SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda News Headline Dari yang Sempat Di kira Band Jogja, Ini Perjalanan Manjakani Hingga Tampil di Java Jazz Festival

Dari yang Sempat Di kira Band Jogja, Ini Perjalanan Manjakani Hingga Tampil di Java Jazz Festival

Manjakani usai tampil di panggung Java Jazz Festival. [SUARAKALBAR.CO.ID/Istimewa]

Pontianak (Suara Kalbar)- Terbentuk sejak satu dekade yang lalu tepatnya 2015, Duo Manjakani, Muhammad Taufan (gitar) dan Nabila Syafani (vokal), yang merupakan musisi asal Pontianak, Kalimantan Barat berhasil menjejaki festival bergengsi Indonesia, Java Jazz Festival pada 30 Mei lalu di Jakarta.

Tentunya 10 tahun bukan waktu yang singkat, diperlukan tekat dan semangat yang kuat untuk terus berkarya dan Manjakani berhasil membuktikan itu.

Taufan mengaku memulai duo Manjakani ini dari 2015 bersama Nabilla, kekasihnya yang sama-sama berasal dari Kampus Seni. Tujuannya saat itu sederhana, mereka ingin membuat sebuah lagu yang mereka bisa dengarkan hingga nanti.

“Jadi memang musik itu hal yang dekat dengan kita, keinginan kita sebenarnya sederhana, kita pengen punya lagu sendiri,” kenang Taufan saat ditemui pada Senin (23/06/2025).

Tanpa berekspektasi akan menjadi musisi yang besar. Ia dan kekasihnya membuat dengan format duo, agar lebih mudah memanajemen Manjakani.

“Kalo kita bikin format Band kan ramai ya, jadi banyak kepala, banyak pemikiran, banyak tantangan ya, jadi kita buat buat berdua saja, dengan musik yang sederhana,” tambahnya.

Seiring berjalannya waktu, Manjakani yang awalnya terbentuk tanpa ekspektasi apapun kini memiliki tujuan baru yaitu untuk terus bermusik hingga tua nanti. Mereka ingin anak dan cucu mereka bisa mendengarkan lagu-lagu yang dibuat oleh Manjakani.

“Dan semakin kesini, tujuan kita tuh berubah, kita pengen bisa main musik sampai tua nanti, sampai ke anak-anak dan cucu kita,” ujarnya.

Tanpa mereka sadari, Pelantun “Sabda Rindu” ini menjelma menjadi duo yang disukai publik. Lagunya yang khas dan enak didengar mendatangkan banyak tawaran panggung dari mulai skena lokal hingga nasional. Di Kalimantan Barat sendiri manjakani pernah tampil di beberapa daerah seperti Ketapang, Sanggau, Bengkayang dan beberapa Kabupaten lainnya.

Taufan mengaku panggung pertama Manjakani di luar Kalimantan Barat adalah di Jogja, saat itu ternyata pihak panitia event menyangka bahwa Manjakani adalah duo yang berasal dari Jogja, bukan dari Pontianak. Saat itu, sebagai sebuah duo yang baru terbentuk, bisa tampil di luar Pontianak adalah kesempatan yang sayang jika dilewatkan, sehingga manjakani mencari berbagai sponsor yang bisa memberangkatkan mereka ke Jogja.

“Waktu itu kita dikira band Jogja, jadi fee yang dikasi itu terbatas, tapi karena kita band baru, kita perlu panggung, akhirnya kita berusaha cari sponsor dari teman-teman yang punya usaha buat bisa berangkat kesana,” kenangnya.

Kesempatan tampil di Jogja tersebut membuka banyak kesempatan lain bagi Manjakani untuk tampil di panggung lain di luar Pontianak, seperti Jakarta, Bali, Malang, Medan hingga Lampung.

Selama manggung banyak moment yang dilewati Manjakani mulai dari yang bahagia, haru, lucu, tak terduga, bahkan sedih. Salah satunya cerita ketika mereka tampil di salah satu panggung di Pontianak.

“Waktu itu, selesai turun panggung Nabilla nangis, kita memang tampil sebelum sebuah band besar yang ditunggu-tunggu, ternyata ada panitia yang ngomong cepat naik gitu, yang ditunggu bukan kalian, tentu jadi sedih dong,” ujarnya

Taufan mengaku sempat kesal, karena merasa tidak dihargai sebagai musisi yang mengisi panggung tersebut, akan tetapi ia mengaku tidak mengambil hati perlakuan itu.

“Alhamdullilah-nya aku bukan orang yang pendendam,” tuturnya.

Ada lagi ketika hendak tampil, gitar yang akan digunakan untuk manggung tiba-tiba rusak ditimpa sebuah speaker beberapa menit sebelum naik ke panggung.

“Itu kaget banget, kok bisa speaker jatuh dan langsung pas kena ke gitar kita, akhirnya kita ngga jadi tampil karena pas itu panggungnya juga kolektifan gitu,” ujarnya.

Taufan berujar masih banyak lagi momen-momen yang seru selama Manjakani tampil, dan ia bersyukur masih bisa manggung sampai hari ini.

Sebagai musisi asli Kalimantan Barat, tentunya Taufan menyadari perbedaan antara panggung lokal dan panggung di luar Kalbar. Hal yang paling terasa adalah tingkat apresiasinya. Ia menurutnya panggung di luar, khususnya pulau Jawa sangat mengapresiasi musisi, siapapun itu.

“Di luar kota itu, kayak Jakarta apresiasi terhadap musisi itu sangat tinggi, orang-orang juga rasanya lebih effort nonton Manjakani, ada yang datang dari kota yang cukup jauh dari panggung, lalu bawa tas gitu buat di tanda tangan sama kita,” jelasnya.

“Mereka mungkin belum pernah dengar atau ngga tau sama sekali Manjakani, tapi mereka dengar, mengapresiasi dan selesai manggung biasanya ngajak ngobrol atau foto,” tambahnya

Sebagai musisi, apresiasi dari penggemar sangat berharga dan memberikan semangat untuk terus membuat karya yang lebih baik.

“Itu sangat berharga dan berkesan buat kita, karena jujur sampai sekarang tuh ternyata ada ya dan banyak yang suka sama lagu-lagu kita,” kenangnya.

Meskipun begitu, beberapa tahun belakangan Taufan menyadari bahwa apresiasi terhadap musisi lokal Pontianak mulai tumbuh, publik mulai menyadari bahwa musisi lokal pun tidak kalah keren dari musisi luar.

“Kita yang dari 2015 menyaksikan apresiasi itu mulai tumbuh dari penonton Pontianak, udah mulai asik juga apresiasinya, udah mulai hafal lagu-lagunya, beli merchandise band tersebut ” tuturnya.

Hal ini, menurutnya, terjadi karena semakin banyak pelaku musik di Kalimantan Barat yang produktif dan mampu memanfaatkan media sosial sebagai sarana branding sekaligus promosi karya mereka. Hal ini begitu membuatnya mengapresiasi dan turut bangga dengan musisi lokal yang semakin variatif dalam bermusik.

“Kalau saya sih sebagai orang Pontianak, saya bangga, karena makin banyak musisi dan band yang makin bagus, makin variatif jenis musiknya, jadi teman-teman di Pontianak pun lebih banyak sama pilihan genrenya, dan ini jadi semangat juga buat kita,” jelas Taufan.

Rencananya Manjakani akan merilis album kedua yang berkisah tentang keluarga dan anak yang akan rilis tahun ini. Manjakani berharap setelah merilis album kedua, mereka dapat tampil di panggung-panggung yang lebih meriah lagi. Selain itu mereka berharap kedepannya dapat membuat Showcase spesial Manjakani.

“Kita berharapnya kedepan bisa bikin showcase sendiri, karena dari album pertama itu lagi Covid-19, jadi harapannya setelah album kedua keluar kita bisa bikin showcase,”

Selain itu Taufan berharap, duo yang ia bentuk bersama istrinya ini dapat terus bertahan lama, hingga mereka tua dan dapat meneruskan lagu-lagu Manjakani hingga ke anak-cucunya. Ia juga berharap Manjakani dapat terus berkarya dan memberikan kebahagiaan lewat musik kepada penggemar.

Penulis: Meriyanti

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan