi kecil.
Berikan jeda sebelum makan utama agar lambung beradaptasi dan produksi asam tidak meningkat drastis. Pola makan bertahap lebih dianjurkan dibanding satu kali makan besar yang dapat memicu nyeri lambung dan kembung.
3. Pilih makanan ramah lambung
Penderita maag disarankan mengonsumsi makanan-makanan yang ramah lambung. Misalnya sayur dan buah tinggi serat, protein mudah dicerna dan makanan rendah lemak.
Hindari konsumsi makanan pedas dan gorengan, makanan berminyak dan tinggi gula, minuman asam yang mengandung jeruk, tomat, kopi, teh, cokelat, dan kafein serta minuman berkarbonasi.
Jenis makanan dan minuman tersebut dapat merangsang produksi asam lambung dan memperparah gejala maag.
4. Atur waktu makan dan tidur
Berikan jeda minimal dua jam antara makan terakhir dan waktu tidur untuk mencegah refluks asam. Selain itu hindari langsung berbaring setelah sahur.
Makan secara perlahan dan tidak terburu-buru dan jaga ritme makan tetap teratur. Kebiasaan makan cepat dapat meningkatkan tekanan pada lambung dan memicu rasa tidak nyaman.
5. Cukupi kebutuhan cairan
Hidrasi berperan penting dalam menjaga kesehatan mukosa lambung. Dehidrasi dapat memperburuk iritasi dan memperlambat penyembuhan jaringan lambung.
Pastikan tubuh tidak kekurangan cairan dengan minum minimal delapan gelas per hari dengan pola bertahap antara berbuka hingga sahur. Hindari minum dalam jumlah besar sekaligus agar perut tak begah.
Kepatuhan Obat dan Konsultasi Dokter
Bagi penderita maag kronis atau tukak lambung, kepatuhan terhadap obat sangat penting. Obat seperti proton pump inhibitor (PPI) atau antagonis reseptor H2 umumnya dikonsumsi sekitar 30 menit sebelum sahur untuk menekan produksi asam selama puasa.
Pada pasien berisiko tinggi, terapi penekan asam secara profilaksis dapat dipertimbangkan guna mencegah komplikasi, termasuk perdarahan saluran cerna.
Sumber: Beritasatu.com
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






