Berawal Iseng Bikin Meja Kursi Plastik, Ini Cara Bank Sampah Rosella Mengurangi Sampah Pontianak
Asap tipis mengepul dari oven sederhana di sudut Bank Sampah Rosella. Serpihan tutup botol plastik yang terbuang dan tak terpakai perlahan meleleh, menyatu di dalamnya, lalu mengeras menjadi papan padat.
Di tangan Panca dan Sulviawati, sebelas kilogram plastik itu tak lagi menunggu giliran ditimbun, ia berubah menjadi meja, menjadi kursi, menjadi cara kecil menahan laju 175 ribu ton sampah Kota Pontianak setiap tahun.
Penulis: Maria
Pontianak (Suara Kalbar) – Di tangan Panca (62) dan Sulviawati (61), tutup botol plastik berubah menjadi meja, kursi, hingga talenan. Semua dikerjakan secara manual, dengan mesin sederhana dan ketekunan yang sudah mereka rawat sejak 2013 melalui Bank Sampah Rosella yang terletak di Siantan Tengah, Kecamatan Pontianak Utara, Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar).
Bank Sampah Rosella yang mereka kelola bukan sekadar tempat menimbang sampah. Bagi pasangan suami istri ini, pengolahan adalah kunci agar sampah tidak sekadar berpindah tangan.
“Kalau kita tidak ada pengolahan, sampai kapan pun kita akan terus dianggap pengepul,” ujar Sulviawati saat diwawancarai pada Selasa (24/02/2026) siang.
Sulviawati bukan hanya pengelola bank sampah. Ia juga memiliki dan mengelola taman kanak-kanak di lingkungan tersebut. Baginya, pendidikan dan pengelolaan sampah berjalan beriringan.
“Jadi saya mengajarkan di lingkungan ini, mengenalkan kepada anak-anak tentang sampah dan pengolahannya. Bahkan beberapa anak-anak yang sekolah disini, mereka membawa sampah yang bisa didaur ulang untuk biaya sekolah mereka,” terangnya sambil tersenyum.
Namun ia menegaskan sistem itu bukan paksaan. Anak-anak dari keluarga mampu tidak diwajibkan membawa sampah.
“Kalau yang mampu, bisa membayar. Tapi bagi mereka yang lainnya, bisa membawa sampah ala kadarnya. Kita bantu mereka,” ujarnya.
Bagi Sulviawati, tak mudah mengembangkan bank sampah. Persoalan utama yaitu banyak bank sampah berhenti berkembang karena tidak sampai pada tahap pengolahan dan hanya berlaku sebagai pengepul.
“Bank sampah itu harus menerapkan 3R, yaitu Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), dan Recycle (daur ulang). Jadi harus ada pengolahan juga,” katanya.
Berbicara soal pengolahan, Bank Sampah Rosella memiliki solusi sendiri. Sejak 2024, mereka mulai mendaur ulang sejumlah sampah plastik, khususnya tutup botol plastik. Di tangan pasangan ini, tutup botol plastik ‘disulap’ menjadi satu set meja dan kursi cantik.

Lucunya, Sulviawati bercerita ide ini muncul karena keisengan keduanya yang mengenang masa kecil.
“Dulu saat masih kecil, kita itu teringat pernah membakar plastik kemudian meleleh dan kita bentuk-bentuk. Nah kemudian saya bilang ke bapak, gimana kalau tutup botol plastik ini kita olah saja jadi barang yang berguna,” ujar Sulviawati tertawa.
Masuk ke logika, hal tersebut langsung dieksekusi oleh Panca. Bermodal mesin cacahan hasil donor dari pihak eksternal dan oven rakitan bersuhu 340 derajat, ia lantas memulai produksi ‘papan’ plastik dari tutup botol.
Panca diketahui berlatar belakang konsultan pembangunan yang kemudian turut aktif secara penuh mengembangkan pengolahan plastik di Rosella.
Panca menyebutkan tidak sulit mengolah papan plastik dari tutup botol, namun prosesnya cukup memakan waktu. Proses produksi dimulai dari pembelian sampah campuran dari masyarakat, perusahaan, hingga pemulung. Plastik kemudian dipilah berdasarkan jenisnya sebelum dicuci.
“Kita pilih dulu, ada tutup plastik yang bisa dipakai, ada juga yang tidak bisa. Setelah dipilih, langsung kita cuci sampai bersih, lalu di jemur,” ujar Panca.
Setelah kering, tutup botol plastik kemudian dicacah di mesin pencacah hingga menjadi pecahan yang lebih kecil seperti debu hasil gergaji kayu.

