SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Opini Marak Fatherless: Alarm Ketahanan Keluarga

Marak Fatherless: Alarm Ketahanan Keluarga

Ilustrasi

Oleh: Agustin Pratiwi 

Fenomena fatherless atau ketiadaan peran ayah dalam kehidupan anak kini menjadi persoalan serius yang tak bisa lagi diabaikan. Di balik dinamika kehidupan modern, banyak keluarga tampak perlahan kehilangan figur ayah, bukan karena kematian semata, tetapi karena absennya peran ayah dalam pengasuhan, pendidikan, dan pendampingan emosional dalam tumbuh kembang anak. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan ketika data resmi negara justru menegaskan bahwa fatherless telah menjadi fenomena nasional.

Berdasarkan Pemutakhiran Pendataan Keluarga Tahun 2025 (PK-25) yang dirilis Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, sebanyak 25,8 persen anak di Indonesia hidup dalam kondisi fatherless. Artinya, hampir seperempat anak Indonesia tumbuh tanpa peran ayah yang utuh. Kalimantan Barat sendiri berada pada posisi ke-14 dari 38 provinsi, dengan angka fatherless mencapai 26,6 persen, bahkan melampaui rata-rata nasional. Bahkan, beberapa provinsi mencatat angka yang jauh lebih tinggi, seperti Papua Pegunungan (50,2 persen), Papua Selatan (40,1 persen), Papua Tengah (39,4 persen), Papua (34,0 persen), Sumatera Utara (30,4 persen), Jawa Barat (29,5 persen), Barat (28,5 persen), dan Sulawesi Selatan (28,1 persen) (kumparan.com 5/12/2025) . Fakta ini menunjukkan bahwa fatherless bukan sekadar masalah keluarga tertentu, melainkan persoalan struktural yang menjangkiti berbagai wilayah di Indonesia.

Angka-angka tersebut tentu bukan sekadar angka statistik. Di balik itu terdapat realitas anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran figur ayah. Banyak ayah memang masih hidup dan bahkan tinggal serumah, namun keberadaannya bisa saja hanya sebatas fisik. Kesibukan bekerja, tekanan ekonomi, dan tuntutan hidup membuat ayah semakin jauh dari interaksi hangat dengan anak. Inilah wajah fatherless yang paling sering terjadi hari ini, dimana ayah ada, tetapi perannya nyaris tak terasa.

Kondisi ini ternyata membawa dampak serius bagi tumbuh kembang anak. Berbagai kajian menunjukkan bahwa anak yang tumbuh tanpa peran ayah yang memadai lebih rentan mengalami gangguan emosi, kesulitan membangun kepercayaan diri, hingga masalah perilaku dan prestasi belajar (halodoc.com 30/11/2025). Anak laki-laki berisiko kehilangan figur teladan dalam pembentukan karakter, sementara anak perempuan kerap mengalami krisis rasa aman dan harga diri. Dalam jangka panjang, luka pengasuhan ini berpotensi terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara mereka membangun keluarga kelak (mommiesdaily.com 6/11/2025).

Tak hanya berdampak pada anak, fatherless juga berpotensi melemahkan ketahanan keluarga. Beban pengasuhan yang timpang membuat ibu harus memikul peran ganda. Tekanan ini kerap memicu kelelahan fisik dan mental, konflik rumah tangga, hingga keretakan keluarga (pikr.itera.ac.id 18/5/2025). Miris, keluarga yang seharusnya menjadi ruang paling aman justru menjadi tempat penuh tekanan dan ketidakstabilan.

Melihat kondisi tersebut, pemerintah sejatinya telah melakukan berbagai upaya untuk menekan angka fatherless. Melalui BKKBN dan lembaga terkait, negara mendorong penguatan ketahanan keluarga, kampanye keterlibatan ayah dalam pengasuhan, serta berbagai program edukasi parenting (rri.co.id 9/9/2025). Namun, upaya-upaya tersebut terasa bersifat parsial dan hanya berfokus pada perubahan perilaku individu. Dalam konteks sosial yang kompleks ini, selama tekanan ekonomi masih tinggi dan struktur sosial belum berubah, ajakan untuk “lebih hadir” kerap berbenturan dengan realitas hidup yang keras.

