Kemenkes: Puasa Bangun Harmoni Tubuh dan Jiwa, Bantu Redakan Stres
Suara Kalbar – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) menyatakan puasa yang dilakukan dengan benar mampu membangun harmoni antara tubuh, pikiran, dan jiwa. Praktik ini dinilai memiliki manfaat besar bagi kesehatan mental, terutama dalam menghadapi tekanan kehidupan modern.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, mengatakan puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga latihan pengendalian diri yang berdampak positif bagi kesehatan jiwa.
Menurutnya, para ahli merekomendasikan beberapa langkah agar puasa optimal bagi kesehatan mental, seperti menetapkan tujuan spiritual, melatih mindfulness, menjaga pola hidup sehat, serta berbagi pengalaman dengan komunitas.
Imran mengungkapkan, Ramadan kerap menjadi momen refleksi dan perbaikan diri. Meski tren gangguan mental, seperti kecemasan dan depresi masih tinggi, sekitar 1 dari 20 remaja mengalami gangguan mental menurut data Universitas Negeri Surabaya (Unesa), banyak individu melaporkan penurunan gejala stres selama Ramadan.
Penelitian di MAN 2 Kota Cilegon pada 2019 bahkan menunjukkan praktik puasa berkontribusi hingga 98,01% terhadap peningkatan kesehatan mental siswa. Pengendalian diri dan peningkatan spiritualitas selama puasa dinilai membantu regulasi emosi dan meningkatkan kebahagiaan.
Studi lain dari Universitas Sirjan Azad menemukan individu yang berpuasa memiliki kontrol diri lebih kuat dan lebih tenang dalam menghadapi tekanan hidup.
Mengutip peneliti Prof Dr Siti Nur Azizah, Imran menjelaskan puasa dapat menjadi “terapi jiwa” karena membantu menjaga hormon kortisol, yang berkaitan dengan stres, dan meningkatkan hormon endorfin, dikenal sebagai hormon kebahagiaan.
Riset dari National Library of Medicine (2024) juga menunjukkan puasa dapat mengurangi produksi hormon stres dan membuat tubuh serta pikiran lebih rileks. Selain itu, aktivitas spiritual, seperti doa dan zikir selama Ramadan berfungsi sebagai praktik mindfulness yang membantu mengurangi kecemasan dan meningkatkan rasa damai.
Dari sisi neurologis, puasa meningkatkan produksi brain-derived neurotrophic factor (BDNF), protein yang mendukung regenerasi sel otak dan melindungi dari penyakit neurodegeneratif, seperti alzheimer.
Puasa juga memicu proses autofagi, mekanisme alami tubuh untuk membersihkan sel rusak, termasuk di otak. Dengan begitu, dapat membantu meningkatkan ketajaman berpikir dan suasana hati.
Meski demikian, Imran mengingatkan bagi individu dengan gangguan mental berat, seperti skizofrenia, Ramadan bisa menjadi tantangan tersendiri. Terkait hal itu, dukungan keluarga dan komunitas sangat penting agar mereka tetap dapat menjalani ibadah dengan aman dan nyaman.
Menurut Kemenkes, Ramadan menjadi waktu ideal untuk membersihkan “sampah pikiran”, memperkuat spiritualitas, dan membangun ketahanan mental dalam menghadapi dinamika kehidupan modern.
Sumber: Beritasatu.com
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