Tak sampai disitu, hasil plastik yang dicacah wajib dicuci kembali hingga bersih dan kemudian kembali di jemur. Panca menjelaskan, plastik harus benar-benar kering sebelum masuk ke tahap berikutnya.
“Wajib kering dan bersih,” ucap Panca dengan semangat.
Setelah kering, cacahan plastik yang sebelumnya telah mendapatkan request warna dari pembeli kemudian dimasukkan ke loyang, dipadatkan dan dipanaskan.
“Panggangnya gak lama, sekitar 30-40 menit,” ujarnya.
Setelah dipanaskan, plastik yang sudah meleleh dan padat kemudian dikeluarkan dari oven dan langsung direndam untuk mempercepat pendinginan.
“Langsung direndam air agar cepat dingin, sekitar 5-10 menit,” katanya.
Tahap paling lama justru proses penghalusan. Setiap bagian diamplas agar permukaannya rata dan tidak kasar. Proses ini bahkan bisa memakan waktu hingga dua hari lamanya.
“Dia diamplas setiap bagian. Nah, itu yang lama,” ujarnya.
Setelah dirasa halus, papan plastik yang terbentuk langsung digabungkan dengan kerangka besi sebagai kaki meja dan kursi yang sebelumnya telah dipesan dari pihak luar.
Terkait jumlah banyaknya tutup botol, untuk satu set meja yang dilengkapi empat kursi, dibutuhkan sekitar 11 kilogram tutup botol plastik. Dan dalam dua tahun ini, Panca menyebutkan sekitar 14 unit sudah terjual di berbagai daerah di Kalbar.
“Yang sudah terjual sih sekitar 14 set. Satu set harganya sekitar Rp1.500.000 ,” ujarnya.
Terbilang masih separuhnya proses harus bekerja secara manual, tak jarang beberapa kali pembuatan meja dan kursi ini gagal dalam produksinya. Tantangan paling sering muncul saat pemanasan tidak merata.
“Kadang-kadang kurang masak, plastiknya tidak mencair sempurna, ada yang bolong juga,” jelas Panca.
Produk yang gagal tidak bisa digunakan dan harus diulang. Meski demikian, mereka tetap bertahan karena melihat hasil dari pembuatan meja dan kursi tersebut. Bukan dari sisi keuntungan secara ekonomi, namun dari keuntungan secara lingkungan dalam mengurangi jumlah sampah plastik.
Masih Sedikit Bank Sampah yang Sampai Tahap Produksi
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2025, timbulan sampah Kota Pontianak mencapai 175.277,85 ton per tahun, dengan sebagian besar masih masuk ke TPA.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak, Syarif Usmulyono, mengakui pengolahan plastik hingga menjadi produk jadi masih terbatas.

“Kalau botol plastik, yang mengolah baru mereka (Bank Sampah Rosella), yang lain masih pengepul,” ujarnya saat dikonfirmasi langsung pada Jum’at (20/02/2026).
Menurutnya, sebagian besar bank sampah di Pontianak masih berhenti di tahap pengumpulan dan penjualan kembali. Model seperti Bank Sampah Rosella dinilai lebih maju karena sudah masuk tahap pengolahan dan penciptaan produk. Selain itu, ia menilai upaya seperti Rosella sudah membantu mengurangi timbulan.
“Paling tidak sudah turut mengurangi sampah yang masuk TPA (Tempat Pemproses Akhir),” ujar Usmulyono.
Namun ia juga mengingatkan perlunya peningkatan teknologi dan inovasi agar produk semakin berkualitas. Menurutnya, tantangan terbesar dalam sistem bank sampah adalah konsistensi dan kapasitas teknologi. Tanpa mesin yang memadai dan sumber daya manusia yang terlatih, banyak bank sampah kesulitan naik kelas dari pengepul menjadi pengolah.
Selain itu, ia berharap, semakin banyak bank sampah yang berinovasi sehingga beban TPA dapat berkurang sejak dari sumber.
Dalam konteks kebijakan nasional, pengurangan sampah menjadi target penting menuju 2030. Peran komunitas seperti Rosella dipandang strategis karena bekerja langsung di tingkat masyarakat.
Sejalan dengan Kajian Ilmiah
Apa yang dilakukan Rosella sejalan dengan temuan dalam jurnal Syaiful Rahman (2020) berjudul Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat dalam Perspektif Ekonomi Lingkungan. Dalam kajian tersebut disebutkan bahwa pengelolaan sampah berbasis komunitas efektif karena memberi nilai ekonomi pada sampah sekaligus mengurangi beban TPA dari sumbernya.
Rahman menjelaskan bahwa pendekatan reduce–reuse–recycle di tingkat masyarakat dapat meningkatkan partisipasi warga dan menciptakan nilai tambah ekonomi dibanding sekadar menjual sampah mentah. Model seperti ini dinilai lebih berkelanjutan karena tidak bergantung sepenuhnya pada sistem pengangkutan dan penimbunan.
Praktik Rosella menunjukkan bagaimana teori tersebut diterjemahkan dalam konteks lokal. Pengumpulan, pemilahan, pengolahan, hingga penjualan produk dilakukan dalam satu ekosistem kecil berbasis keluarga.
Dimulai dari Satu Keluarga
Bagi Sulviawati, perubahan memang harus dimulai dari lingkar terdekat. Ia percaya bank sampah tidak bisa bertahan jika tidak dimulai dari komitmen keluarga sendiri.

“Bank sampah itu paling penting satu tujuan dulu. Contohnya dimulai dari satu keluarga dulu. Kalau tidak dari keluarga dan hanya mengharapkan kerja orang lain yang harus dipaksa akan sulit berjalan,” katanya.
Selain keluarga, adanya kemauan dalam membenahi lingkungan juga tak kalah penting. Ia menolak gagasan persaingan antar bank sampah. Menurutnya, persoalan sampah terlalu besar untuk diperebutkan.
“Bank sampah itu tidak ada saingan. Kita sama-sama bekerja untuk mengurangi sampah, ya kan? Kalau kita pikiran saingan, ya susah,” ujarnya.
Di tengah angka ratusan ribu ton sampah kota, 11 kilogram mungkin terlihat kecil. Namun bagi Panca dan Sulviawati, setiap meja yang selesai dirakit adalah simbol bahwa plastik tidak selalu harus berakhir di tanah.
Selama masih ada yang mau memilah, mencuci, memanggang, dan mengamplasnya dengan tangan sendiri, umur plastik di Pontianak bisa sedikit diperpanjang. Dan di Siantan, itu dimulai dari sebuah keluarga yang memilih tidak berhenti di timbangan.






