Beting: Membaca Ulang Wajah Islam di Tengah Stigma
Oleh: Alif Fani Pertiwi, S.E
Sebagai warga Pontianak Timur yang tumbuh tak jauh dari Kampung Beting, saya melihat sendiri bagaimana tempat ini memuat dua wajah: sejarah yang agung, dan stigma yang menyakitkan.
Waktu kecil dulu, saya sering mengayuh sepeda ke sana hanya untuk melihat keraton tua dan Masjid Jami yang berdiri anggun di tepi Sungai Kapuas. Sebagai anak yang senang sejarah, saya merasa takjub. Rasanya seperti masuk ke lorong waktu, menyaksikan sisa kejayaan Islam dan budaya Melayu yang hidup di antara rumah-rumah panggung dan suara azan yang mengalir bersama arus sungai, menggetarkan hati siapa pun yang duduk diam di tepiannya.
Tapi kenangan itu tak sepenuhnya manis. Ada satu kenyataan pahit yang terus menyelimuti nama Beting: stigma sebagai kampung narkoba.
Bagi sebagian orang, menyebut “Beting” langsung memunculkan bayangan kriminalitas dan ketakutan. Kampung ini pernah dijuluki “Texas-nya Pontianak” karena maraknya peredaran narkoba. Julukan “zona merah” pun lekat, seolah tidak ada ruang untuk harapan.
Stigma itu sebenarnya tidak muncul begitu saja. Ia lahir karena ada yang keliru dalam cara kita mengelola kehidupan sosial. Ketika nilai-nilai agama mulai ditinggalkan, disaat itulah akan lahir berbagai kerusakan.
Perubahan mulai terlihat sejak 2016. Pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR bersama Pemkot Pontianak dan warga setempat memulai proyek revitalisasi. Rumah-rumah yang dulu membelakangi sungai diorientasikan kembali menghadap ke air. Jalur pedestrian dibangun, sanitasi diperbaiki, lingkungan kampung dirapikan secara menyeluruh. Kampung yang dulunya sempit dan pengap mulai terbuka dan tertata.
Puncaknya, Presiden Joko Widodo memuji Kampung Beting sebagai kawasan waterfront terbaik saat kunjungannya pada 2019. Sebuah pengakuan nasional untuk kampung yang dulu dianggap gelap. Ini bukan sekadar kebanggaan fisik, tapi pesan bahwa Beting bisa berubah.
Namun bagi saya, revitalisasi sejati bukan sekadar mengecat rumah atau membangun jalur wisata. Revitalisasi harus menyentuh jiwa masyarakatnya. Dan di sinilah saya percaya: Islam bisa kembali menjadi cahaya utama bagi Beting.
Mengapa saya yakin begitu?
Karena Beting bukan sekadar kampung nelayan. Ia adalah kampung warisan Islam. Di sanalah berdiri Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie yang dibangun tahun 1771, dan menjadi pusat awal Kesultanan Pontianak. Kesultanan yang menjalankan kekuasaan berlandaskan syariat Islam. Tak jauh dari situ, berdiri Keraton Kadriyah Pontianak, rumah sejarah yang mencerminkan bagaimana Islam pernah menjadi tulang punggung peradaban di daerah ini.
Dulu, Islam di Beting bukan hanya simbol. Ia mengalir dalam keseharian kita, dalam cerita orang tua, dalam cara orang kampung bermusyawarah, dalam cara anak-anak tumbuh. Kini, semua itu perlahan memudar.
Namun saya percaya, warisan itu belum padam. Ia hanya meredup, menunggu untuk dinyalakan oleh generasi yang siap menjemputnya.
Islam bisa hadir kembali: bukan dengan menghakimi, tapi dengan menghidupkan. Ia hadir lewat taman-taman Al-Qur’an yang tumbuh di lorong-lorong kampung, lewat koperasi syariah dan pelatihan keterampilan yang membekali masyarakat dengan cara hidup yang halal dan berdaya.
Bukan Islam yang hanya terdengar lantang dari mimbar, tapi yang hidup di dapur-dapur rumah, di jalan kecil yang sunyi, di mushala sederhana, di pinggiran sungai dan dalam keputusan-keputusan masyarakat sehari-hari.
Islam yang tak sekadar menegur, tapi membimbing. Tak hanya mengingatkan, tapi juga menuntun agar hidup ini lebih tertata, lebih bermartabat, dan senantiasa berpijak pada syariat.
Beting kini berada di simpang jalan: antara terus dibayangi oleh masa lalu, atau menjemput cahaya sejarahnya sendiri.
Sebagai seseorang yang pernah mengayuh sepeda kecil ke sana, saya ingin melihat Beting bangkit. Bukan hanya bangkit secara fisik, tapi secara ruhani. Saya ingin melihat masjid tua itu tak hanya menjadi objek wisata, tapi kembali jadi pusat ilmu dan peradaban. Saya ingin anak-anak kampung itu tumbuh dengan rasa bangga bahwa mereka tinggal di tempat yang dahulu pernah memancarkan cahaya Islam di tepi sungai Kapuas.
Dan saya yakin, Beting bisa sampai ke sana dengan syarat: kita berhenti menatapnya sebagai “kampung narkoba”, dan mulai melihatnya sebagai kampung yang pernah menjadi pusat cahaya Islam.
Hanya Islam, melalui rahmat, adab, ilmu, dan pembinaan yang bisa mengembalikan ruh kampung ini.
Islam yang membina, bukan sekadar mengingatkan.
Islam yang menguatkan, bukan menghakimi. Islam yang hidup di lorong-lorong, bukan hanya di menara masjid.
Mari kita baca ulang Beting.
Bukan sebagai tempat yang ditinggalkan sejarah, tetapi sebagai tempat di mana cahaya Islam pernah menyinari, dan masih bisa dihidupkan kembali, jika kita bersedia menyalakannya bersama.
*Penulis Aktivis Muslimah Kalimantan Barat
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






