Sudah Siapkah Indonesia Hidup Tanpa Uang Tunai?
SuaraKalbar – Nefce Beltica Sari mulai awam dengan transaksi nontunai saat berkuliah di Kota Bandar Lampung empat tahun lalu. Saat itu, ia kerap berbelanja secara online dan menggunakan layanan ojek daring.
Akan tetapi, sejak kembali ke Desa Fajar Bulan, Kabupaten Lampung Barat, pertengahan tahun ini, Beltica, yang kini berprofesi sebagai guru matematika SMP, kembali melakukan transaksi secara tunai. Pasalnya, meskipun jaringan internet di kampung halamannya cukup memadai, warga setempat masih asing dengan gagasan transaksi nontunai, alias cashless.
“Pembayaran di toko-toko kalau di sekitar sini belum ada yang menyediakan transaksi nontunai,” katanya.
“Soalnya di sini masih minim pengetahuan tentang nontunai. Yang punya ATM aja bahkan sedikit banget.”
Tantangan Menciptakan Cashless Society di Indonesia
Menurut laporan Status Literasi Digital Indonesia yang disusun oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Katadata Insight Center tahun 2020, indeks informasi dan literasi data di Provinsi Lampung termasuk yang terendah, bahkan lebih rendah dari indeks rata-rata nasional. Sementara indeks kemampuan teknologi warga Lampung hanya lebih baik dari Provinsi Kalimantan Selatan, di antara 34 provinsi yang disurvei.
Literasi keuangan masyarakat pun masih tergolong rendah. Menurut Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNKLK) tahun 2022 oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), indeks literasi keuangan di Indonesia baru mencapai 50%, meskipun inklusi keuangannya sudah mencapai 85%.
Padahal, literasi digital dan keuangan merupakan kunci terciptanya masyarakat nontunai, alias cashless society, kata Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi.
“Transaksi digital atau cashless itu memerlukan literasi yang baik dari masyarakat.”
Transaksi nontunai sudah digalakkan pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) dengan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) sejak 2014. Tujuannya untuk menciptakan sistem pembayaran yang “aman, efisien dan lancar” untuk mendorong efektivitas dan efisiensi sistem keuangan nasional, demikian kata situs web Bank Indonesia. GNNT bahkan disebut sebagai program pembentuk ekosistem cashless society.
Belakangan, Bank Indonesia juga mengampanyekan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard), yaitu standarisasi pembayaran berbasis QR Code, sebagai salah satu cara bertransaksi nontunai.
“Di Jakarta sudah QRIS sebagian besar, sampai tukang cilor pinggir jalan, bakso, warteg dan lain-lain,” ungkap Enda Tarigan, pegawai swasta di ibu kota, beberapa saat lalu. “Memang senyaman itu sih buat saya.”
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






