SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Daerah Pontianak Anak Muda Kalbar Angkat Isu Masyarakat Adat Lewat Zine “Merawat Akar”

Anak Muda Kalbar Angkat Isu Masyarakat Adat Lewat Zine “Merawat Akar”

Resti membawa zine Merawat Akar yang dibuatnya bersama teman-teman dari Sintang, Kapuas Hulu dan Sanggau. [SUARAKALBAR.CO.ID/Meriyanti]

Pontianak (Suara Kalbar) – Di tengah derasnya arus modernitas, anak-anak muda dari tiga kabupaten di Kalimantan Barat memilih jalan berbeda. Mereka menerbitkan Zine Merawat Akar yaitu sebuah publikasi independen yang memotret kehidupan masyarakat adat yang masih hidup berdampingan dengan hutan dan tradisi.

Zine yang diberi judul Merawat Akar ini dibuat oleh Resti dan teman-teman dari berbagai daerah seperti Sintang, Sanggau dan Kapuas Hulu.

Menurut Resti, zine Merawat Akar sendiri mencoba memotret kehidupan penduduk di pedalaman Kalbar yang masih hidup berdekatan dengan alam serta adat istiadat.

“Intinya, kami ingin menyampaikan cerita-cerita dari masyarakat adat yang selama ini terus bertahan mempertahankan tanah dan kebudayaan di tengah modernitas,” ujar Resti dalam kegiatan Zine Fest pada Minggu (13/07/2025).

Dengan medium zine Merawat Akar ini, Resti dan teman-teman ingin menunjukan bagaimana pentingnya tanah dan kebudayaan adat bagi mereka di pedalaman.

Zine ini sendiri merupakan kolaborasi dari tiga kabupaten yaitu Kapuas Hulu, Sintang dan Sanggau.

Resti yang berasal dari Kabupaten Sintang meceritakan soal rumah betang Ensaid Panjang yang telah dibangun kembali oleh pemerintah daerah.

“Saya menulis tentang Rumah Betang Ensaid Panjang di Sintang. Rumah ini sudah mengalami renovasi, tetapi sebenarnya renovasi itu bagian dari upaya masyarakat adat untuk bertahan,” jelasnya

Ia juga menambahkan bahwa saat ini Rumah Betang Ensaid Panjang jadi satu-satunya rumah adat yang masih di tinggali masyarakat.

“Saat ini, Rumah Betang Ensaid Panjang adalah satu-satunya rumah betang yang masih ditinggali masyarakat adat di Sintang,” tambahnya.

Sedangkan penulis kolaborasi dari Kabupaten Sanggau menulis tentang masyarakat adat Ta’e.

“Yang kedua, karya dari teman kami bernama Paris. Ia bercerita tentang Desa Adat Ta’e di Sanggau. Ceritanya lebih banyak lewat foto-foto, yang menggambarkan aktivitas masyarakat Ta’e menjaga hutan adat, termasuk komoditas utama seperti tengkawang dan hasil hutan lainnya, misalnya durian,” ujarnya.

Sedangkan yang dari Kabupaten Kapuas Hulu sendiri menggambarkan perjuangan masyarakat Dayak Taman Baloh mempertahankan tanah adatnya.

“Kalau merawat akar dari Kapuas Hulu menggambarkan perjuangan masyarakat Dayak Taman Baloh yang saat ini sedang menolak masuknya perusahaan sawit. Mereka berusaha menjaga sungai, hutan, serta keberlangsungan hidup masyarakat adat di sana,” jelas Resti.

Ia berharap dengan publikasi zine ini secara gratis makin banyak orang khususnya anak muda yang “melek” dengan isu-isu masyarakat adat yang ada di Kalbar saat ini.

Penulis: Meriyanti

Komentar
Bagikan:

Iklan