Studi Fraunhofer Institute: Konsumsi BBM Mobil PHEV Tembus 300 Persen di Atas Klaim Resmi
Suara Kalbar – Penelitian terbaru dari Institut Fraunhofer mengungkap temuan mengejutkan terkait kendaraan plug-In hybrid electric vehicle (PHEV). Mobil yang selama ini dipromosikan sebagai jembatan menuju era otomotif ramah lingkungan ternyata tercatat mengonsumsi bahan bakar jauh lebih tinggi dibandingkan angka resmi yang dirilis pabrikan maupun hasil uji pemerintah.
Mengutip Arena EV pada Minggu (22/2/2026) studi yang melibatkan 981.035 kendaraan di berbagai negara Eropa itu menunjukkan konsumsi bahan bakar rata-rata PHEV mencapai 300% lebih tinggi dari klaim resmi perusahaan.
Selama ini, berdasarkan pengujian efisiensi yang disetujui regulator Eropa melalui standar WLTP (Worldwide Harmonized Light Vehicles Test Procedure), mobil PHEV disebut hanya membutuhkan sekitar 1,57 liter bensin per 100 kilometer.
Namun, data penggunaan di kondisi nyata memperlihatkan angka berbeda. Para peneliti menemukan konsumsi riil mencapai rata-rata 6,12 liter per 100 kilometer. Artinya, pemakaian bahan bakar hampir 3,9 kali lipat dibandingkan klaim dalam brosur dan hasil uji laboratorium.
Penelitian tersebut memanfaatkan perangkat pemantau khusus yang dipasang di kendaraan untuk merekam secara akurat jumlah bahan bakar yang dibakar selama penggunaan sehari-hari.
Dengan cakupan data yang sangat besar dan melibatkan beragam model serta karakter pengemudi, hasil studi ini dinilai cukup representatif. Dalam praktiknya, banyak mobil hybrid plug-in ternyata beroperasi layaknya kendaraan bensin konvensional.
Tim peneliti juga menguji battery depletion mode atau saat mobil memprioritaskan penggunaan baterai. Meski dalam mode ini dianggap lebih bersih, konsumsi bahan bakarnya tetap mencapai 2,98 liter per 100 kilometer, hampir dua kali lipat dari ekspektasi regulator.
Kondisi ini terjadi karena mesin bensin lebih sering aktif daripada yang diperkirakan. Mesin dapat menyala saat mobil berakselerasi, ketika sistem pemanas dihidupkan saat cuaca dingin, atau saat daya baterai menurun.
Bahkan ketika pengemudi merasa sedang berkendara sepenuhnya dengan tenaga listrik, mesin pembakaran internal kerap tetap bekerja. Peneliti menyimpulkan bahwa pada banyak kasus, mesin bensin jarang benar-benar berhenti beroperasi sepenuhnya.
Sumber: Beritasatu.com
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






