Harga TBS Bertahan, Petani Sawit Sambas Dibayangi Kebingungan Harga dan Pupuk Mahal
Sambas (Suara Kalbar) – Kepastian harga TBS kelapa sawit di Kabupaten Sambas dinilai belum sepenuhnya jelas bagi petani, meski angka Rp3.220 per kilogram telah menjadi acuan di pabrik, sementara persoalan pupuk mahal masih menjadi beban bagi petani, Minggu (15/2/2026).
Salah seorang petani sawit, Ono, menyampaikan bahwa harga TBS yang ia terima selama ini berada di angka Rp3.220 per kilogram dan menjadi acuan di beberapa pabrik pengolahan kelapa sawit, termasuk PT MUB.
Ia menilai stabilnya harga TBS memang cukup membantu petani. Proses pembayaran hasil panen ke pabrik juga berjalan tanpa kendala. Namun demikian, Dia mengungkapkan masih ada kebingungan di tingkat petani terkait kepastian harga yang seharusnya diterima.
“Kalau di pabrik PT MUB memang dipatok Rp3.220, tapi di lapangan kadang ada perbedaan informasi. Petani sering bingung harus berpegang pada harga yang mana, meskipun akhirnya hasil panen tetap dibayarkan,” ujarnya.
Menurutnya, perbedaan data harga kerap muncul antara informasi yang diterima petani, keterangan dari pihak marketing perusahaan, hingga harga resmi yang ditetapkan oleh Dinas Perkebunan atau tim penetapan harga TBS tingkat provinsi. Situasi ini membuat petani kesulitan memastikan harga riil TBS.
Dia mengakui bahwa dengan harga TBS saat ini, biaya operasional kebun masih dapat tertutupi. Kondisi tersebut setidaknya mampu menjaga keberlangsungan ekonomi keluarga petani.
“Untuk sekarang, biaya kebun masih bisa tertutup. Jadi kebutuhan keluarga masih bisa terpenuhi,” katanya.
Namun di balik kestabilan harga TBS, persoalan lama masih menghantui petani sawit di Sambas, yakni mahalnya harga pupuk. Ono menyebut sebagian besar petani masih mengandalkan pupuk non-subsidi yang harganya terus mengalami kenaikan.
“Masalah terbesar kami itu pupuk. Karena pakai non-subsidi, harganya semakin mahal. Kami berharap ada perhatian pemerintah agar harga pupuk bisa lebih terjangkau,” pungkasnya.
Penulis: Serawati