Di sinilah pentingnya menelisik akar persoalan fatherless secara lebih mendalam. Jika ditelusuri fenomena ini tidak lahir dalam ruang hampa, melainkan suatu produk dari sistem kapitalisme sekuler yang menempatkan nilai ekonomi di atas nilai keluarga. Dalam sistem ini, ayah direduksi menjadi mesin pencari nafkah, sementara peran pengasuhan dianggap urusan domestik yang sepenuhnya dibebankan kepada ibu. Negara pun cenderung melepaskan tanggung jawabnya dalam menjamin kesejahteraan keluarga.

Biaya hidup yang terus meningkat, lapangan kerja yang terbatas, serta upah yang belum memadai memaksa ayah bekerja lebih lama, mengambil pekerjaan tambahan, bahkan merantau jauh dari keluarga. Ironisnya, kondisi ini kerap dibungkus dengan narasi pengorbanan, seolah ketidakhadiran ayah adalah keniscayaan yang tak terelakkan. Padahal, sesungguhnya ini adalah buah dari tatanan yang gagal melindungi keluarga.

Islam memandang persoalan fatherless dari akar yang berbeda. Dalam Islam, keluarga adalah fondasi peradaban, dan ayah menempati posisi sentral sebagai pemimpin yang bertanggung jawab atas nafkah, pengasuhan, serta pendidikan anak. Peran ini tidak terbatas pada aspek finansial, tetapi juga mencakup tanggung jawab moral, emosional, dan spiritual. Kepemimpinan ayah dipandang sebagai amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Lebih dari sekadar tuntunan moral, Islam memiliki mekanisme sistemik untuk menjaga keutuhan keluarga. Negara dalam Islam berfungsi sebagai raa’in (pengurus rakyat) yang wajib menjamin kesejahteraan masyarakat. Negara wajib menyediakan lapangan kerja yang layak, upah yang mencukupi kebutuhan hidup, serta jaminan sosial bagi keluarga yang kehilangan pencari nafkah. Dengan sistem ini, ayah tidak dipaksa menjauh dari keluarga demi bertahan hidup.

Sistem ekonomi Islam juga mencegah eksploitasi tenaga kerja dan mengurangi kesenjangan sosial. Pengelolaan mandiri sumber daya alam oleh negara memungkinkan distribusi kesejahteraan yang lebih adil ditengah masyarakat, sehingga beban hidup keluarga menjadi manusiawi n terminimalisir. Ayah bekerja secara wajar sesuai akad yang adil, memiliki waktu istirahat, dan tetap hadir dalam kehidupan anak-anaknya. Pajak yang mencekik tidak diberlakukan, karena kebutuhan terkait kepengurusan negara ditopang oleh baitulmal melalui pengelolaan harta milik umum, fai, kharaj, dan zakat.

Dukungan negara juga hadir melalui layanan publik yang murah atau bahkan gratis, seperti pendidikan, kesehatan, energi, dan transportasi. Infrastruktur yang terencana dengan baik mengurangi waktu ayah di jalan, sehingga lebih banyak waktu dapat dihabiskan bersama keluarga.

Dari sisi pendidikan, sistem Islam berpijak pada akidah yang selaras dengan peran ayah dalam menanamkan tauhid dan membentuk ketaatan anak dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan di rumah, sekolah, dan masyarakat berjalan selaras karena semuanya bermuara pada nilai yang sama. Bahkan, sistem Islam menyiapkan para calon ayah sejak dini melalui pendidikan formal dan nonformal agar memahami agama, pendidikan anak, akhlak, dan adab kehidupan keluarga.

Dengan pendekatan menyeluruh ini, Islam tidak sekadar mengurangi dampak fatherless, tetapi memutus rantai penyebabnya. Maraknya fenomena fatherless sejatinya mencerminkan kegagalan sistem kehidupan kapitalisme-sekuler yang mengasingkan ayah dari keluarganya. Islam hadir sebagai solusi komprehensif yang memuliakan keluarga, menegaskan bahwa keluarga utuh bukanlah kemewahan, melainkan hak setiap anak dan pilar utama tegaknya peradaban.

*Penulis adalah Aktivis Muslimah Kalimantan Barat

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan