SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Daerah Mempawah Idap Penyakit Langka, Hanif Al-Fathan di Mempawah Butuh Uluran Tangan Para Dermawan

Idap Penyakit Langka, Hanif Al-Fathan di Mempawah Butuh Uluran Tangan Para Dermawan

Hanif Al-Fathan di ruang perawatan RSUD dr Rubini yang baru dilahirkan pada 13 November lalu, menderita berbagai penyakit langka dan butuh uluran dermawan untuk menjalani operasi. (Foto. Suara Kalbar/Dian Sastra)

Mempawah (Suara Mempawah) – Cobaan demi cobaan terus
menghampiri keluarga Muhammad Adi (34 tahun) dan Umi Kalsum (23 tahun), warga Jalan
Panca Bhakti, Desa Pasir Panjang, Kecamatan Mempawah Timur, Kabupaten Mempawah.

Belum sempat memberikan perawatan kepada anaknya Nur Latifah
(4 tahun), yang menderita pembengkakan usus–lantaran keterbatasan
ekonomi–kini keluarga yang menempati rumah berdinding papan tersebut didera
dengan permasalahan yang lebih berat lagi.

Itu karena anak keduanya, Hanif Al-Fathan, yang baru
dilahirkan pada 13 November lalu, di Puskesmas Antibar, kini didiagnosa bayi
cukup bulan dengan memiliki sejumlah penyakit langka yang berat.

Diantaranya: infeksi darah (sepsis neonatorum), kemungkinan
hirschsprung atau penyakit langka yang menyebabkan bayi tidak bisa buang air
besar (BAB) sejak lahir.

Selain itu, Hanif juga dimungkinkan mengidap penyakit
jantung bawaan, pendarahan pada saluran cerna, hingga mengidap down syndrome
atau kelainan genetik yang menyebabkan penderitanya memiliki tingkat kecerdasan
yang rendah, dan kelainan fisik yang khas.

Ditemui suarakalbar.co.id di kediamannya, Muhammad Adi yang
kala itu didampingi istrinya Umi Kalsum menceritakan, kelainan pada kondisi
putra kesayangannya itu setelah seminggu dilahirkan. Dimana anaknya mendadak
demam, namun kemudian badan sang bocah berubah membiru dan kuning.

“Mamaknya kira ini hanya demam biasa, tapi kemudian
badannya biru dan kuning. Habis itu demamnya makin tinggi. Kami bawa lah ke
Rumah Sakit Rubini (RSUD Mempawah). Namun selama 2-3 hari dan hingga sampai
sekarang tidak ada perubahan,” katanya.

Sejak awal, sambung Adi, kondisi putranya terlihat susah
bernafas, perutnya kembung. Namun pada saat pertama di-rontgen, bagian dalamnya
tidak menunjukkan apa-apa. Namun kondisinya yang berubah menjadi biru dan
kuning terus saja mengkhawatirkan.

“Namun pas hasil diagnosisnya keluar, penyakitnya
banyak, bukan hanya satu,” kata Adi yang terlihat badannya melemah, dengan
mata berkaca-kaca.

Dengan suara datar, Adi melanjutkan, sejak itu pihak RSUD
Rubini menyarakan agar segera Hanif segera dirujuk ke rumah sakit yang lebih
baik penanganannya. Sebab di Rubini sendiri tidak memiliki kelengkapan alat,
untuk menjalani operasi bedah dan sebagainya. Sehingga dikhawatirkan kondisi
bayi semakin memburuk.

“Pihak rumah sakit yang bantu carikan rumah sakit,
ditelponlah satu-satu, Abdul Aziz Singkawang, Soedarso Pontianak, Promedika,
Antonius, Graha Bunda. Kalau di Singkawang ada alatnya, tapi penuh, kemarin
saya sudah memohon-mohon diberikan satu ruangan untuk anak saya, cuman katanya
sudah penuh. Telpon ke Soedarso, tutup pula sekarang ruangan bayinya. Satu-satunya
jalan ya ke Antonius,” katanya.

Mendengar nama Rumah Sakit Antonius, Adi langsung lunglai.
Sebab ia tak memiliki uang sepeserpun untuk membawa sang anak berobat.

“Pertama kami memikirkan biayanya. Saya atau siapapun,
pasti tidak mau anaknya ada apa-apa. Kami sudah berusaha, istri saya juga sudah
banyak korban ke sana kemari, karena sayang kami sama anak. Sementara saya
hanya tukang bangunan, yang kadang ada kerjaan, kadang tidak,” katanya.

Untuk itu, Adi mengatakan pihaknya sangat memohon bantuan,
khususnya berupa uang dari semua pihak, baik pemerintah maupun swasta, agar
sudi membantu perawatan buah hatinya hingga sembuh.

“Sebenarnya anak kami hari ini sudah harus dioperasi,
cuman bagaimana lah, biayanya tidak ada. Kalau di Rubini kaki pakai BPJS, tapi
ini kan rumah sakit swasta,” ujarnya.

Sejauh ini, kata Adi, dari pihak keluarga terus memberikan
dukungan dan bantuan, namun dengan keterbatasan masing-masing, bantuan tersebut
masih jauh dari kata kurang. Bahkan untuk membayar uang masuk dan obat awal,
apalagi operasi dan lainnya.

“Jadi saya, dari orangtuanya, sangat memohon sekali
kepada siapa saja, bantulah saya, bantulah saya, tolong anak kami,” kata
Adi.

 

Penulis: Akbar AB

Komentar
Bagikan:

Iklan