SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Teknologi Pakar Jerman: Eropa Tertinggal 20 Tahun dari China dalam Teknologi Baterai EV

Pakar Jerman: Eropa Tertinggal 20 Tahun dari China dalam Teknologi Baterai EV

SAIC-GM mengembangkan baterai lithium iron phosphate (LFP) 6C pertama di industri kendaraan listrik yang mampu mengisi daya dengan kecepatan super. (CarNewsChina)

Suara Kalbar – Industri otomotif Eropa dinilai menghadapi ketertinggalan teknologi yang serius dalam era kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Seorang pakar otomotif ternama Jerman memperingatkan bahwa Eropa tertinggal setidaknya 20 tahun dari China dalam pengembangan teknologi baterai.

Penilaian tersebut disampaikan Profesor Ferdinand Dudenhöffer, direktur Center for Automotive Research di Bochum, Jerman, yang kerap dijuluki media Jerman sebagai “Auto Pope” atau Paus Otomotif. Dalam wawancaranya dengan media China Global Times, dikutip Kamis (29/1/2026), Dudenhoffer menyampaikan evaluasi keras terhadap posisi Eropa dalam persaingan global kendaraan listrik (EV).

Pernyataan ini muncul seiring lonjakan penjualan produsen mobil China di Eropa. Pada Desember 2025, penjualan bulanan mobil listrik China di kawasan tersebut untuk pertama kalinya menembus 100.000 unit, dengan pangsa pasar mencapai 9,5%.

“Dalam sektor baterai, Eropa tertinggal 20 tahun dari China,” ujar Dudenhoffer.

Ia menegaskan, kerja sama dengan pemasok China kini menjadi kebutuhan mutlak bagi produsen otomotif Eropa agar tetap kompetitif. Kesenjangan teknologi ini membuat lebih dari 70% baterai kendaraan listrik yang dijual di Eropa pada 2025 dipasok oleh perusahaan China.

Menurut Dudenhoffer, produsen China memiliki keunggulan biaya yang signifikan. Biaya produksi baterai di China sekitar 30% lebih murah dibandingkan Eropa, sementara siklus pengembangan teknologi bisa 50% lebih cepat.

Sebaliknya, produsen baterai Eropa masih kesulitan berkembang. Perusahaan Swedia Northvolt disebut menghadapi ancaman kebangkrutan akibat masalah teknis dan keterlambatan pengiriman, sementara perusahaan baterai Prancis ACC menghentikan rencana ekspansi pabriknya.

Perusahaan baterai China tidak lagi sekadar menjadi pemasok, tetapi mulai membangun basis produksi langsung di Eropa. CATL, misalnya, telah memulai produksi melalui kerja sama dengan BMW di Jerman. Sementara itu, BYD bersama Stellantis telah memasuki tahap produksi massal baterai lithium iron phosphate (LFP) berbiaya rendah.

Data Badan Energi Internasional (IEA) menunjukkan China saat ini menguasai sekitar 75% kapasitas produksi baterai global, dengan keunggulan khusus pada teknologi baterai LFP.

Sumber: Beritasatu.com

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan