CEA Francis Sudah Lama Teliti Uranium di Melawi, Kadar Uranium Tinggi Diduga Sudah Raib
Melawi (Suara Kalbar) – Kabupaten Melawi, Provinsi Kalbar kembali heboh. Lantaran menyimpan potensi Uranium yang cukup besar, sebagai cadangan bahan baku Nuklir bagi Indonesia.
Berdasarkan Atlas Geologi Sumber Daya Mineral dan Energi Kalimantan Barat dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) Tahun 2025-2034, ada potensi uranium kurang lebih 24.112 ton di Kabupaten Melawi.
Dikalangan masyarakat Kabupaten Melawi, kabar terkait adanya potensi Uranium di daerah Kalan bukanlah hal yang baru.
Bahkan, sejumlah masyarakat Nanga Kalan pernah menjadi pekerja dalam kegiatan aktivitas Ekplorasi Uranium yang kabarnya telah dimulai sekitar tahun 1973.
Santer terdengar lembaga atom asing dari tiga Negara telah melakukan eksplorasi di lokasi Kalan kala itu yakni CEA (Francis), PNC (Jepang) dan BRG (Jerman)
Informasi yang dihimpun Jurnalis Suarakalbar.co.id, dari berbagai sumber, Negara Francis melalui Komisariat Energi Atom Prancis (CEA)/
Commissariat à l’énergie atomique et aux énergies alternatives) yang lebih intens melakukan aktivitas Eksplorasi Uranium di Kalan tersebut.
Bahkan, CEA dan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan ) dikabarkan melakukan kerjasama resmi antar dua negara (FRANCIS-INDONESIA) terkait penelitian Uranium di Kalbar yang berlangsung sejak tahun 1969-1977.
“Dulu orang orang dari Francis ramai masuk ke Kalan jumlahnya sekitar 20 an orang. Mereka meneliti batuan yang diambil disalah satu bukit disini, itu sekitar tahun 70 an, ” ungkap, Alamsyah seorang pekerja yang pernah ikut dalam kegiatan CEA dan BATAN di lokasi Kalan, Sabtu (28/6/2025).
Alamsyah menceritakan, bahwa dirinya sudah mulai ikut kerja sejak tahun 1976. Dan dirinya membenarkan bahwa kehadiran orang CEA Francis ke Kalan menjadi bukti bahwa potensi mineral tambang di Kabupaten Melawi menjadi lirikan negara asing.
Menurutnya tidak menutup kemungkinan sudah ada sampel bebatuan Kalan yang dibawa keluar Negeri untuk dilakukan penelitian oleh pihak FRANCIS.
“Setelah kontrak penelitian CEA dan BATAN berakhir, kegiatan penelitian dilanjutkan sepenuhnya oleh pihak BATAN sekitar tahun 1980,” beber Alamsyah.
Diungkapkan nya bahwa untuk masuk kelokasi BATAN tidaklah mudah, karena lokasinya yang cukup jauh dan perbukitan. Selama bekerja bertahun tahun disana, ia mengaku banyak pengalaman yang didapat, terutama berkaitan tentang ilmu tambang.
“Dinding terowongan remaja yang terbuat dari kayu, itu saya yang kerjakan. Kerja disana sangat ekstra, ” kenangnya.
Terowongan Eko Remaja, juga dikenal sebagai terowongan Eksplorasi uranium remaja Kalan (TEURK) yang terletak di daerah Kalan dan dibangun pada tahun 1980 sebagai bagian dari penelitian dan eksplorasi cebakan uranium di Indonesia.
Penulis: Dea Kusumah Wardhana






