BRIN Dorong Pemanfaatan Iradiasi Pangan untuk Perkuat Ekspor Pertanian
Jakarta (Suara Kalbar)- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menginisiasi pemanfaatan teknologi iradiasi pangan sebagai solusi memperpanjang masa simpan produk pertanian pascapanen sekaligus meningkatkan daya saing komoditas Indonesia di pasar global.
Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) BRIN, Syaiful Bakhri, mengatakan teknologi ini dinilai mampu mengurangi kerugian pangan nasional yang saat ini mencapai 50 juta ton per tahun dengan nilai ekonomi sekitar Rp 500 triliun.
“Teknologi iradiasi pangan terbukti efektif dan telah digunakan di lebih dari 60 negara. Dengan teknologi ini, umur simpan produk bisa lebih panjang tanpa mengurangi kualitas,” ujar Syaiful di Tangerang seperti dilansir dari Antara, Kamis (25/9/2025).
Menurutnya, sejumlah negara bahkan mewajibkan penerapan iradiasi pangan sebagai syarat karantina produk pertanian yang masuk ke wilayah mereka. Namun, di Indonesia, fasilitas iradiasi masih terbatas sehingga pemanfaatannya belum optimal.
“Ke depan, pemerintah daerah dapat membangun instalasi iradiasi di sentra produksi, seperti yang mulai diinisiasi di Kalimantan Timur. Dengan begitu, teknologi ini dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan nilai tambah produk ekspor,” tambahnya.
Peneliti Pusat Riset Teknologi Proses Radiasi BRIN, Murni Indarwatmi, menjelaskan iradiasi pangan merupakan proses perlakuan dengan radiasi pengion, seperti sinar gamma, sinar-X, atau berkas elektron pada bahan pangan. Proses ini mampu membasmi mikroba patogen, mengendalikan hama, serta memperlambat pembusukan tanpa mengurangi kandungan gizi.
“Keunggulan iradiasi antara lain membunuh mikroba hingga yang tersembunyi, tidak meninggalkan residu, dan bisa dilakukan setelah produk dikemas. Pada buah dan sayuran, dosis rendah dapat memperlambat pematangan sehingga umur simpannya lebih panjang,” jelas Murni.
Ia menambahkan, teknologi ini juga bermanfaat untuk memenuhi standar perdagangan internasional, seperti pencegahan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) melalui perlakuan fitosanitari.
Menurut Murni, peluang ekspor produk pertanian Indonesia ke negara seperti Australia dan Tiongkok akan semakin besar dengan pemanfaatan teknologi ini. Produk tropis yang di-iradiasi dinilai lebih aman dan ramah lingkungan dibandingkan fumigasi kimia.
“Teknologi ini sudah diakui badan internasional seperti Codex, IPPC, dan IAEA. Dengan branding yang tepat, produk pertanian Indonesia bisa lebih kompetitif di pasar global,” tegasnya.
Sumber: Beritasatu.com
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






